Jumat, 21 Desember 2012

Chapter 9


Chapter 9

Sementara itu, Glad pergi ke kantor Kakaknya.
“Kak, bantuin bilang ke Mommy sama Daddy, ya.” Rengek Glad manja.
“Tapi, de, kamu bakalan lama perginya. Di tambah kamu udah sering bolak-balik Irlandia-Spanyol-Italia. Sekarang Kakak harus kasih alasan apalagi ke Mommy sama Daddy.” Jelas Leon.
“Please, Kak, Cuma dua bulan kok. Nggak akan lebih dari segitu, Glad juga janji bakalan hati-hati. Beneran deh, nggak bohong.” Ucapku.
“Iya, udah. Kakak bantuin bilang ke Mommy sama Daddy. Tapi, sampai kapan kamu mau menyembunyikan semua ini, de? Lambat laun Mommy sama Daddy pasti bakalan tau.” Ucap Leon.
“Glad pasti bilang, Kak. Tapi nggak sekarang-sekarang.” Tukas Glad.
“Tapi janji, ya. Bakalan cerita ke Mommy sama Daddy.” Leon memperingatkan.
“Iya, Kak.” Jawabku sambil menganggukkan kepala.
“Eh, kapan berangkatnya?” Leon bertanya.
“Besok pagi-pagi banget, Kak. Atau sekarang Kakak bilang sama Daddy aja. Aku mau pulang mau packing-packing.”
“Iya, iya… Hati-hati pulangnya. Jangan ngebut-ngebut, ya.”
 “Oke, Boss.” Ucapku seraya menuju ke pintu.
“Eh, tunggu dulu. Nggak akan kasih Kakak ciuman nih?” Goda Leon.
“No way, minta Clariss aja sana. Norak banget sih Kak Leon. Bye.” Ucapku sambil melambaikan tangan pada Kakak dan buru-buru keluar dari ruangannya.

Dari kantor Kakaknya Glad langsung pulang. Dan langsung packing sesampainya di rumah. Karena keasyikan packing Glad jadi lupa sama handphone kesayangannya yang udah low battery karena terus-terusan di teleponin. Dan setelah selesai Glad langsung tidur dambil mendengarkan music menggunakan headset. Makanya waktu Mommy’nya bangunin karena ada telepon Glad nggak bisa dengar. Apalagi Glad kelihatan kecapean.

Sementara itu di rumah sakit. Clariss dan keempat cowok tampan itu bergantian mengubungi Glad. Tapi tetap saja susah di hubungi. Sekalinya bisa di hubungin ke rumah Glad sudah tidur. Akhirnya Clariss menelepon Leon dan memintanya untuk datang ke rumah sakit.
Di ruangan tempat Mark di rawat…
“Mark kenapa lagi?” Tanya Leon ketika sudah berada di sana.
“Mark drop lagi, pasca menerima liontin dari Glad, Kak.” Jelas Clariss.
“Liontin apaan?” Tanya Leon bingung.
“Justru itu, Kak, kita nggak tau. Soalnya abis nerima kotak itu Mark langsung kayak yang kesakitan banget.” Nicky menjelaskan.
“Glad harus tau, Kak.” Timpal Brian.
“Iya, tapi besok pagi-pagi dia harus pergi ke Spanyol.” Jelas Leon.
“Lho, bukannya bulan depan, Kak?” Tanya Kian.
“Iya, tapi Glad mesti uji coba dulu disana. Aku usahakan buat kasih tau dia, ya.” Ucap Leon.
Keesokkan harinya, Leon yang mengantarkan Glad sampai bandara, sepanjang perjalanan Leon hanya diam, nggak berani cerita tentang keadaan Mark saat ini, apalagi adik tersayangnya itu terlihat  sangat ceria. Wajah cantiknya selalu dihiasi oleh senyuman, dan Leon nggak mau lihat senyuman itu hilang dan berubah jadi air mata. Makanya Leon lebih m emilih untuk diam, sampai Glad masuk kedalam pesawatnya.
“Maaf, de, Kakak bukannya nggak mau kasih tau kamu tentang keadaan Mark. Karena kakak pengen liat senyuman itu, de. Kakak nggak mau liat senyuman kamu itu berubah menjadi air mata. Karena Kakak betul-betul sakit melihat kamu menangis.” Ucapnya pada diri sendiri.
 Setelah perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya Glad sampai juga di Montmelo Spanyol.
Setelah menyimpan semua barang-barangnya di hotel Glad langsung menuju ke sirkuit Catalunya. Jumlah tikungan di sirkuit ini ada 13 dan memiliki panjang 4.727 km. Sirkuit Catalunya yang memiliki panjang lintasan  4.727 km, lebar lintasa 12 m, track lurus terpanjang 1.047 m, tikungan kanan 8 dan tikungan kiri 5. Sirkuit Catalunya memiliki karakter yang cepat, dan menjadi salah satu sirkuit favorit Glad. Ternyata bukan hanya Glad yang melakukan test drive disana, tetapi banyak juga pembalap yang berasal dari Negara lain. Namun, Glad di kagetkan oleh sosok yang betul-betul di kenalnya berada di salah satu pit lane. Sosok itu menggunakan pakaian khusus untuk balapan dan membawa helm yang sama persis dengan helm milik Vanno.
Rasa penasaran yang besar membawa kaki Glad menuju ke pit lane cowok tersebut. Dan betapa kagetnya ia ketika melihat seseorang yang ada di dalam sana. Yup, Glad melihat Lee memakai pakaian untuk balapan lengkap.
 “L… Lee…” aku berseru.
Lee pun kaget melihatku yang tiba-tiba muncul disitu.
“G… Glad…” jawabnya dengan wajah yang sangat kaget sekali.
“Kamu ngapain di sini? Kenapa kamu pakai baju balap dan… dan kenapa helm milik Kak Vanno ada sama kamu?” aku langsung saja mengajukan berbagai pertanyaan padanya.
“Glad… sepertinya kamu memang sudah saatnya tau yang sebenarnya. Aku bukan Lee.” Ucapnya.
“APA! Jangan bilang kalau kamu itu Kak Vanno. Jangan bilang itu sama aku.” Ucapku dengan suara yang meninggi.
Aku merasakan kedua mataku mulai memanas. Air matakku mulai meleleh dipipi, menunggu jawaban dari Lee. Berharap dia memberikan jawaban yang mengatakan bahwa dia bukan Vanno.
“Maaf, Glad, sayangnya dugaan kamu benar. Aku Vanno.” Ucapnya.
“Nggak… nggak mungkin. Kak Vanno udah meninggal setahun yang lalu. Dia meninggal di depan mata aku sendiri, jadi mana mungkin. Semuanya nggak mungkin…” ucapku mulai terisak.
Tiba-tiba Kak Vanno memelukku erat. “Maafin aku, Glad. aku terpaksa harus bohong sama, karena aku nggak mau bikin kamu lebih menderita lagi karena aku.” Jelasnya.
“NGGAK MUNGKIN…” ucapku sambil berteriak dan melepaskan pelukannya lalu pergi dari tempat itu.
Sambil berlari menjauhi tempat itu sayup-sayup aku mendengar suara Lee atau Kak Vanno, entahlah aku harus memanggilnya apa sekarang, mengejar dan memanggi-manggil namaku. Mike kaget melihatku kembali ke pit lane sambil menangis.
“Glad, kamu kenapa?” tanyanya khawatir.
“Mike, Vanno… Vanno ternyata masih hidup.” Ucapku dengan suara tertahan.
“Apa? Nggak mungkin Glad.” jawab Mike.
“Awalnya aku sempat mengira bahwa Vanno masih hidup, karena di kampus tiba-tiba ada cowok yang wajahnya mirip sama Vanno. Namanya Lee dia juga suka banget  naik motor sport. Kami berdua cukup dekat dan hari ini aku liat dia ada disini, Mike. Memakai pakaian balap yang lengakap dan helm milik Vanno ada sama dia. Akhrinya Lee mengaku bahwa sebenarnya dia itu adalah Vanno, bukan Lee, Mike.” Jelasku dengan suara yang terbata-bata.
“Ya Tuhan…” ucap Mike dengan ekspresi wajah tak percaya.
Tiba-tiba Vanno datang ke pit lane’nya Glad.
“Glad, tolong dengar dulu penjelasan dari aku.” Ucapnya ketika melihatku.
“Kamu benar-benar Revanno Adams?” Tanya Mike.
“Iya, Mike. Ini aku Vanno. Maaf buat semuanya.” Ucapnya meminta maaf.
“Tapi kan waktu itu sudah sangat jelas sekali bahwa tim medis menvonis kamu sudah meninggal.” Jelas Mike.
“Iya itu benar. Tapi ketika di rumah sakit aku belum meninggal total Mike. Meskipun detak jantung aku sempat berhenti, tapi otak aku masih bisa bekerja. Aku juga sempat sadar meminta pada dokter dan keluarga buat merahasiakannya sebelum akhirnya aku kembali mengalami koma yang sangat panjang.” Jelas Vanno.
“Kamu jahat, Kak. Kamu tega udah bikin aku menderita dan merasa bersalah selama ini.” Ucap Glad.
“Bukan maksud aku buat bikin kamu menderita Glad. Karena pada waktu itu dokter juga tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan. Dan akhirnya aku di bawa ke Amerika buat menjalani perawatan disana. Banyak sekali patah tulang yang aku alami dan butuh waktu yang sangat lama buat memulihkan lagi semuanya. Sebelum akhirnya aku bisa benar-benar seperti sekarang, aku sengaja mendaftar di tempat kamu kuliah dan mengambil jurusan yang sama kayak kamu karena aku ingin dekat sama kamu, Glad.” Jelas Vanno panjang lebar.
“Tapi tidak dengan membohongi aku dan mengganti nama menjadi LEE.” Ucapku dengan nada agak meninggi.
“Glad, aku benar-benar minta maaf.” Ucap Vanno dengan lembut.
“Tolong tinggalin aku sendiri. Aku butuh waktu untuk bisa menerima semua ini.” Ucapku sambil berbalik membelakangi Vanno.
“Ayo, Vann. Kita keluar, biarin Glad tenang dulu.” Ajak Mike.
Di luar pit lane…
“Glad pasti nggak mau maafin aku Mike.” Vanno membuka suara.
“Ini semua pasti berat banget, Vann. Dia pasti shock, marah, kesal, sedih pokoknya sekarang perasaan dia lagi campur aduk, deh.” Timpal Mike.
“Oh iya, ngomong-ngomong kok Glad bisa ada di sini?” Tanya Vanno.
“Glad sekarang jadi pembalap, Vann.” Jawab Mike.
“Apa? Glad jadi pembalap?” Vanno kaget mendengar ucapan Mike.
“Iya, dia jadi pembalap. Glad punya potensi yang menjanjikan, skill dan tehnik yang di milikinya setara sama kemampuan kamu, Vann. Bahkan berada di atas kamu,” Mike menjelaskan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar