Jumat, 21 Desember 2012

Chapter 10


Chapter 10

Vanno Cuma diam mendengar penjelasan Mike. Dia nggak menyangka sama sekali bahwa gadis yang dicintainya itu bisa tertarik dengan dunia balap yang penuh resiko.
“Apa Glad pernah mengalami kecelakaan di lintasan?” Tanya Vanno.
“Pernah, dan kecelakaan itu mematahkan tulang rusuknya. Yang tahu Glad jadi pembalap Cuma Leon, makanya waktu tulang rusuknya patah Glad tidak mau menjalani perawatan di rumah sakit dan tetap menjalani rutinitasnya seperti tidak terjadi apa-apa.” Jelas Mike.
“Ya Tuhan. Berarti Om Louis sama Tante Mandy nggak tahu sama sekali tentang ini.” Timpalnya.
“Iya, dan sekarang kamu harus bersaing dengannya di lintasan, Vann.”
“Bagaimana mungkin aku harus  bersaing dengan gadis yang aku cintai.” Keluh Vanno.

Dan akhirnya uji coba pun selesai. Dan Glad masih menghindari Vanno. Ia nggak mau bertemu Vanno. Karena saat ini pikirannya benar-benar kacau sekali. Oh Tuhan, aku harus bagaimana ini? Ternyata orang yang sempat menjadi masa laluku masih hidup. Dia hadir ketika hati dan hari-hariku sudah terisi leh sosok lain. Mark, cowok yang udah super duper sabar mau menerima kerasnya sifat aku. Dia tetap tersenyum manis dan berkata lembut ketika aku memberinya senyuman sini dan kata-kata yang agak kasar. Aku mengakui kalau saat ini aku benar-benar mencitai Mark, meskipun saat ini Mark tidak mengingatku sedikitpun. Di lain ini aku juga masih menyimpan perasaan sama Kak Vanno, tapi perasaan itu sudah berkurang dan tidak sebesar perasaanku pada Mark saat ini.
“Mark gimana kabar kamu sekarang? Aku betul-betul kangen sama kamu.”
“I can’t sleep… I just can’t breathe…
When your shadow is all over me… Baby…”
Sementara itu di Irlandia. Keadaan Mark sudah membaik, dokter bilang amnesia yang di alami Mark sudah sembuh. Dan tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi.
Di ruang perawatan Mark.
“Bri, Glad mana?” tanya Mark.
“Glad lagi ada di Barcelona buat ikut balapan, Mark.” Jawab Brian.
“Kamu tau dia menginap di hotel apa?” tanyanya lagi.
“Nggak, Mark, yang tau Kak Leon. Emang kenapa, Mark?” tanya Brian lagi.
“Aku mau ketemu Glad.” Jawab Mark singkat.
Nicky, Shane dan Kian kaget mendengar ucapan Mark itu.
“Hah, seriusan kamu, Mark?” timpal Nicky.
“Aku serius, aku harus ketemu Glad.” Jelas Mark.
“Tunggu Glad pulang aja, Mark. Kamu kan masih perlu istirahat di sini buat beberapa hari lagi.” Sambung Shane.
“Aku udah baik-baik aja, kok. Yang aku butuhin sekarang Cuma Glad, nggak ada yang lain.”
“Kayaknya kamu ketularan keras kepalanya Glad, ya. Jadi kapan rencananya kamu mau pergi buat nyusulin Glad?” tanya Kian.
“Besok pagi, penerbangan paling awal.” Jawab Mark mantap.
“Ya udah, biar kita bantuin kamu buat siapin semuanya, ya. Kalau gitu sekarang kamu istirahat aja. Biar kita yang urus segala sesuatunya.” Jelas Brian.
“Thanks guys, kalian bener-bener sahabat terbaik aku. Aku nggak tau harus balas pakai apa kebaikan kalian selama ini.”
No problem, Mark.” Timpal Kian.
Dan malam itu Nicky, Shane, Kian dan Brian sibuk mempersiapkan segala keperluan untuk Mark. Brian juga sudah mendapatkan alamat hotel tempat Glad menginap selama di sana. Keesokkan harinya Mark berangkat di antar oleh keempat sahabatnya.
“Hati-hati disana ya, Mark. Kalau ada apa-apa langsung telepon kita ya.” Shane mengingatkan.
“Nanti kita bakalan susulin kalian ke sana, kok.” Tambah Brian.
“Thanks, ya. Kalau gitu aku pergi, ya.” Pamit Mark.
Mark pun masuk dan menuju ke dalam pesawat yang akan membawanya ke tempat pujaan hatinya itu berada sekarang. Di perkirakan Mark akan sampai di Barcelona pada sore hari.

Catalunya Circuit…
Tidak terasa race yang sesungguhnya  akan segera dimulai. Dan Glad masih belum mau menemui Vanno. Hingga saat mereka sudah berada di start line. Glad tidak menoleh sedikitpun pada Vanno. Dan itu membuat Vanno benar-benar sangat merasa berasalah sekali pada Glad. Tapi Vanno langsung lupa setelah ia menjalankan motornya di atas track, dia benar-benar bersaing dengan Glad yang sekarang berada di posisi paling depan. Balapan berakhir setelah 22 laps. Dan Vanno harus mengakui kemampuan Glad yang nggak bisa di pandang sebelah mata. Glad berhasil mendapatkan podium pertama dan Vanno di podium kedua.
Sebenarnya banyak sekali media yang ingin mewawancarai Glad karena Glad menjadi wanita pertama yang mengikuti kompetisi super bike. Apalagi ia berhasil menjuarai seri pertama ini. Tapi Glad lebih memilih langsung pulang ke hotel untuk beristirahat dan untuk menghindari Vanno. Setelah membersihkan diri Glad tiduran di kursi sambil menonton TV. Tiba-tiba ia di kagetkan oleh suara ketukan di pintu kamarnya.
“Siapa, ya?” ucapku sambil berjalan menuju pintu.
Aku pun membuka pintu kamar, dan benar-benar kaget melihat sosok yang berdiri di depanku.
“Mark…” secara spontan aku langsung memeluknya dengan erat.
“Aku kangen banget sama kamu, Glad.” ucap Mark sambil balas memelukku sama eratnya.
“Mark, maafin aku. Maaf buat semua sikap aku ke kamu selama ini. Aku…”
Mark memotong pembicaraanku, “Sttt, udah, nggak usah di terusin. Aku nggap apa-apa kok, karena aku yakin suatu hari kamu bakalan membuka pintu hati kamu buat aku.”
“Eh, ayo masuk.” Aku pun tersadar dan melepaskan pelukankku dan mempersilakan Mark untuk masuk.

Lalu Mark pun masuk dan aku membantunya membawakan barang-barang miliknya.
“Eh, kenapa bisa tau kalau aku ada disini?” tanyaku.
“Dari Kak Leon, Glad. Pengen ketemu kamu, apalagi setelah aku tau kalau kamu pergi buat balapan. Kau tau, aku benar-benar khawatir.” Jawabnya dengan suara yang masih tetap lembut seperti dulu.
“Mark…”
“Maaf, ya, karena aku udah bikin kamu sedih.”
“Nggak kok, Mark. Aku nggak apa-apa. Semua kejadian ini untuk melatih aku jadi orang yang lebih baik dari sebelumnya, Mark. Karena aku yakin Tuhan punya sesuatu yang indah di balik semua kejadian itu.” Ucapku sambil tersenyum.
Mark pun membalas senyumanku lalu berkata, “Oh iya, Glad. Mungkin kamu udah bosan mendengarnya, tapi aku tetap ingin dapetin jawaban yang pasti. Glad, kamu mau kan jadi pacar aku?”
Tanpa pikir panjang aku langsung memeluknya, “Iya, Mark, aku mau jadi pacar kamu. Asal kamu tau selama ini aku memendam dalam-dalam semua perasaan aku sama kamu.”
I Love you, Princess.” Lalu Mark mengecup lembut bibirku.
Beberapa saat yang lalu aku benar-benar merasa galau dan dilemma. Tapi, sekarang sudah tidak, benar-benar ajaib. Karena Mark lah yang sekarang berarti buat aku, bukan Vanno. Setelah Mark membersihkan diri kami berdua berencana untuk pergi berjalan-jalan malam itu. Rasanya benar-benar beda, berada di samping Mark aku merasa jauh lebih aman dan nyaman. Dan aku tidak pernah berhenti tersenyum. Kali ini benar-benar senyuman bahagia, karena hatiku sedang berbunga-bunga. Cowok tampan yang jadi idola para gadis di kampusku sekarang sudah resmi jadi pacarku. Setelah lelah berjalan-jalan kami memutuskan untuk menghabiskan malam di sebuah kafe yang tak jauh dari hotel.
”Eh, abis ini balapannya di mana lagi?” tanya yang sambil asyik meminum hot cappuccino.
“Masih disini, minggu depan baru di Valencia. Eh, seriusan mau nemenin aku? Terus kuliahnya gimana?”
“Ijin dulu. Hehehehe…”
“Kamu tuh, ya. Ada-ada aja, deh. Bukannya belajar, malah kesini.”
“Nggak apa-apa , karena yang terpenting buat aku adalah kamu, Princess.”  
 Dan lagi-lagi Mark mendaratkan bibirnya di bibirku, entah sudah yang keberapa kali ia menciumku. Dan aku pun menyambut ciumannya dengan hati yang bahagia. Keesokkan harinya aku kembali ke Catalunya sirkuit, kali ini aku datang dengan senyuman lebar di bibirku. Apalagi aku di temani kekasihku. Hehehehe….
“Pagi Mike, pagi semuanya.” Seruku dengan suara yang ceria dan sambil tersenyum tentunya.
Sedangkan Mike terlihat bingung melihat ku pagi itu, “Kamu kenapa? Sepertinya lagi happy banget, nih?”
“Hehehe… Iya, aku lagi seneng banget, Mike.” Jawabku sambil tertawa.
Lalu Mark masuk ke dalam pit lane.
“Maaf, mau bertemu siapa, ya?” tanya Mike pada Mark.
“Ah, perkenalkan aku Mark, pacarnya Glad.” ucap Mark sambil mengulurkan tangannya.
“Aku Mike, mentor merangkap asisten sama engineer motornya Glad. Seriusan pacar kamu nih? Bukannya kamu belum punya pacar lagi?” tanya Mike heran.
“Kita baru jadian kemarin malam kok, Mike. Hehehe…” jawabku tersipu malu.
“Ohh, hahaha… pantesan. Selamat buat kalian, ya. Aku ikutan bahagia, jadinya aku bisa tenang soalnya sekarang ada yang jagain dia.” Timpal Mike.
“Mike ini cerewetnya saingan sama Kak Leon.” Tambahku sambil tertawa.
“Soalonya, aku udah anggap Glad kayak adik kandung aku sendiri.” Jawab Mike.
“Aku bakalan jagain Glad kok, Mike.” Ucap Mark dengan penuh keyakinan.
“Syukurlah kalau gitu. Aku permisi dulu ya, mau ngecek motornya Glad, dulu.” Pamit Mike dan meninggalkan mereka berdua.
###
Vanno memutuskan untuk menemui Glad kembali di pit lane’nya dengan harapan kali ini Glad mau memaafkannya dan mau kembali lagi padanya. Kali ini Vanno merasa sangat yakin bahwa Glad mau menerima kembali cintanya. Hari itu Vanno juga tak lupa membawa 1 bucket besar bunga mawar putih kesukaan Glad.
Sepanjang perjalanan menuju ke pit lane’nya Glad, wajah tampan Vanno terlihat bahagia, senyuman selalu menghiasi bibirnya.
“Glad, aku yakin kalau kamu mau maafin dan menerima aku kembali. Aku ingin kita bersama-sama lagi seperti dulu. Aku betul-betul kangen banget sama kamu Glad.” ucap Vanno dalam hati.

Dengan mantap Vanno melangkahkan kakinya memasuki pit lane’nya Glad. Namun apa yang dilihatnya. Dia melihat wanita yang dicintainya itu sedang bermesraan dengan lelaki lain. Vanno melihat Glad di ciumi oleh lelaki itu dengan sangat mesra sekali. Hatinya benar-benar hancur melihat kejadian itu. Bahkan matanya terasa mulai memanas. Vanno pun langsung berlari meninggalkan tempat itu dan membuang bucket bunganya ke dalam tempat sampah.
“Kamu tega Glad, semudah itu kamu berpaling dan melupakan semua kenangan kita berdua. Selama ini aku berjuang keras untuk hidup Cuma buat kamu, Glad. buat kamu seorang. Tapi, apa yang aku lihat barusan… kamu bermesraan dengan lelaki lain. Aku bakalan bikin kamu jadi milik aku lagi, Glad. aku bakalan ambil kamu dari pelukan cowok itu. Aku bersumpah.” Umpatnya dalam hati.
Hatinya benar-benar hancur melihat Glad bermesraan dengan lelaki lain. Apalagi ia terus melihat kemesraan mereka sampai race berakhir. Dan hasil race tetap sama dengan kemarin, dengan Glad yang kembali meraih podium pertama dan Vanno di podium kedua. Dan hasilnya selalu sama hingga kompetisi berakhir di sirkuit Muggelo Italia.  Glad bersama teamnya pulang membawa kemenangan di tambah Glad pulang bawa pacar barunya. Keadaan sebaliknya di alami oleh Vanno, tidak berhasil menjadi juara pertama apalagi dia malah mengalami patah hati. Jangan di tanya bagaimana ekspresi wajahnya saat ini. Setelah istirahat beberapa hari di rumah, hari itu Glad memutuskan buat masuk kuliah kembali.
“Pagi Mom, pagi Dad, pagi Kak.” Sapaku sambil duduk di sebelah Kakakku untuk sarapan.
“Mau masuk kuliah, de?” tanya Leon pada adiknya itu.
“Iya, Kak. Mau ngejar materi, pasti udah banyak banget ketinggalannya.” Ucapku sambil menikmati roti panggang coklat kesukaanku.
“Asyik, Kakak anterin lagi ya, seperti biasa.” Ucap Leon sambil tersenyum nakal.
“Nggak usah, Kak, makasih.” Jawabku singkat.
“Lho, kenapa?” tanya Leon sedikit kecewa.
Belum sempat menjawab tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari luar.
“Tuh, jemputannya udah datang. Bye semuanya.” Pamitku sambil pergi.
“Adikmu di jemput siapa?” Louis bertanya pada putranya itu.
“Nggak tau, Dad.” Jawabnya singkat sambil mengangkat bahu.

Pagi itu Mark menjemput Glad untuk pergi ke kampus bersama-sama. Belum ada satu orang pun yang tahu kalau Mark dan Glad akhirnya jadian juga. Makanya ketika mereka berdua datang bersamaan ke kampus banyak mata yang memandang, apalagi mereka saling pegangan tangan. Mark mengantarkan Glad sampai ke depan kelasnya.
“Oke Princess, sampai ketemu lagi nanti di kantin, ya.” Ucap Mark.
“Iya.” Jawabku sambil tersenyum.
“Hati-hati, ya.” Ucap Mark sambil mengecup keningku lalu pergi menuju ke kelasnya.

Aku pun menuju ke bangkuku dan ternyata sahabatku tercinta sudah datang. Ia kaget melihat wajahku yang terlihat ceria dan tidak seperti biasanya.
Morning, Clariss.” Sepaku sambil tersenyum.
Morning, kayaknya lagi seneng banget nih. Eh, gimana kompetisinya?” tanyanya bersemangat.
“Baik, aku berhasil dapat juara pertama. Banyak banget yang pengen aku certain sama kamu, Clariss. Karena selama di sana banyak banget kejadian yang aku alami.” Ujarku.
“Memang ada kejadian apa aja?” tanyanya penasaran.
“Lee..” jawabku singkat.
“Hah? Lee?” tanyanya.

Belum sempat bercerita tiba-tiba Vanno muncul. Dan dengan cueknya dia langsung menarik tanganku dan membawaku keluar dari kelas. Dengan sedikit kasar.
“Eh… mau ngapain kamu? Lepasin… sakit tau.” Aku berontak tapi tenaganya lebih kuat dan terus menyeretku keluar dari kelas.
“Glad…” teriak Clariss sambil berusaha mengejar kami berdua.

Dalam perjalanan mengejar Lee dan Glad aku berpapasan dengan Brian dan Mark.
“Lho, kamu mau kemana? Sebentar lagi kan jam pelajaran mulai?” tanya Brian.
“Itu, Glad, dia di tarik-tarik keluar kelas sama Lee.” Jawabku tergesa-gesa.
“APA?” pekik Mark
“Makanya, aku takut ada apa-apa. Soalnya dari pas datang gelagat Lee udah nggak baik.” Jawabku.
“Ayo, kita susul mereka.” Ucap Mark sambil berlari.
“Oi.. Mark, tungguin kita, dong!” teriak Brian sambil menarik aku untuk berlari juga.

Vanno membawaku ke taman belakang kampus yang sangat sepi, berbeda dengan tempat yang waktu itu Jean membawaku. Ketika sampai dia langsung menghempaskan tubuhku, hingga aku terjatuh ke rumput di taman itu.
“Awww…” pekikku.
“Kamu jahat, Glad.” Vanno berbicara dengan suara tertahan
            “Maksudnya apaan sih ini. Kasar banget.” Ucapku sambil berdiri.

Dengan kasar ia mendorong tubuhku ke pohon besar yang ada disana dan menghimpit tubuhku. Matanya menatapku dengan nanar. Ya Tuhan, apa yang mau dia lakukan sama aku?
Vanno mendekatkan wajahnya dan berusaha untuk menciumku.
“Mau apa kamu? Jangan macam-macam.” Aku terus berontank tapi Vanno terus saja berusaha menciumku.
“Diam, kamu, kenapa kamu nggak mau aku cium? Bukannya dulu kamu sangat suka.” Ucapnya dengan nada marah.
“Itu dulu, sekarang aku nggak mau. Lepasin aku.” Aku terus memukul-mukul tubuhnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar