Chapter 7
Lee cukup lama menjabat tangannya, dan itu benar-benar tidak
nyaman.
“Lee…” panggilku.
Lee pun langsung melepaskan tangannya dengan wajah yang
memerah.
“Uppss, sorry, ya,
Glad.”
“Eh, nggak apa-apa, kok. Kita udah sampai nih. Kalau gitu
aku duluan, ya.” Pamitku.
“Tunggu, kamu mau kan ajak aku keliling kampus ini? Sama aku
juga pengen tau letak fakultas jurusan yang aku ambil ada di sebelah mana.”
“Emangnya kamu ambil jurusan apa?”
“Political Science.”
“Wah, kita satu jurusan, dong.”
“Seriusan? Wah, kebetulan banget, ya.”
“Ya udah, sekarang beresin dulu gih urusannya. Aku tunggu di
depan.”
“Oke, deh.”
Lee segera menyelesaikan urusannya di bagian tata usaha,
sedangkan aku duduk sambil termenung menunggunya.
“Aku rindu sama tatapan Vanno yang tajam, dan ternyata Lee
juga memeilikinya. Tuhan, kenapa aku jadi seperti ini? Yang membedakan Vanno
dan Lee adalah warna rambut mereka. Lee memiliki rambut berwarna coklat,
sedangkan warna rambut Vanno sama seperti warna rambutku hitam legam. Mereka
berdua memiliki suara yang sama juga.”
Tiba-tiba Lee membuyarkan lamunanku.
“Hey, lagi ngelamun lagi, deh. Aku udah selesai nih. Kita
mau mulai darimana dulu nih?” tanyanya bersemangat.
“Ya, mulai dari sinilah. Emang maunya darimana dulu?”
“Kantin! Soalnya aku lapar belum makan siang, nih. Temenin,
yuk.”
“Tapi, aku udah makan tadi.”
“Nggak apa-apa. Kamu temenin aku aja, yuk. Sebelah mana
kantinnya?” ucapnya sambil menarik tanganku.
Dan akhirnya, tibalah kami dikantin. Aku berharap
teman-temanku dan Mark sudah tidak ada di sana. Tapi ternyata mereka semua
masih ada, hanya saja sekarang Clariss bergabung dengan anak-anak Westlife.
“Gawat, mati aku kalau sampai mereka liat. Mana ni cowok
nggak mau lepasin tangan aku lagi?” keluh Glad dalam hati.
Tapi ternyata Lee memilih tempat duduk yang berada tak
jauh dari meja anak-anak Westlife dan Clariss. Yang pertama kali melihat Glad
datang bersama Lee adalah Kian.
“Eh, Glad, sama siapa tuh?” ucap Kian pada teman-temannya.
“Mana, Ki?” Brian lirik kiri kanan buat mencari Glad.
“Itu, yang duduk sama cowok yang pake jaket warna item. Di
meja yang agak pojok, tapi muka cowoknya nggak keliatan.” Kian nyerocos.
“Loh, iya. Itu beneran Glad. Dia sama siapa?” Nicky ikutan penasaran.
“Tadi aku liat pas mereka datang si cowok megang tangannya,
Glad.” Jelas Kian.
“Masa, sih, Ki? Jangan ngaco kamu?” timpal Clariss.
“Ya ampun, Clariss. Masa sih seorang Kian Egan yang ganteng
dan cool ini bohong.”
Sedangkan Mark hanya menatap keakraban Glad dengan cowok tak
di kenal itu. Entah kenapa perasaanny begitu sakit dan ada perasaan tidak rela
melihat keakraban Glad dengan cowok tersebut. Apalagi Glad tak henti-hentinya
tertawa dan tersenyum.
“Kenapa hati aku sakit dan nggak rela liat Glad sama cowok
lain? Apakah Glad itu pernah jadi masa lalu aku? Tapi kalau iya, kenapa aku
nggak ingat sedikitpun tentang Glad!”
“Hey, Mark, kamu kenapa?” Tanya Clariss yang menyadari Mark
sedang melihat Glad.
“Nggak apa-apa, kok.” Jawabnya datar.
Sementara itu di meja Glad dan Lee. Mereka terlihat sangat
akrab meskipun baru bertemu dan baru saling mengenal. Lee selalu membuat Glad
tersenyum dan bisa tertawa lepas. Tersenyum dan tertawa adalah dua hal yang
jarang sekali terlihat pada Glad. Apalagi semenjang Mark amnesia dan kehilangan
sebagian ingatannya, termasuk ingatan tentang Glad. Dia hanya menunjukan sikap
dingin seperti dulu, Glad yang jarang menangispun jadi lebih sering terlihat
menangis. Mata indahnya selalu terlihat sayu dan sembab.
“Udahan ah, Lee. Dari tadi ngajak ketawa mulu. Sakit perut
tau.”
“Sengaja, soalnya pas pertama kali ketemu tadi. Wajah kamu
murung terus. Kalau sekarang kan nggak. Tau nggak, kamu lebih cantik kalau
tersenyum.”
“Bisa aja kamu, Lee.”
“Aku seriusan tau. Kamu terlihat lebih cantik kalau
tersenyum, sayang wajah kamu yang cantik kalau murung. Aku suka mata kamu,
Glad. Mata kamu bener-bener indah.” Lee memandang mata Glad dengan tatapannya
yang tajam. Dan itu bikin Glad nggak karuan.
“Eh, udah makannya? Katanya mau keliling kampus.”
“Udah, kok. Yuk, kita keliling-keling kampus. Senengnya aku
ditemenin sama cewek cantik.”
“Gombal banget, sih. Yuk, ah.”
“Iya-iya, ternyata kamu galak juga, ya. Hehehe.”
Mereka berdua pun pergi dari kantin. Sedangkan Clariss dan
anak-anak Westlife Cuma melongo melihat Glad dengan cowok yang nggak mereka
kenal. Mereka juga nggak bisa liat wajah si cowok. Glad dan Lee berkeliling
kampus, dan tak jarang mereka saling bercanda dan tertawa bersama. Tidak terasa
waktu sudah mulai sore dan tour singkat keliling kampuspun selesai. Glad
mutusin buat pulang pake taxi aja, karena Clariss pasti udah dijemput sama
kakaknya.
“Thanks, ya. Udah
mau nemenin aku keliling kampus.”
“Sama-sama, Lee. Ya udah aku pulang dulu, ya.”
“Kamu pulang pake apa?”
“Pake taxi.”
“Jangan, biar aku antar aja, ya.”
“Nggak usah, Lee, makasih. Aku nggak apa-apa, kok naik
taxi.”
“Ayolah, Glad. Sebagai ucapan terima kasih aku. Mau, ya, please.”
“Hmm, ya udah, deh. Aku mau.”
“Asyik. Kamu tunggu disini, ya. Aku ambil motor dulu.”
Lee pun pergi ke parkiran motor buat ambil motornya. Lalu
segera menemui aku yang sudah menunggu di depan kampus. Aku cukup kaget ketika
melihat Lee naik motor. Karena penampilannya sama dengan Vanno.
“Hey, ayo naik.” Pinta Lee sambil memberikan helm pada Glad.
Lalu aku pun naik, dan memegang pinggang Lee. Dalam
perjalanan pulang, Aku makin ingat sama Vanno. Karena Vanno suka menjemputku
pakai motor sport yang gede. Dan sekarang aku mengalaminya lagi, dengan cowok
yang berbeda namun memiliki wajah yang seperti Vanno. Aku bersyukur karena
akhirnya sampai juga di rumah.
Di depan rumah…
“Makasih, ya, Lee.”
“Sama-sama. Aku seneng banget malah bisa nganterin kamu.”
“Mau mampir dulu?”
“Lain kali aja, udah sore. Kamu keliatan kecapean, tuh.”
“Oke, deh. Kalau gitu aku masuk dulu, ya.”
“Glad, makasih buat hari ini, ya.”
Glad hanya membalasnya dengan sebuah senyuman. Lalu masuk
kedalam rumah. Ternyata Clariss ada di rumahnya tentu saja kakaknya juga ada.
“Baru pulang, de?” Tanya Leon.
“Iya, kak. Kalau gitu ke kamar dulu, ya. Cape nih.”
“Tunggu, Glad. Aku pengen Tanya sesuatu sama kamu.” Clariss
menarik Glad agar duduk disampingnya.
“Tanya apaan? Nanti lagi, deh. Akunya cape banget ini.”
Jawab Glad dengan malas.
“Nggak mau. Aku maunya sekarang. Oh iya, tadi kamu balik
lagi ke kantin sama siapa?” Clariss mulai mengintrogasi Glad.
“Anak baru, namanya Lee. Kita nggak sengaja ketemu. Lee…
mirip Vanno.” Jawab Glad dengan suara yang bergetar.
“Apa, mirip Vanno, de?” ucap Leon kaget.
“Iya, kak. Wajah, mata bahkan tatapannya sama de ngan yang
dimiliki Vanno. Glad pikir kalau itu bener-bener Vanno. Glad bener-bener kangen
sama Vanno, kak.” Glad mulai terisak.
Clariss langsung memeluk Glad yang mulai menangis.
“Udah, Glad. Vanno, udah nggak ada. Kamu inget itu, kan.”
Clariss berusaha menenangkan sahabatnya itu.
“Iya, aku tau. Aku juga udah bisa nerima kepergian dia.
Tapi, kenapa tiba-tiba datang cowok yang mirip banget sama dia. Di saat aku
mulai mencintai dan mengharapkan Mark. Kenapa? Apa ini balasan buat aku?”
“Sabar, de. Glad yang kakak dulu kenal bener-bener kuat dan
tegar. Nggak serapuh dan selemah ini. Pasti ada hikmah dari semua ini, de.”
Leon ikut membesarkan hati sang adik.
“Mendingan sekarang kamu istirahat di kamar aja, ya. Jangan
banyak pikiran. Inget kesehatan kamu yang belum stabil, Glad.” Saran Clariss.
Glad pun melepaskan pelukan
Clariss lalu pergi menuju ke kamar. Masih sambil terisak-isak.
“Kasian, Glad, kak.” Ucap
Clariss setelah Glad pergi.
“Iya, sayang. Cewek setegar
Glad ternyata bisa menjadi serapuh ini. Mudah-mudahan dengan semua yang terjadi
ini Glad akan menjadi lebih dewasa dan menjadi cewek yang lebih kuat dari
sebelumnya.”
“Iya, kakak bener.”
Kamar Glad.
Pikirannya saat ini
benar-benar sangat kacau. Hanya ada Mark dan Vanno di pikirannya saat ini.
“The boys had been pictures in my had. Mark dan Vanno… aku harus gimana sekarang? Ingatan
tentang kak Vanno muncul lagi setelah Lee datang. Aku takut Lee bikin aku
goyah, sedangkan Mark… Aku nggak tau kapan dia bakalan sembuh dan mengingat aku
lagi. God, why its gonna be complicated
now?”
Semalaman Glad sama sekali
nggak bisa tidur. Dan itu menyebabkan mata indahnya dihiasi oleh lingkaran
hitam yang cukup jelas terlihat. Dan seperti biasa Leon bertugas mengantarkan
adiknya ini. Meskipun sebenernya Glad udah menolak keras, tapi kakaknya tetep
maksa buat mengatar Glad pergi kuliah.
Glad memasuki kampus dengan
lemas. Sampai tiba-tiba Lee datang mengagetkannya.
“Morning, Princess.”
“Ya ampun, Lee. Kamu bikin
aku jantungan tau.”
“Maaf, deh, habis kamu
bengong aja. Kenapa? Terus itu matanya kenapa?” ucap Lee sambil menunjuk
lingkaran hitam di bawah mata Glad.
“Cuma masalah susah tidur
aja.” Ucap Glad berbohong.
“Jangan keseringan begadang,
ah. Nggak baik buat kesehatan kamu. Eh, kita masuk ke kelas barengan, yuk.”
Ucapnya sambil menggamit lengan Glad.
“Lee, lepasin. Nggak usah
kayak gini segala.”
Tapi Lee tidak menghiraukan
ucapan Glad. Dia terus saja menggandeng tangan Glad sampai masuk di kelas. Dan
tentu saja Clariss kaget bukan main melihat cowok yang datang bersama
sahabatnya itu mempunyai wajah yang
mirip dengan Vanno, mantan pacarnya Glad. Dari awal masuk sampai jam pertama
berakhir Lee terus menempel Glad. Terpaksa Clariss pergi ke kantin sendirian.
Untung saja ada anak-anak Westlife yang emang seneng banget nongkrong di kantin.
“Eh, Clariss, wajah kamu
kenapa? Dari tadi di tekuk terus deh?” Tanya Brian.
“Aku lagi bête banget tau.
Di kelas aku ada anak baru cowok. Dan kayaknya dia yang kemaren sama Glad. Hari
ini pun cowok itu nempel terus sama Glad. Sampai-sampai aku di cuekin Glad,”
gerutu Clariss.
“Tapi, kok bisa sih itu
cowok langsung akrab sama Glad? Diakan Ice
Princess?” sambung Brian.
“Karena, cowok itu agresif
banget. Dia yang ngejar-ngejar Glad, tapi alasan utamanya adalah karena cowok
itu mirip banget sama Vanno,” jelas Clariss.
“Vanno yang mantan pacarnya
Glad yang udah meninggal itu kan! Masa sih,” timpal Nicky nggak percaya.
“Aku serius. Bahkan kemaren
cowok itu yang anterin Glad pulang kerumah. Dan coba tebak, Glad langsung
nangis-nangis,” jelas Clariss.
“Kenapa nangis-nangis? Cowok
itu udah macem-macem sama Glad? Wah, kurang ajar tuh cowok,” cecar Shane emosi.
“Sabar, Shane. Hal lain yang
bikin Glad menangis. Apalagi kalau bukan karena Mark.” Ucap Clariss.
“Hah! Kenapa aku? Emang aku
ngapain Glad?” Tanya Mark kebingungan.
“Udah, deh, Mark. Nggak usah
di bahas lagi.” Balas Brian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar