Chapter 10
Vanno Cuma diam mendengar
penjelasan Mike. Dia nggak menyangka sama sekali bahwa gadis yang dicintainya
itu bisa tertarik dengan dunia balap yang penuh resiko.
“Apa Glad pernah mengalami
kecelakaan di lintasan?” Tanya Vanno.
“Pernah, dan kecelakaan itu
mematahkan tulang rusuknya. Yang tahu Glad jadi pembalap Cuma Leon, makanya
waktu tulang rusuknya patah Glad tidak mau menjalani perawatan di rumah sakit
dan tetap menjalani rutinitasnya seperti tidak terjadi apa-apa.” Jelas Mike.
“Ya Tuhan. Berarti Om Louis
sama Tante Mandy nggak tahu sama sekali tentang ini.” Timpalnya.
“Iya, dan sekarang kamu
harus bersaing dengannya di lintasan, Vann.”
“Bagaimana mungkin aku
harus bersaing dengan gadis yang aku
cintai.” Keluh Vanno.
Dan akhirnya uji coba pun
selesai. Dan Glad masih menghindari Vanno. Ia nggak mau bertemu Vanno. Karena
saat ini pikirannya benar-benar kacau sekali. Oh Tuhan, aku harus bagaimana
ini? Ternyata orang yang sempat menjadi masa laluku masih hidup. Dia hadir
ketika hati dan hari-hariku sudah terisi leh sosok lain. Mark, cowok yang udah
super duper sabar mau menerima kerasnya sifat aku. Dia tetap tersenyum manis
dan berkata lembut ketika aku memberinya senyuman sini dan kata-kata yang agak
kasar. Aku mengakui kalau saat ini aku benar-benar mencitai Mark, meskipun saat
ini Mark tidak mengingatku sedikitpun. Di lain ini aku juga masih menyimpan
perasaan sama Kak Vanno, tapi perasaan itu sudah berkurang dan tidak sebesar
perasaanku pada Mark saat ini.
“Mark gimana kabar kamu
sekarang? Aku betul-betul kangen sama kamu.”
“I can’t
sleep… I just can’t breathe…
When your
shadow is all over me… Baby…”
Sementara itu di Irlandia.
Keadaan Mark sudah membaik, dokter bilang amnesia yang di alami Mark sudah
sembuh. Dan tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi.
Di ruang perawatan Mark.
“Bri, Glad mana?” tanya
Mark.
“Glad lagi ada di Barcelona
buat ikut balapan, Mark.” Jawab Brian.
“Kamu tau dia menginap di
hotel apa?” tanyanya lagi.
“Nggak, Mark, yang tau Kak
Leon. Emang kenapa, Mark?” tanya Brian lagi.
“Aku mau ketemu Glad.” Jawab
Mark singkat.
Nicky, Shane dan Kian kaget
mendengar ucapan Mark itu.
“Hah, seriusan kamu, Mark?”
timpal Nicky.
“Aku serius, aku harus
ketemu Glad.” Jelas Mark.
“Tunggu Glad pulang aja,
Mark. Kamu kan masih perlu istirahat di sini buat beberapa hari lagi.” Sambung
Shane.
“Aku udah baik-baik aja,
kok. Yang aku butuhin sekarang Cuma Glad, nggak ada yang lain.”
“Kayaknya kamu ketularan
keras kepalanya Glad, ya. Jadi kapan rencananya kamu mau pergi buat nyusulin
Glad?” tanya Kian.
“Besok pagi, penerbangan paling
awal.” Jawab Mark mantap.
“Ya udah, biar kita bantuin
kamu buat siapin semuanya, ya. Kalau gitu sekarang kamu istirahat aja. Biar
kita yang urus segala sesuatunya.” Jelas Brian.
“Thanks guys, kalian
bener-bener sahabat terbaik aku. Aku nggak tau harus balas pakai apa kebaikan
kalian selama ini.”
“No problem, Mark.” Timpal Kian.
Dan malam itu Nicky, Shane,
Kian dan Brian sibuk mempersiapkan segala keperluan untuk Mark. Brian juga
sudah mendapatkan alamat hotel tempat Glad menginap selama di sana. Keesokkan
harinya Mark berangkat di antar oleh keempat sahabatnya.
“Hati-hati disana ya, Mark.
Kalau ada apa-apa langsung telepon kita ya.” Shane mengingatkan.
“Nanti kita bakalan susulin
kalian ke sana, kok.” Tambah Brian.
“Thanks, ya. Kalau gitu aku
pergi, ya.” Pamit Mark.
Mark pun masuk dan menuju ke
dalam pesawat yang akan membawanya ke tempat pujaan hatinya itu berada sekarang.
Di perkirakan Mark akan sampai di Barcelona pada sore hari.
Catalunya Circuit…
Tidak terasa race yang sesungguhnya akan segera dimulai. Dan Glad masih belum mau
menemui Vanno. Hingga saat mereka sudah berada di start line. Glad tidak menoleh sedikitpun pada Vanno. Dan itu
membuat Vanno benar-benar sangat merasa berasalah sekali pada Glad. Tapi Vanno
langsung lupa setelah ia menjalankan motornya di atas track, dia benar-benar
bersaing dengan Glad yang sekarang berada di posisi paling depan. Balapan
berakhir setelah 22 laps. Dan Vanno harus mengakui kemampuan Glad yang nggak
bisa di pandang sebelah mata. Glad berhasil mendapatkan podium pertama dan
Vanno di podium kedua.
Sebenarnya banyak sekali
media yang ingin mewawancarai Glad karena Glad menjadi wanita pertama yang
mengikuti kompetisi super bike. Apalagi ia berhasil menjuarai seri pertama ini.
Tapi Glad lebih memilih langsung pulang ke hotel untuk beristirahat dan untuk
menghindari Vanno. Setelah membersihkan diri Glad tiduran di kursi sambil
menonton TV. Tiba-tiba ia di kagetkan oleh suara ketukan di pintu kamarnya.
“Siapa, ya?” ucapku sambil
berjalan menuju pintu.
Aku pun membuka pintu kamar,
dan benar-benar kaget melihat sosok yang berdiri di depanku.
“Mark…” secara spontan aku
langsung memeluknya dengan erat.
“Aku kangen banget sama
kamu, Glad.” ucap Mark sambil balas memelukku sama eratnya.
“Mark, maafin aku. Maaf buat
semua sikap aku ke kamu selama ini. Aku…”
Mark memotong pembicaraanku,
“Sttt, udah, nggak usah di terusin. Aku nggap apa-apa kok, karena aku yakin
suatu hari kamu bakalan membuka pintu hati kamu buat aku.”
“Eh, ayo masuk.” Aku pun
tersadar dan melepaskan pelukankku dan mempersilakan Mark untuk masuk.
Lalu Mark pun masuk dan aku
membantunya membawakan barang-barang miliknya.
“Eh, kenapa bisa tau kalau
aku ada disini?” tanyaku.
“Dari Kak Leon, Glad. Pengen
ketemu kamu, apalagi setelah aku tau kalau kamu pergi buat balapan. Kau tau,
aku benar-benar khawatir.” Jawabnya dengan suara yang masih tetap lembut
seperti dulu.
“Mark…”
“Maaf, ya, karena aku udah
bikin kamu sedih.”
“Nggak kok, Mark. Aku nggak
apa-apa. Semua kejadian ini untuk melatih aku jadi orang yang lebih baik dari
sebelumnya, Mark. Karena aku yakin Tuhan punya sesuatu yang indah di balik
semua kejadian itu.” Ucapku sambil tersenyum.
Mark pun membalas senyumanku
lalu berkata, “Oh iya, Glad. Mungkin kamu udah bosan mendengarnya, tapi aku
tetap ingin dapetin jawaban yang pasti. Glad, kamu mau kan jadi pacar aku?”
Tanpa pikir panjang aku
langsung memeluknya, “Iya, Mark, aku mau jadi pacar kamu. Asal kamu tau selama
ini aku memendam dalam-dalam semua perasaan aku sama kamu.”
“I Love you, Princess.” Lalu Mark mengecup lembut bibirku.
Beberapa saat yang lalu aku
benar-benar merasa galau dan dilemma. Tapi, sekarang sudah tidak, benar-benar
ajaib. Karena Mark lah yang sekarang berarti buat aku, bukan Vanno. Setelah
Mark membersihkan diri kami berdua berencana untuk pergi berjalan-jalan malam
itu. Rasanya benar-benar beda, berada di samping Mark aku merasa jauh lebih
aman dan nyaman. Dan aku tidak pernah berhenti tersenyum. Kali ini benar-benar
senyuman bahagia, karena hatiku sedang berbunga-bunga. Cowok tampan yang jadi
idola para gadis di kampusku sekarang sudah resmi jadi pacarku. Setelah lelah
berjalan-jalan kami memutuskan untuk menghabiskan malam di sebuah kafe yang tak
jauh dari hotel.
”Eh, abis ini balapannya di
mana lagi?” tanya yang sambil asyik meminum hot
cappuccino.
“Masih disini, minggu depan
baru di Valencia. Eh, seriusan mau nemenin aku? Terus kuliahnya gimana?”
“Ijin dulu. Hehehehe…”
“Kamu tuh, ya. Ada-ada aja,
deh. Bukannya belajar, malah kesini.”
“Nggak apa-apa , karena yang
terpenting buat aku adalah kamu, Princess.”
Dan lagi-lagi Mark mendaratkan bibirnya di
bibirku, entah sudah yang keberapa kali ia menciumku. Dan aku pun menyambut
ciumannya dengan hati yang bahagia. Keesokkan harinya aku kembali ke Catalunya
sirkuit, kali ini aku datang dengan senyuman lebar di bibirku. Apalagi aku di
temani kekasihku. Hehehehe….
“Pagi Mike, pagi semuanya.”
Seruku dengan suara yang ceria dan sambil tersenyum tentunya.
Sedangkan Mike terlihat
bingung melihat ku pagi itu, “Kamu kenapa? Sepertinya lagi happy banget, nih?”
“Hehehe… Iya, aku lagi
seneng banget, Mike.” Jawabku sambil tertawa.
Lalu Mark masuk ke dalam pit
lane.
“Maaf, mau bertemu siapa,
ya?” tanya Mike pada Mark.
“Ah, perkenalkan aku Mark,
pacarnya Glad.” ucap Mark sambil mengulurkan tangannya.
“Aku Mike, mentor merangkap
asisten sama engineer motornya Glad.
Seriusan pacar kamu nih? Bukannya kamu belum punya pacar lagi?” tanya Mike
heran.
“Kita baru jadian kemarin
malam kok, Mike. Hehehe…” jawabku tersipu malu.
“Ohh, hahaha… pantesan.
Selamat buat kalian, ya. Aku ikutan bahagia, jadinya aku bisa tenang soalnya
sekarang ada yang jagain dia.” Timpal Mike.
“Mike ini cerewetnya saingan
sama Kak Leon.” Tambahku sambil tertawa.
“Soalonya, aku udah anggap
Glad kayak adik kandung aku sendiri.” Jawab Mike.
“Aku bakalan jagain Glad
kok, Mike.” Ucap Mark dengan penuh keyakinan.
“Syukurlah kalau gitu. Aku
permisi dulu ya, mau ngecek motornya Glad, dulu.” Pamit Mike dan meninggalkan
mereka berdua.
###
Vanno memutuskan untuk
menemui Glad kembali di pit lane’nya dengan harapan kali ini Glad mau
memaafkannya dan mau kembali lagi padanya. Kali ini Vanno merasa sangat yakin
bahwa Glad mau menerima kembali cintanya. Hari itu Vanno juga tak lupa membawa
1 bucket besar bunga mawar putih kesukaan Glad.
Sepanjang perjalanan menuju
ke pit lane’nya Glad, wajah tampan Vanno terlihat bahagia, senyuman selalu menghiasi
bibirnya.
“Glad, aku yakin kalau kamu
mau maafin dan menerima aku kembali. Aku ingin kita bersama-sama lagi seperti
dulu. Aku betul-betul kangen banget sama kamu Glad.” ucap Vanno dalam hati.
Dengan mantap Vanno
melangkahkan kakinya memasuki pit lane’nya Glad. Namun apa yang dilihatnya. Dia
melihat wanita yang dicintainya itu sedang bermesraan dengan lelaki lain. Vanno
melihat Glad di ciumi oleh lelaki itu dengan sangat mesra sekali. Hatinya
benar-benar hancur melihat kejadian itu. Bahkan matanya terasa mulai memanas.
Vanno pun langsung berlari meninggalkan tempat itu dan membuang bucket bunganya
ke dalam tempat sampah.
“Kamu tega Glad, semudah itu
kamu berpaling dan melupakan semua kenangan kita berdua. Selama ini aku
berjuang keras untuk hidup Cuma buat kamu, Glad. buat kamu seorang. Tapi, apa
yang aku lihat barusan… kamu bermesraan dengan lelaki lain. Aku bakalan bikin
kamu jadi milik aku lagi, Glad. aku bakalan ambil kamu dari pelukan cowok itu.
Aku bersumpah.” Umpatnya dalam hati.
Hatinya benar-benar hancur
melihat Glad bermesraan dengan lelaki lain. Apalagi ia terus melihat kemesraan
mereka sampai race berakhir. Dan hasil race tetap sama dengan kemarin, dengan
Glad yang kembali meraih podium pertama dan Vanno di podium kedua. Dan hasilnya
selalu sama hingga kompetisi berakhir di sirkuit Muggelo Italia. Glad bersama teamnya pulang membawa
kemenangan di tambah Glad pulang bawa pacar barunya. Keadaan sebaliknya di
alami oleh Vanno, tidak berhasil menjadi juara pertama apalagi dia malah
mengalami patah hati. Jangan di tanya bagaimana ekspresi wajahnya saat ini.
Setelah istirahat beberapa hari di rumah, hari itu Glad memutuskan buat masuk
kuliah kembali.
“Pagi Mom, pagi Dad, pagi
Kak.” Sapaku sambil duduk di sebelah Kakakku untuk sarapan.
“Mau masuk kuliah, de?”
tanya Leon pada adiknya itu.
“Iya, Kak. Mau ngejar
materi, pasti udah banyak banget ketinggalannya.” Ucapku sambil menikmati roti
panggang coklat kesukaanku.
“Asyik, Kakak anterin lagi
ya, seperti biasa.” Ucap Leon sambil tersenyum nakal.
“Nggak usah, Kak, makasih.”
Jawabku singkat.
“Lho, kenapa?” tanya Leon
sedikit kecewa.
Belum sempat menjawab
tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari luar.
“Tuh, jemputannya udah datang.
Bye semuanya.” Pamitku sambil pergi.
“Adikmu di jemput siapa?” Louis
bertanya pada putranya itu.
“Nggak tau, Dad.” Jawabnya
singkat sambil mengangkat bahu.
Pagi itu Mark menjemput Glad
untuk pergi ke kampus bersama-sama. Belum ada satu orang pun yang tahu kalau
Mark dan Glad akhirnya jadian juga. Makanya ketika mereka berdua datang
bersamaan ke kampus banyak mata yang memandang, apalagi mereka saling pegangan
tangan. Mark mengantarkan Glad sampai ke depan kelasnya.
“Oke Princess, sampai ketemu lagi nanti di kantin, ya.” Ucap Mark.
“Iya.” Jawabku sambil
tersenyum.
“Hati-hati, ya.” Ucap Mark
sambil mengecup keningku lalu pergi menuju ke kelasnya.
Aku pun menuju ke bangkuku
dan ternyata sahabatku tercinta sudah datang. Ia kaget melihat wajahku yang
terlihat ceria dan tidak seperti biasanya.
“Morning, Clariss.” Sepaku sambil tersenyum.
“Morning, kayaknya lagi seneng banget nih. Eh, gimana kompetisinya?”
tanyanya bersemangat.
“Baik, aku berhasil dapat
juara pertama. Banyak banget yang pengen aku certain sama kamu, Clariss. Karena
selama di sana banyak banget kejadian yang aku alami.” Ujarku.
“Memang ada kejadian apa
aja?” tanyanya penasaran.
“Lee..” jawabku singkat.
“Hah? Lee?” tanyanya.
Belum sempat bercerita
tiba-tiba Vanno muncul. Dan dengan cueknya dia langsung menarik tanganku dan
membawaku keluar dari kelas. Dengan sedikit kasar.
“Eh… mau ngapain kamu?
Lepasin… sakit tau.” Aku berontak tapi tenaganya lebih kuat dan terus
menyeretku keluar dari kelas.
“Glad…” teriak Clariss
sambil berusaha mengejar kami berdua.
Dalam perjalanan mengejar
Lee dan Glad aku berpapasan dengan Brian dan Mark.
“Lho, kamu mau kemana?
Sebentar lagi kan jam pelajaran mulai?” tanya Brian.
“Itu, Glad, dia di
tarik-tarik keluar kelas sama Lee.” Jawabku tergesa-gesa.
“APA?” pekik Mark
“Makanya, aku takut ada
apa-apa. Soalnya dari pas datang gelagat Lee udah nggak baik.” Jawabku.
“Ayo, kita susul mereka.”
Ucap Mark sambil berlari.
“Oi.. Mark, tungguin kita,
dong!” teriak Brian sambil menarik aku untuk berlari juga.
Vanno
membawaku ke taman belakang kampus yang sangat sepi, berbeda dengan tempat yang
waktu itu Jean membawaku. Ketika sampai dia langsung menghempaskan tubuhku,
hingga aku terjatuh ke rumput di taman itu.
“Awww…”
pekikku.
“Kamu
jahat, Glad.” Vanno berbicara dengan suara tertahan
“Maksudnya
apaan sih ini. Kasar banget.” Ucapku sambil berdiri.
Dengan
kasar ia mendorong tubuhku ke pohon besar yang ada disana dan menghimpit
tubuhku. Matanya menatapku dengan nanar. Ya Tuhan, apa yang mau dia lakukan
sama aku?
Vanno
mendekatkan wajahnya dan berusaha untuk menciumku.
“Mau apa
kamu? Jangan macam-macam.” Aku terus berontank tapi Vanno terus saja berusaha
menciumku.
“Diam,
kamu, kenapa kamu nggak mau aku cium? Bukannya dulu kamu sangat suka.” Ucapnya
dengan nada marah.
“Itu dulu,
sekarang aku nggak mau. Lepasin aku.” Aku terus memukul-mukul tubuhnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar