Chapter 9
Sementara itu, Glad pergi ke
kantor Kakaknya.
“Kak, bantuin bilang ke Mommy
sama Daddy, ya.” Rengek Glad manja.
“Tapi, de, kamu bakalan lama
perginya. Di tambah kamu udah sering bolak-balik Irlandia-Spanyol-Italia.
Sekarang Kakak harus kasih alasan apalagi ke Mommy sama Daddy.” Jelas Leon.
“Please, Kak, Cuma dua bulan
kok. Nggak akan lebih dari segitu, Glad juga janji bakalan hati-hati. Beneran
deh, nggak bohong.” Ucapku.
“Iya, udah. Kakak bantuin
bilang ke Mommy sama Daddy. Tapi, sampai kapan kamu mau menyembunyikan semua
ini, de? Lambat laun Mommy sama Daddy pasti bakalan tau.” Ucap Leon.
“Glad pasti bilang, Kak.
Tapi nggak sekarang-sekarang.” Tukas Glad.
“Tapi janji, ya. Bakalan
cerita ke Mommy sama Daddy.” Leon memperingatkan.
“Iya, Kak.” Jawabku sambil
menganggukkan kepala.
“Eh, kapan berangkatnya?”
Leon bertanya.
“Besok pagi-pagi banget,
Kak. Atau sekarang Kakak bilang sama Daddy aja. Aku mau pulang mau
packing-packing.”
“Iya, iya… Hati-hati
pulangnya. Jangan ngebut-ngebut, ya.”
“Oke, Boss.” Ucapku seraya menuju ke pintu.
“Eh, tunggu dulu. Nggak akan
kasih Kakak ciuman nih?” Goda Leon.
“No way, minta Clariss aja
sana. Norak banget sih Kak Leon. Bye.” Ucapku sambil melambaikan tangan pada
Kakak dan buru-buru keluar dari ruangannya.
Dari kantor Kakaknya Glad
langsung pulang. Dan langsung packing sesampainya di rumah. Karena keasyikan
packing Glad jadi lupa sama handphone kesayangannya yang udah low battery
karena terus-terusan di teleponin. Dan setelah selesai Glad langsung tidur
dambil mendengarkan music menggunakan headset. Makanya waktu Mommy’nya bangunin
karena ada telepon Glad nggak bisa dengar. Apalagi Glad kelihatan kecapean.
Sementara itu di rumah
sakit. Clariss dan keempat cowok tampan itu bergantian mengubungi Glad. Tapi
tetap saja susah di hubungi. Sekalinya bisa di hubungin ke rumah Glad sudah
tidur. Akhirnya Clariss menelepon Leon dan memintanya untuk datang ke rumah
sakit.
Di ruangan tempat Mark di
rawat…
“Mark kenapa lagi?” Tanya
Leon ketika sudah berada di sana.
“Mark drop lagi, pasca
menerima liontin dari Glad, Kak.” Jelas Clariss.
“Liontin apaan?” Tanya Leon
bingung.
“Justru itu, Kak, kita nggak
tau. Soalnya abis nerima kotak itu Mark langsung kayak yang kesakitan banget.”
Nicky menjelaskan.
“Glad harus tau, Kak.”
Timpal Brian.
“Iya, tapi besok pagi-pagi
dia harus pergi ke Spanyol.” Jelas Leon.
“Lho, bukannya bulan depan,
Kak?” Tanya Kian.
“Iya, tapi Glad mesti uji
coba dulu disana. Aku usahakan buat kasih tau dia, ya.” Ucap Leon.
Keesokkan harinya, Leon yang
mengantarkan Glad sampai bandara, sepanjang perjalanan Leon hanya diam, nggak
berani cerita tentang keadaan Mark saat ini, apalagi adik tersayangnya itu
terlihat sangat ceria. Wajah cantiknya
selalu dihiasi oleh senyuman, dan Leon nggak mau lihat senyuman itu hilang dan
berubah jadi air mata. Makanya Leon lebih m emilih untuk diam, sampai Glad
masuk kedalam pesawatnya.
“Maaf, de, Kakak bukannya
nggak mau kasih tau kamu tentang keadaan Mark. Karena kakak pengen liat
senyuman itu, de. Kakak nggak mau liat senyuman kamu itu berubah menjadi air
mata. Karena Kakak betul-betul sakit melihat kamu menangis.” Ucapnya pada diri
sendiri.
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan
akhirnya Glad sampai juga di Montmelo Spanyol.
Setelah menyimpan semua
barang-barangnya di hotel Glad langsung menuju ke sirkuit Catalunya. Jumlah
tikungan di sirkuit ini ada 13 dan memiliki panjang 4.727 km. Sirkuit Catalunya
yang memiliki panjang lintasan 4.727 km,
lebar lintasa 12 m, track lurus terpanjang 1.047 m, tikungan kanan 8 dan
tikungan kiri 5. Sirkuit Catalunya memiliki karakter yang cepat, dan menjadi
salah satu sirkuit favorit Glad. Ternyata bukan hanya Glad yang melakukan test
drive disana, tetapi banyak juga pembalap yang berasal dari Negara lain. Namun,
Glad di kagetkan oleh sosok yang betul-betul di kenalnya berada di salah satu
pit lane. Sosok itu menggunakan pakaian khusus untuk balapan dan membawa helm
yang sama persis dengan helm milik Vanno.
Rasa penasaran yang besar
membawa kaki Glad menuju ke pit lane cowok tersebut. Dan betapa kagetnya ia
ketika melihat seseorang yang ada di dalam sana. Yup, Glad melihat Lee memakai
pakaian untuk balapan lengkap.
“L… Lee…” aku berseru.
Lee pun kaget melihatku yang
tiba-tiba muncul disitu.
“G… Glad…” jawabnya dengan
wajah yang sangat kaget sekali.
“Kamu ngapain di sini?
Kenapa kamu pakai baju balap dan… dan kenapa helm milik Kak Vanno ada sama
kamu?” aku langsung saja mengajukan berbagai pertanyaan padanya.
“Glad… sepertinya kamu
memang sudah saatnya tau yang sebenarnya. Aku bukan Lee.” Ucapnya.
“APA! Jangan bilang kalau
kamu itu Kak Vanno. Jangan bilang itu sama aku.” Ucapku dengan suara yang
meninggi.
Aku merasakan kedua mataku
mulai memanas. Air matakku mulai meleleh dipipi, menunggu jawaban dari Lee.
Berharap dia memberikan jawaban yang mengatakan bahwa dia bukan Vanno.
“Maaf, Glad, sayangnya
dugaan kamu benar. Aku Vanno.” Ucapnya.
“Nggak… nggak mungkin. Kak
Vanno udah meninggal setahun yang lalu. Dia meninggal di depan mata aku
sendiri, jadi mana mungkin. Semuanya nggak mungkin…” ucapku mulai terisak.
Tiba-tiba Kak Vanno
memelukku erat. “Maafin aku, Glad. aku terpaksa harus bohong sama, karena aku
nggak mau bikin kamu lebih menderita lagi karena aku.” Jelasnya.
“NGGAK MUNGKIN…” ucapku
sambil berteriak dan melepaskan pelukannya lalu pergi dari tempat itu.
Sambil berlari menjauhi
tempat itu sayup-sayup aku mendengar suara Lee atau Kak Vanno, entahlah aku
harus memanggilnya apa sekarang, mengejar dan memanggi-manggil namaku. Mike
kaget melihatku kembali ke pit lane sambil menangis.
“Glad, kamu kenapa?”
tanyanya khawatir.
“Mike, Vanno… Vanno ternyata
masih hidup.” Ucapku dengan suara tertahan.
“Apa? Nggak mungkin Glad.”
jawab Mike.
“Awalnya aku sempat mengira
bahwa Vanno masih hidup, karena di kampus tiba-tiba ada cowok yang wajahnya
mirip sama Vanno. Namanya Lee dia juga suka banget naik motor sport. Kami berdua cukup dekat dan
hari ini aku liat dia ada disini, Mike. Memakai pakaian balap yang lengakap dan
helm milik Vanno ada sama dia. Akhrinya Lee mengaku bahwa sebenarnya dia itu
adalah Vanno, bukan Lee, Mike.” Jelasku dengan suara yang terbata-bata.
“Ya Tuhan…” ucap Mike dengan
ekspresi wajah tak percaya.
Tiba-tiba Vanno datang ke
pit lane’nya Glad.
“Glad, tolong dengar dulu
penjelasan dari aku.” Ucapnya ketika melihatku.
“Kamu benar-benar Revanno
Adams?” Tanya Mike.
“Iya, Mike. Ini aku Vanno.
Maaf buat semuanya.” Ucapnya meminta maaf.
“Tapi kan waktu itu sudah
sangat jelas sekali bahwa tim medis menvonis kamu sudah meninggal.” Jelas Mike.
“Iya itu benar. Tapi ketika
di rumah sakit aku belum meninggal total Mike. Meskipun detak jantung aku
sempat berhenti, tapi otak aku masih bisa bekerja. Aku juga sempat sadar
meminta pada dokter dan keluarga buat merahasiakannya sebelum akhirnya aku
kembali mengalami koma yang sangat panjang.” Jelas Vanno.
“Kamu jahat, Kak. Kamu tega
udah bikin aku menderita dan merasa bersalah selama ini.” Ucap Glad.
“Bukan maksud aku buat bikin
kamu menderita Glad. Karena pada waktu itu dokter juga tidak tahu sampai kapan
aku bisa bertahan. Dan akhirnya aku di bawa ke Amerika buat menjalani perawatan
disana. Banyak sekali patah tulang yang aku alami dan butuh waktu yang sangat
lama buat memulihkan lagi semuanya. Sebelum akhirnya aku bisa benar-benar
seperti sekarang, aku sengaja mendaftar di tempat kamu kuliah dan mengambil
jurusan yang sama kayak kamu karena aku ingin dekat sama kamu, Glad.” Jelas
Vanno panjang lebar.
“Tapi tidak dengan
membohongi aku dan mengganti nama menjadi LEE.” Ucapku dengan nada agak
meninggi.
“Glad, aku benar-benar minta
maaf.” Ucap Vanno dengan lembut.
“Tolong tinggalin aku
sendiri. Aku butuh waktu untuk bisa menerima semua ini.” Ucapku sambil berbalik
membelakangi Vanno.
“Ayo, Vann. Kita keluar,
biarin Glad tenang dulu.” Ajak Mike.
Di luar pit lane…
“Glad pasti nggak mau maafin
aku Mike.” Vanno membuka suara.
“Ini semua pasti berat
banget, Vann. Dia pasti shock, marah, kesal, sedih pokoknya sekarang perasaan
dia lagi campur aduk, deh.” Timpal Mike.
“Oh iya, ngomong-ngomong kok
Glad bisa ada di sini?” Tanya Vanno.
“Glad sekarang jadi
pembalap, Vann.” Jawab Mike.
“Apa? Glad jadi pembalap?”
Vanno kaget mendengar ucapan Mike.
“Iya, dia jadi pembalap.
Glad punya potensi yang menjanjikan, skill dan tehnik yang di milikinya setara
sama kemampuan kamu, Vann. Bahkan berada di atas kamu,” Mike menjelaskan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar