Jumat, 21 Desember 2012

Chapter 7


Chapter 7

Lee cukup lama menjabat tangannya, dan itu benar-benar tidak nyaman.
“Lee…” panggilku.
Lee pun langsung melepaskan tangannya dengan wajah yang memerah.
“Uppss, sorry, ya, Glad.”
“Eh, nggak apa-apa, kok. Kita udah sampai nih. Kalau gitu aku duluan, ya.” Pamitku.
“Tunggu, kamu mau kan ajak aku keliling kampus ini? Sama aku juga pengen tau letak fakultas jurusan yang aku ambil ada di sebelah mana.”
“Emangnya kamu ambil jurusan apa?”
Political Science.
“Wah, kita satu jurusan, dong.”
“Seriusan? Wah, kebetulan banget, ya.”
“Ya udah, sekarang beresin dulu gih urusannya. Aku tunggu di depan.”
“Oke, deh.”
Lee segera menyelesaikan urusannya di bagian tata usaha, sedangkan aku duduk sambil termenung menunggunya.
“Aku rindu sama tatapan Vanno yang tajam, dan ternyata Lee juga memeilikinya. Tuhan, kenapa aku jadi seperti ini? Yang membedakan Vanno dan Lee adalah warna rambut mereka. Lee memiliki rambut berwarna coklat, sedangkan warna rambut Vanno sama seperti warna rambutku hitam legam. Mereka berdua memiliki suara yang sama juga.”
Tiba-tiba Lee membuyarkan lamunanku.
“Hey, lagi ngelamun lagi, deh. Aku udah selesai nih. Kita mau mulai darimana dulu nih?” tanyanya bersemangat.
“Ya, mulai dari sinilah. Emang maunya darimana dulu?”
“Kantin! Soalnya aku lapar belum makan siang, nih. Temenin, yuk.”
“Tapi, aku udah makan tadi.”
“Nggak apa-apa. Kamu temenin aku aja, yuk. Sebelah mana kantinnya?” ucapnya sambil menarik tanganku.
Dan akhirnya, tibalah kami dikantin. Aku berharap teman-temanku dan Mark sudah tidak ada di sana. Tapi ternyata mereka semua masih ada, hanya saja sekarang Clariss bergabung dengan anak-anak Westlife.
“Gawat, mati aku kalau sampai mereka liat. Mana ni cowok nggak mau lepasin tangan aku lagi?” keluh Glad dalam hati.
 Tapi ternyata Lee memilih tempat duduk yang berada tak jauh dari meja anak-anak Westlife dan Clariss. Yang pertama kali melihat Glad datang bersama Lee adalah Kian.
“Eh, Glad, sama siapa tuh?” ucap Kian pada teman-temannya.
“Mana, Ki?” Brian lirik kiri kanan buat mencari Glad.
“Itu, yang duduk sama cowok yang pake jaket warna item. Di meja yang agak pojok, tapi muka cowoknya nggak keliatan.” Kian nyerocos.
“Loh, iya. Itu beneran Glad. Dia sama siapa?” Nicky ikutan penasaran.
“Tadi aku liat pas mereka datang si cowok megang tangannya, Glad.” Jelas Kian.
“Masa, sih, Ki? Jangan ngaco kamu?” timpal Clariss.
“Ya ampun, Clariss. Masa sih seorang Kian Egan yang ganteng dan cool ini bohong.”
Sedangkan Mark hanya menatap keakraban Glad dengan cowok tak di kenal itu. Entah kenapa perasaanny begitu sakit dan ada perasaan tidak rela melihat keakraban Glad dengan cowok tersebut. Apalagi Glad tak henti-hentinya tertawa dan tersenyum.
“Kenapa hati aku sakit dan nggak rela liat Glad sama cowok lain? Apakah Glad itu pernah jadi masa lalu aku? Tapi kalau iya, kenapa aku nggak ingat sedikitpun tentang Glad!”
“Hey, Mark, kamu kenapa?” Tanya Clariss yang menyadari Mark sedang melihat Glad.
“Nggak apa-apa, kok.” Jawabnya datar.
Sementara itu di meja Glad dan Lee. Mereka terlihat sangat akrab meskipun baru bertemu dan baru saling mengenal. Lee selalu membuat Glad tersenyum dan bisa tertawa lepas. Tersenyum dan tertawa adalah dua hal yang jarang sekali terlihat pada Glad. Apalagi semenjang Mark amnesia dan kehilangan sebagian ingatannya, termasuk ingatan tentang Glad. Dia hanya menunjukan sikap dingin seperti dulu, Glad yang jarang menangispun jadi lebih sering terlihat menangis. Mata indahnya selalu terlihat sayu dan sembab.
“Udahan ah, Lee. Dari tadi ngajak ketawa mulu. Sakit perut tau.”
“Sengaja, soalnya pas pertama kali ketemu tadi. Wajah kamu murung terus. Kalau sekarang kan nggak. Tau nggak, kamu lebih cantik kalau tersenyum.”
“Bisa aja kamu, Lee.”
“Aku seriusan tau. Kamu terlihat lebih cantik kalau tersenyum, sayang wajah kamu yang cantik kalau murung. Aku suka mata kamu, Glad. Mata kamu bener-bener indah.” Lee memandang mata Glad dengan tatapannya yang tajam. Dan itu bikin Glad nggak karuan.
“Eh, udah makannya? Katanya mau keliling kampus.”
“Udah, kok. Yuk, kita keliling-keling kampus. Senengnya aku ditemenin sama cewek cantik.”
“Gombal banget, sih. Yuk, ah.”
“Iya-iya, ternyata kamu galak juga, ya. Hehehe.”
Mereka berdua pun pergi dari kantin. Sedangkan Clariss dan anak-anak Westlife Cuma melongo melihat Glad dengan cowok yang nggak mereka kenal. Mereka juga nggak bisa liat wajah si cowok. Glad dan Lee berkeliling kampus, dan tak jarang mereka saling bercanda dan tertawa bersama. Tidak terasa waktu sudah mulai sore dan tour singkat keliling kampuspun selesai. Glad mutusin buat pulang pake taxi aja, karena Clariss pasti udah dijemput sama kakaknya.
Thanks, ya. Udah mau nemenin aku keliling kampus.”
“Sama-sama, Lee. Ya udah aku pulang dulu, ya.”
“Kamu pulang pake apa?”
“Pake taxi.”
“Jangan, biar aku antar aja, ya.”
“Nggak usah, Lee, makasih. Aku nggak apa-apa, kok naik taxi.”
“Ayolah, Glad. Sebagai ucapan terima kasih aku. Mau, ya, please.”
“Hmm, ya udah, deh. Aku mau.”
“Asyik. Kamu tunggu disini, ya. Aku ambil motor dulu.”
Lee pun pergi ke parkiran motor buat ambil motornya. Lalu segera menemui aku yang sudah menunggu di depan kampus. Aku cukup kaget ketika melihat Lee naik motor. Karena penampilannya sama dengan Vanno.
“Hey, ayo naik.” Pinta Lee sambil memberikan helm pada Glad.
Lalu aku pun naik, dan memegang pinggang Lee. Dalam perjalanan pulang, Aku makin ingat sama Vanno. Karena Vanno suka menjemputku pakai motor sport yang gede. Dan sekarang aku mengalaminya lagi, dengan cowok yang berbeda namun memiliki wajah yang seperti Vanno. Aku bersyukur karena akhirnya sampai juga di rumah.
Di depan rumah…
“Makasih, ya, Lee.”
“Sama-sama. Aku seneng banget malah bisa nganterin kamu.”
“Mau mampir dulu?”
“Lain kali aja, udah sore. Kamu keliatan kecapean, tuh.”
“Oke, deh. Kalau gitu aku masuk dulu, ya.”
“Glad, makasih buat hari ini, ya.”
Glad hanya membalasnya dengan sebuah senyuman. Lalu masuk kedalam rumah. Ternyata Clariss ada di rumahnya tentu saja kakaknya juga ada.
“Baru pulang, de?” Tanya Leon.
“Iya, kak. Kalau gitu ke kamar dulu, ya. Cape nih.”
“Tunggu, Glad. Aku pengen Tanya sesuatu sama kamu.” Clariss menarik Glad agar duduk disampingnya.
“Tanya apaan? Nanti lagi, deh. Akunya cape banget ini.” Jawab Glad dengan malas.
“Nggak mau. Aku maunya sekarang. Oh iya, tadi kamu balik lagi ke kantin sama siapa?” Clariss mulai mengintrogasi Glad.
“Anak baru, namanya Lee. Kita nggak sengaja ketemu. Lee… mirip Vanno.” Jawab Glad dengan suara yang bergetar.
“Apa, mirip Vanno, de?” ucap Leon kaget.
“Iya, kak. Wajah, mata bahkan tatapannya sama de ngan yang dimiliki Vanno. Glad pikir kalau itu bener-bener Vanno. Glad bener-bener kangen sama Vanno, kak.” Glad mulai terisak.

Clariss langsung memeluk Glad yang mulai menangis.
“Udah, Glad. Vanno, udah nggak ada. Kamu inget itu, kan.” Clariss berusaha menenangkan sahabatnya itu.
“Iya, aku tau. Aku juga udah bisa nerima kepergian dia. Tapi, kenapa tiba-tiba datang cowok yang mirip banget sama dia. Di saat aku mulai mencintai dan mengharapkan Mark. Kenapa? Apa ini balasan buat aku?”
“Sabar, de. Glad yang kakak dulu kenal bener-bener kuat dan tegar. Nggak serapuh dan selemah ini. Pasti ada hikmah dari semua ini, de.” Leon ikut membesarkan hati sang adik.
“Mendingan sekarang kamu istirahat di kamar aja, ya. Jangan banyak pikiran. Inget kesehatan kamu yang belum stabil, Glad.” Saran Clariss.

Glad pun melepaskan pelukan Clariss lalu pergi menuju ke kamar. Masih sambil terisak-isak.
“Kasian, Glad, kak.” Ucap Clariss setelah Glad pergi.
“Iya, sayang. Cewek setegar Glad ternyata bisa menjadi serapuh ini. Mudah-mudahan dengan semua yang terjadi ini Glad akan menjadi lebih dewasa dan menjadi cewek yang lebih kuat dari sebelumnya.”
“Iya, kakak bener.”

Kamar Glad.
Pikirannya saat ini benar-benar sangat kacau. Hanya ada Mark dan Vanno di pikirannya saat ini.
“The boys had been pictures in my had. Mark dan Vanno… aku harus gimana sekarang? Ingatan tentang kak Vanno muncul lagi setelah Lee datang. Aku takut Lee bikin aku goyah, sedangkan Mark… Aku nggak tau kapan dia bakalan sembuh dan mengingat aku lagi. God, why its gonna be complicated now?”
Semalaman Glad sama sekali nggak bisa tidur. Dan itu menyebabkan mata indahnya dihiasi oleh lingkaran hitam yang cukup jelas terlihat. Dan seperti biasa Leon bertugas mengantarkan adiknya ini. Meskipun sebenernya Glad udah menolak keras, tapi kakaknya tetep maksa buat mengatar Glad pergi kuliah.
Glad memasuki kampus dengan lemas. Sampai tiba-tiba Lee datang mengagetkannya.
Morning, Princess.”
“Ya ampun, Lee. Kamu bikin aku jantungan tau.”
“Maaf, deh, habis kamu bengong aja. Kenapa? Terus itu matanya kenapa?” ucap Lee sambil menunjuk lingkaran hitam di bawah mata Glad.
“Cuma masalah susah tidur aja.” Ucap Glad berbohong.
“Jangan keseringan begadang, ah. Nggak baik buat kesehatan kamu. Eh, kita masuk ke kelas barengan, yuk.” Ucapnya sambil menggamit lengan Glad.
“Lee, lepasin. Nggak usah kayak gini segala.”
Tapi Lee tidak menghiraukan ucapan Glad. Dia terus saja menggandeng tangan Glad sampai masuk di kelas. Dan tentu saja Clariss kaget bukan main melihat cowok yang datang bersama sahabatnya itu  mempunyai wajah yang mirip dengan Vanno, mantan pacarnya Glad. Dari awal masuk sampai jam pertama berakhir Lee terus menempel Glad. Terpaksa Clariss pergi ke kantin sendirian. Untung saja ada anak-anak Westlife yang emang seneng banget nongkrong di kantin.
“Eh, Clariss, wajah kamu kenapa? Dari tadi di tekuk terus deh?” Tanya Brian.
“Aku lagi bête banget tau. Di kelas aku ada anak baru cowok. Dan kayaknya dia yang kemaren sama Glad. Hari ini pun cowok itu nempel terus sama Glad. Sampai-sampai aku di cuekin Glad,” gerutu Clariss.
“Tapi, kok bisa sih itu cowok langsung akrab sama Glad? Diakan Ice Princess?” sambung Brian.
“Karena, cowok itu agresif banget. Dia yang ngejar-ngejar Glad, tapi alasan utamanya adalah karena cowok itu mirip banget sama Vanno,” jelas Clariss.
“Vanno yang mantan pacarnya Glad yang udah meninggal itu kan! Masa sih,” timpal Nicky nggak percaya.
“Aku serius. Bahkan kemaren cowok itu yang anterin Glad pulang kerumah. Dan coba tebak, Glad langsung nangis-nangis,” jelas Clariss.
“Kenapa nangis-nangis? Cowok itu udah macem-macem sama Glad? Wah, kurang ajar tuh cowok,” cecar Shane emosi.
“Sabar, Shane. Hal lain yang bikin Glad menangis. Apalagi kalau bukan karena Mark.” Ucap Clariss.
“Hah! Kenapa aku? Emang aku ngapain Glad?” Tanya Mark kebingungan.
“Udah, deh, Mark. Nggak usah di bahas lagi.” Balas Brian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar