Jumat, 21 Desember 2012

Chapter 3


Chapter 3


“Dia pasti datang, kok. Aku yakin itu.“ ucap Mark sembari menyemangati dirinya sendiri.


Malam pun tiba....
Mark sedang gelisah menunggu kedatangan Glad. Dan setengah jam kemudian Mark melihat sosok Glad masuk ke dalam restoran itu.
Mark bener-bener bahagia karena Glad akhirnya mau datang.
“Hai, Glad,“ sapa Mark dengan wajah sumringah. Glad masih berdiri dan belum mau duduk, “Langsung aja deh ada apa?“
 “Tapi kamu duduk dulu, please,“ Mark memohon.
Akhirnya Glad pun mau duduk.
“Oh iya, aku punya sesuatu buat kamu,“ ucap Mark.
Tapi Glad hanya diam. Lalu Mark pun berjalan ke arah piano dan duduk didepannya. Jari-jarinya mulai memainkan tuts dari lagu I DO.
“Tell me..
Can you feel my heart beat..
Tell me as I knell down at your feet.
I knew there would come a time, when there two hearts wouldn‘t rhyme,just put your head near mine, forever..

For so long I have been an island..
When no one could ever reach the shore..
And we‘ve got whole lifetime to share
And I‘ll alwasus be there
Darling this I swear..

So please.. Believe me..
For these words I say are true..
And don‘t deny me..
Are lifetime loving you..
And if you ask will I‘ll be true..
Do I give my arms to you..
Then I will say I DO..

I‘ m ready to begin this journey..
Well I‘m with you..
Every steps you takes..
Come on just take my hand..
Oh.. Come one let‘s make a steps for
our love..
I know this is so hard to believe..
So please.. So please.. Believe me..“

Jujur, hatiku berdebar hebat mendengar Mark menyanyikan sebuah lagu untukku. Apalagi Mark punya suara yang bisa menggetar hatiku.
Tapi sayang, itu belum bisa membuat hatiku luluh. Setelah selesai bernyanyi Mark pun menghampiri Glad.
 “Glad, kamu suka nggak sama lagunya? Aku sengaja nulis lagu ini khusus buat kamu, Glad,“ ucap Mark dengan mata berbinar-binar.
Tapi Glad cuma diam…
“Glad, aku cinta dan sayang banget sama kamu. Sejak pertama kali kita bertemu. Dan perasaan itu bener-bener kuat sampai detik ini.“ Mark mengungkapkan isi hatinya pada Glad.

Lagi-lagi Glad cuma mematung mendengar pengakuan dari Mark.
“Glad, kamu mau jadi pacar aku, kan?“ Tanya Mark.
Gladys silent.......
“Glad, please. Answer my question. Don‘t play me with your silent and suffering me,“ ucap Mark yang udah nggak tahan dengan sikap diamnya Glad.
“Glad, I really need your answer. Just a simple answer, YES or NO,“ ucap Mark.
“Did you really wanna hear my answer?“ Glad balik bertanya.
Thanks God, akhirnya dia mau bicar juga, ucap Mark dalam hati, “Yes, I need your answer right now, Glad. Tapi sebelumnya aku pengen kamu liat ada apa di sebelah kanan kamu, Glad.“

Glad pun menengok kesebelah kanannya. Dan... Glad kaget melihat rangkaian bunga favoritnya yang dirangkai menjadi sebuah tulisan YOU ARE MY ANGEL GLAD.
Namun, lagi-lagi kerasnya hati Glad benar-benar sudah menutupi mata hatinya.
“Jadi, apa jawaban kamu, Glad,“ suara Mark yang lembut kembali terdengar.
“NO. I have to go now. Bye,“ ucap Glad sambil beranjak pergi meninggalkan Mark yang mematung.

Dalam perjalanan pulang.
“Maaf, Mark. Aku bener-bener nggak bisa,“ ucap Glad dalam hati.
Waktu sampai dirumah, Glad melihat Clariss dan Leon. Clariss menangis tersedu sedangkan kakaknya cuma diam.
“Ada apalagi ini?“ ucap Glad dalam hati ketika memasuki rumah.
“Clariss, kamu kenapa nangis? Kak Leon, kenapa sih?“ tanya Glad penasaran. Tapi Leon dan Clariss saling diam.
“Ya udah, aku duluan, ya. Nite,“ ucap Glad sambil pergi menuju kamarnya yang berada di lantai atas.

Ketika sampai dikamar Glad langsung menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur. Matanya menerawang sambil menatap langit-langit kamarnya.
“Aku nggak ada waktu buat pacaran. Karena yang penting sekarang aku harus fokus buat balapan yang diadain dua minggu lagi. Aku harus menang,“ ucap Glad pada dirinya sendiri. Lalu Glad tertidur karena kelelahan.
###


Pagi harinya....
“Morning Mom, Dad,“ sapa Glad sambil mengecup pipi mommy dan daddy‘nya. Lalu duduk buat sarapan.
“Morning, sweety,“ balas Mandy.
“Eh, Kak Leon kemana?“ tanya Glad yang baru menyadari kalau kakak tercintanya tidak terlihat di meja makan.
“Kakakmu sudah berangkat. Jadi Daddy yang akan mengantar kamu ke kampus.” Jawab Louis.
“Nggak usah, Daddy. Glad mau bawa mobil sendiri aja,“ jawab Glad.
“Ya sudah, tapi jangan ngebut ya, sayang,!“ Mandy meperingatkan Glad.
“Beres, mom. Glad udah selesai. Pergi ke kampus dulu, ya. Bye mom, bye  dad,“ ucap Glad sambil mencium pipi mommy dan daddy‘nya.

Glad pun mengeluarkan mobil kesayangannya, yaitu sebuah mobil ferarri berwarna putih yang khusus dipesan Louis waktu Glad berulang tahun yang ke dua puluh tahun bulan Oktober yang lalu.

Di kampus...
Hari ini Mark bener-bener terlihat kusut. Ada lingkaran hitam di kedua matanya yang indah itu. Mark kayak zombie. Ah, pokoknya aneh banget. Bikin keempat sahabatnya bingung.

“Mark.. Mark.. Maaarrkkk,“ panggil Shane dengan setengah berteriak.
Tapi Mark cuma menjawab, “Hmm…!“
“Kamu kenapa sih? Kusut banget, mata kamu kenapa tuh hitam. Udah kayak panda aja,“ Kian bertanya.
Mark hanya meletakan tangannya ke dadanya tanpa berkata-kata.
 Brian sudah langsung mengerti, apa yang dimaksud oleh Mark.
 Brian berkata sambil menepuk pundak Mark, “Sabar, ya, Mark. Itulah Glad The Ice Princess.“
“Ya ampun, gara-gara Glad rupanya,“ Nicky berkata sambil menepuk dahinya.
“Sudah, kamu mending move on aja Mark,“Shane menyarankan.
NO, Shane. Aku nggak mau give up apalagi sampai move on. Aku masih yakin kalau suatu hari nanti Glad bakalan membuka pintu hatinya buat aku,“ sanggah Mark.
 Di tempat yang berbeda, tepatnya masih di kampus. Glad sedang berbincang dengan Clariss yang matanya masih keliatan bengkak karena menangis semalam.
Well, semalem kamu sama Kak Leon kenapa?“ Glad memecah keheningan diantara mereka berdua.
“Kita berantem, Glad,“ jawab Clariss dengan suara yang terdengar berat.
Glad mengernyitkan keningnya, “Berantem? Kenapa?“
Clariss menarik nafas dalam-dalam dan mulai bercerita. “Kemarin aku ke kantor Kak Leon, pas masuk aku liat Kak Leon lagi pelukan sama cewek lain, Glad,“ Clariss mulai menangis.

“Impossible, Kak Leon nggak mungkin berbuat seperti itu,“ sanggah Glad.
“Tapi aku liat dengan mata kepala aku sendiri,“ ucap Clariss terisak.
“Aku nggak percaya. Aku tau Kak Leon itu kayak gimana,“ Glad keukeh kalau kakaknya nggak mungkin mengkhianati sahabatnya itu.
 
“Cukup, Glad. Percuma aku cerita sama kamu, karena pasti kamu bakalan ngebela kakak kamu itu!“ ucap Clariss penuh emosi. Lalu Clariss pun pergi meninggalkan Glad.
“Lah, malah jadi salah paham gini, sih. Nggak tau, ah, pusing. Mendingan aku pergi ke sirkuit aja,“ ucap Glad pada dirinya sendiri.
###


Pas menuju parkiran mobil Glad bertemu dengan Mark dan kawan-kawannya.
Brian pun menyapa Glad, “Glad, mau kemana? Buru-buru banget?“
“Ada urusan. Duluan, Bye,“ jawab Glad sambil buru-buru menuju mobilnya lalu pergi.
“Sabar, ya, Mark,“ ucap Shane sambil menepuk bahu Mark.
“Don‘t worry, I‘m ok,“ timpal Mark dengan suara lemah.

Dublin Circuit...
Glad masuk ke pit menemui para engineer mesin motornya.
“Eh, settingan motornya udah diperbaiki lagi?“ tanya Glad pada Mike.
“Eh, kamu udah datang rupanya. Semua udah ok, tinggal test drive aja,“ jawab Mike.
“Ok, deh, aku siap-siap dulu, ya,“ ucap Glad sambil pergi menuju ruang ganti. Glad menganti pakaiannya dengan pakaian khusus balap. Mark pasti makin tergila-gila kalau liat Glad pakai baju balapnya, karena Glad sangat cantik sekali.
Setelah selesai Glad pun keluar buat mengetest motornya. Glad pun mulai memacu motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sudah 5 lap dan kondisi motor masih oke. Namun pada putaran ke 6 waktu ditikungan tiba-tiba Glad tidak bisa mengendalikan motornya. Insiden pun tidak dapat dihindari. Glad terjatuh dan terseret oleh motornya yang besar itu.Team‘nya segera berlari menuju tempat Glad terjatuh, karena tubuh Glad tidak bergerak sama sekali. Mereka langsung membawanya ke Rotundra Hospital.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar