Jumat, 21 Desember 2012

Chapter 11


Chapter 11

Tiba-tiba…
“Lepasin Glad…” Mark menarik Vanno dan memukulnya. “Heh, kurang ajar, mau kamu apain pacar aku. Kamu nggak apa-apakan, princess
“Aku nggak apa-apa, Mark.” Jawabku dengan suara yang masih ketakutan
Vanno yang tersungkur ke rumput memegang ujung bibirnya yang berdarah karena pukulan dari Mark. Lalu ia pun berdiri.
“Oh, jadi kamu yang udah merebut Glad dari tangan aku.” Tegurnya.
“Siapa yang merebut Glad? Kamu anak baru jangan sembarangan.” Hardik Mark.
“Mungkin aku memang anak baru disini. Tapi aku bukan orang yang baru di kehidupan Glad.” sanggahnya.
Lalu tak lama kemudian Brian dan Clariss pun datang dengan napas terengah-engah.
“Hey, ada apa ini?” tanya Brian ketika sampai di situ.
“Baguslah, kalian berdua juga datang.” Ucap Vanno.
“Memangnya ada apa sama kita berdua?” tanya Clariss.
“Tentu saja ada. Kenapa kalian biarin Glad pacaran sama dia.” Ucapnya sambil menunjuk kearah Mark.
“Memangnya kenapa kalau mereka berdua pacaran? Toh mereka berdua sama-sama suka, justru kita senang sekali, karena pada akhirnya bisa bersatu.” Ucap Brian.
“Eh, emangnya kalian berdua udah jadian, ya? Waktu kapan, kok aku nggak tau sih?” tanya Clariss dengan tampang yang lucu.
“Memangnya kamu siapa? Berani melarang Glad buat pacaran sama aku?” tanya Mark.
“Aku… Vanno.” Ucapnya dengan mantap.
Tentu sama Mark, Brian dan Clariss langsung kanget.
“Nggak mungkin, Vanno udah meninggal setahun yang lalu.” Sanggah Brian.
“Dia memang Vanno…” Ucapku sambil tertunduk.
“Mustahil…” ucap Clariss tak percaya.
“Aku memang Vanno. Setelah sekian lama koma akhirnya aku bisa melihat dunia ini kembali. Tadinya aku bener-bener bahagia karena akhirnya aku bisa kembali bersama Glad, karena dia satu-satunya alasan aku buat tetap hidup. Tapi ternyata dia malah berpaling.” Jelasnya dengan nada penuh kekecewaan.
“Karena sekarang aku merasa jauh lebih aman dan nyaman berada disamping Mark, Kak. Dan aku benar-benar mencintainya, bahkan melebihi rasa cinta dan sayang aku sama Kak Vanno.” Jelasku dengan penuh keyakinan.
“Nggak bisa, kamu nggak boleh sama cowok lain. Yang boleh memdampingi kamu Cuma aku, nggak boleh yang lain.” Dia berkata dengan penuh emosi.
“Maaf, Kak, tapi aku nggak bisa karena aku udah pilih Mark.” Jelasku.
“Glad, kamu pasti bakalan menyesali semua ini. Dan aku bakalan ambil kamu dari dia.” Ancamnya sambil pergi meninggalkan kami semua.

Mark memelukku dengan erat, “Sayang, kamu nggak apa-apa, kan?”
Aku hanya mengangguk dalam pelukannya dan mulai menangis terisak. Ya, berada di pelukan Mark seperti saat ini benar-benar membuatku merasa lebih tenang dan aman.
“Udah, sayang, jangan nangis. Ada aku disini, akku bakalan lindungin kamu dari Vanno.” Ucap Mark berusaha menenangkan aku.
“Aku nggak abis pikir kalau Vanno bisa sampai seperti itu.” Ucap Clariss.
“Dia bukan Vanno yang dulu, Clariss. Aku nggak kenal dengan sosoknya yang sekarang.” Ucapku masih dalam pelukan Mark.
“Udahlah, yang penting sekarang kalian berdua hati-hati aja. Btw, kalian berdua serius udah jadian, nih?” tanya Brian.
“Iya, kita berdua udah resmi pacaran. Akhirnya pengorbanan aku selama ini nggak sia-sia. Hehehe…” jawab Mark sambil tersenyum.
“Ngomong-ngomong kita ke kantin aja yuk. Udah nggak mungkin masuk ke kelas, kan. Udah telat banget soalnya.” Clariss menyarankan.

Kami berempat pun pergi menuju ke kantin dan mengobrol disana sambil menunggu Nicky, Shane dan Kian selesai. Tentu saja mereka bertiga heran melihat kami sudah ada di sana.
“Lho, kok pada ada disini sih?” tanya Kian.
“Dari mana kalian berdua? Kok tadi nggak masuk, sih?” tegur Shane pada Brian dan Mark.
“Kita berempat bolos. Hehehehe…” jawab Brian sambil tertawa.
“Heh, kalian berempat bolos? Ngapain aja kalian dari pagi sampai siang gini?” sambung Nicky.
“Nolongin, Glad. Soalnya tadi pagi pas di kelas dia di tarik-tarik keluar dari kelas dengan kasar sama Vanno.” Jawab Clariss.
“Hah! Vanno…” jawab Shane, Nicky dan Kian barengan.
“Iya, untung aja kita bertiga buru-buru datang. Kalau terlambat, nggak tau gimana jadinya.” Sambung Brian.
“Tunggu, tunggu… bukannya Vanno itu udah lama meninggalkan?” tanya Nicky.
“Dia ternyata masih hidup, Nick. Lee itu adalah Vanno.” Jelas Mark.
“Ah, masih nggak ngerti aku. Cerita dari awal dong.” Pinta Kian.   
Lalu Glad pun menceritakan semuanya dari awal sampai kejadian yang baru saja di alaminya tadi pagi.
“Ya ampun, nekat banget ya dia.” Ucap Nicky setelah mendengarkan cerita dari Glad.
“Dulu dia nggak kayak gini. Sekarang aku nggak kenal dengan sosoknya.” Jawabku.
“Ngomong-ngomong, jadi ada yang baru jadian nih. Asyik makan-makan, nih.” Ucap Shane menggoda Mark dan Glad.
“Iya,iya, nanti aku traktir kalian semua, kok.” Jawab Mark.
“Moga langgeng, ya.” Kian memberi selamat pada mereka berdua.
“Amien…” jawab Mark dan Glad bersamaan.
“Eh, gimana kalau malam minggu besok kita barbeque’an. Pasti seru tuh.” Brian member ide.
“Wah, boleh juga tuh idenya aku mau ajakin Georgina ahh.” Ucap Nicky.
“Mau di mana tempatnya?” tanya Shane.
“DI Villa milik keluarga kamu aja, Glad. itu loh yang di Strandhill.” Jawab Brian.
“Boleh tuh, nanti aku bilang ke Daddy dulu, ya.” Jawabku.
“Pasti bolehlah. Kan Clariss juga ikutan, otomatis Kak Leon juga ikutan, dong.” Timpal Kian.
“Iya-iya, nanti aku kabarin lagi, ya. Eh, ajakin pacar-pacar kalian, ya. Biar tambah seru” Tambahku.
“Pasti itu.” Jawab Shane.
Selesai kuliah aku dan Mark memutuskan untuk pergi jalan-jalan sebentar. Karena kebetulan ada buku yang harus aku beli, jadi kami pergi ke toko buku di Everly Mall. Dan setelah  menemukan bukunya Mark mengantarkan aku pulang. Waktu sampai Kak Leon dan Daddy sudah pulang. Kakak kaget melihat Mark mengantarku pulang.
“Oh iya, Mom, Dad, kanalin ini Mark Feehily pacar aku.” Ucapku memperkenalkan pacarku tersayang pada kedua orang tuaku.
“Kamu tampan, Mark.” Puji Mommy.
“Makasih, Tante.” Jawabnya dengan pipi yang memerah.
“Eh, akhirnya kalian jadian juga. Kenapa nggak dari dulu aja sih.” Ledek Kak Leon.
“Kakak masa nggak tau sih, gimana susahnya meluluhkan hati Glad. Mesti ngalamin dulu banyak kejadian, tapi nggak apa-apa kok. Karena pada akhirnya Glad mau juga membuka pintu hatinya.” Jelas Mark.
“Harap maklum, Mark, Glad ini memang cuek anaknya, tapi manjanya minta ampun.” Daddy ikutan ngomong juga.
“Ah, udah dong jangan buka kartu aku.” Ucapku sambil merengek manja pada Daddy.
“Tuh, kan, belum apa-apa udah keluar sifat manjanya.” Ucap Daddy sambil tertawa.
Mark hanya tertawa melihat Daddy menggodaku.
“Mark… jangan ikutan ketawa, ihh.” Seruku dengan wajah yang sudah semerah buah tomat.
“Maaf, hehehe…” ucapnya sambil terkekeh.
Dan Ya Tuhan… senyumannya itu bikin aku hamper pingsan, apalagi di hiasi lesung pipit di kedua pipinya. Mark… jangan pernah berhenti tersenyum buat aku.
Tiba-tiba Kak Leon membuyarkan lamunanku.
“Hey, kenapa malah bengong sambil senyum-senyum sendiri gitu, sih.” Tergur Kakakku.
Dengan wajah yang sudah memerah aku pun menjawab, “Nggak apa-apa kok, Kak,”. “Eh iya, Daddy, Glad bolehkan pakai Villa yang di Strandhill? Buat hari Sabtu sama Minggu. Glad sama teman-teman mau barbequean disana,” ucapku.
“Boleh saja, asalkan Kakakmu ikutan juga.” Jawab Daddy.
“Kakak pasti ikut kok, Clariss juga ikutan, Dad.” Ucapku.
“Acara sama teman kampus?” tanya Kakak.
“Nggak juga sih, Kak, Cuma aku, Clariss, Mark sama teman-temannya Mark.” Balasku.
“Oke, deh, Kakak pasti ikutan. Soalnya udah lama nih nggak ketemu sama Clariss, gara-gara sibuk di kantor.” Jawab Kakak sambil tersenyum.
Kami pun melanjutkan obrolan kami sampai larut malam. Sebelum akhirnya Mark pamit untuk pulang ke apartementnya. Setelah Mark pulang aku pun masuk ke kamar dan tidur dengan nyenyak sekali. Belum pernah aku tidur senyenyak ini.
Keesokkan harinya seperti kemarin Mark menjemputku dan kami berangkat ke kampus bersama-sama. Sejak rencana untuk mengadakan pesta barbeque itu tercetus dari bibir Brian, kami semua sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Kami benar-benar excited dan sudah tidak sabar menunggu hari Sabtu tiba. Aku dan Mark bolak balik ke Strandhill untuk menyiapkan perlengkapan yang kami butuhkan nanti. Aku benar-benar suka sekali berada di Strandhill, karena aku sangat suka dengan laut. Kebetulan sekali Villa milik keluarga kami memiliki view yang langsung mengarah ke laut. Ah, pokoknya sangat indah. Semoga nanti kalau sudah menikah aku bisa membangun sebuah rumah di daerah ini.
Sore itu kami berdua masih berada di Villa. Kami berdua duduk di gazebo yang ada di lantai dua dan menghadap langnsung ke laut. Tempat ini jadi favoritku, karena bisa melihat sunset dengan sangat jelas dari sini.
“Aku sangat, sangat suka menghabiskan waktu disini. Apalagi sore hari.” Ucapku memecah keheningan.
“Villa ini punya view yang sangat bagus dan indah.” Jawab Mark.
“Iya, tapi menurut aku tempat terbaik dari tempat ini tuh disini. Soalnya kita bisa liat sunset yang indah banget.” Seruku bersemangat.
“Eh, kayaknya sebentar lagi muncul tuh,” Mark memberitahu.
Aku langsung mengarahkan pandanganku ke depan, karena semburat berwarna jingga mulai terlihat di saat aku sedang terkagum-kagum dengan pemandangan di depanku. Tiba-tiba Mark mencium bibirku dengan sangat mesra.
“Sayang, I love you so much. You’re my life, my breath and my everything.” Ucapnya dengan lembut.
Belum sempat menjawab perkataannya dia kemballi mendaratkan sebuah ciuman di bibirku. Ah, suasananya sangat romantic. Kami benar-benar terbawa suasana sore itu, berciuman di senja hari sambil menikmati matahari terbenam. Moment yang aku inginkan sejak dulu, dan dengan Mark aku bisa mewujudkannya. My perfect day with my perfect prince. Malamnya kami pun pulang ke Dublin. Mark mengantarkanku sampai rumah setelah itu dia langsung pamit karena lelah. Apalagi besok sudah hari Jum’at. Kami benar-benar tidak sabar, rencananya aku, Mark, Clariss dan Kak Leon akan menginap di Villa sejak Jum’at sore. Sedangkan teman-teman yang lain baru akan menyusul kami pada hari Sabtu pagi bersama Brian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar