Chapter 11
Tiba-tiba…
“Lepasin
Glad…” Mark menarik Vanno dan memukulnya. “Heh, kurang ajar, mau kamu apain
pacar aku. Kamu nggak apa-apakan, princess”
“Aku nggak
apa-apa, Mark.” Jawabku dengan suara yang masih ketakutan
Vanno yang
tersungkur ke rumput memegang ujung bibirnya yang berdarah karena pukulan dari
Mark. Lalu ia pun berdiri.
“Oh, jadi
kamu yang udah merebut Glad dari tangan aku.” Tegurnya.
“Siapa yang
merebut Glad? Kamu anak baru jangan sembarangan.” Hardik Mark.
“Mungkin
aku memang anak baru disini. Tapi aku bukan orang yang baru di kehidupan Glad.”
sanggahnya.
Lalu tak
lama kemudian Brian dan Clariss pun datang dengan napas terengah-engah.
“Hey, ada
apa ini?” tanya Brian ketika sampai di situ.
“Baguslah,
kalian berdua juga datang.” Ucap Vanno.
“Memangnya
ada apa sama kita berdua?” tanya Clariss.
“Tentu saja
ada. Kenapa kalian biarin Glad pacaran sama dia.” Ucapnya sambil menunjuk
kearah Mark.
“Memangnya
kenapa kalau mereka berdua pacaran? Toh mereka berdua sama-sama suka, justru
kita senang sekali, karena pada akhirnya bisa bersatu.” Ucap Brian.
“Eh,
emangnya kalian berdua udah jadian, ya? Waktu kapan, kok aku nggak tau sih?”
tanya Clariss dengan tampang yang lucu.
“Memangnya
kamu siapa? Berani melarang Glad buat pacaran sama aku?” tanya Mark.
“Aku…
Vanno.” Ucapnya dengan mantap.
Tentu sama
Mark, Brian dan Clariss langsung kanget.
“Nggak
mungkin, Vanno udah meninggal setahun yang lalu.” Sanggah Brian.
“Dia memang
Vanno…” Ucapku sambil tertunduk.
“Mustahil…”
ucap Clariss tak percaya.
“Aku memang
Vanno. Setelah sekian lama koma akhirnya aku bisa melihat dunia ini kembali.
Tadinya aku bener-bener bahagia karena akhirnya aku bisa kembali bersama Glad,
karena dia satu-satunya alasan aku buat tetap hidup. Tapi ternyata dia malah berpaling.”
Jelasnya dengan nada penuh kekecewaan.
“Karena
sekarang aku merasa jauh lebih aman dan nyaman berada disamping Mark, Kak. Dan
aku benar-benar mencintainya, bahkan melebihi rasa cinta dan sayang aku sama
Kak Vanno.” Jelasku dengan penuh keyakinan.
“Nggak
bisa, kamu nggak boleh sama cowok lain. Yang boleh memdampingi kamu Cuma aku,
nggak boleh yang lain.” Dia berkata dengan penuh emosi.
“Maaf, Kak,
tapi aku nggak bisa karena aku udah pilih Mark.” Jelasku.
“Glad, kamu
pasti bakalan menyesali semua ini. Dan aku bakalan ambil kamu dari dia.”
Ancamnya sambil pergi meninggalkan kami semua.
Mark
memelukku dengan erat, “Sayang, kamu nggak apa-apa, kan?”
Aku hanya
mengangguk dalam pelukannya dan mulai menangis terisak. Ya, berada di pelukan
Mark seperti saat ini benar-benar membuatku merasa lebih tenang dan aman.
“Udah,
sayang, jangan nangis. Ada aku disini, akku bakalan lindungin kamu dari Vanno.”
Ucap Mark berusaha menenangkan aku.
“Aku nggak
abis pikir kalau Vanno bisa sampai seperti itu.” Ucap Clariss.
“Dia bukan
Vanno yang dulu, Clariss. Aku nggak kenal dengan sosoknya yang sekarang.”
Ucapku masih dalam pelukan Mark.
“Udahlah,
yang penting sekarang kalian berdua hati-hati aja. Btw, kalian berdua serius
udah jadian, nih?” tanya Brian.
“Iya, kita
berdua udah resmi pacaran. Akhirnya pengorbanan aku selama ini nggak sia-sia.
Hehehe…” jawab Mark sambil tersenyum.
“Ngomong-ngomong
kita ke kantin aja yuk. Udah nggak mungkin masuk ke kelas, kan. Udah telat
banget soalnya.” Clariss menyarankan.
Kami
berempat pun pergi menuju ke kantin dan mengobrol disana sambil menunggu Nicky,
Shane dan Kian selesai. Tentu saja mereka bertiga heran melihat kami sudah ada
di sana.
“Lho, kok
pada ada disini sih?” tanya Kian.
“Dari mana
kalian berdua? Kok tadi nggak masuk, sih?” tegur Shane pada Brian dan Mark.
“Kita
berempat bolos. Hehehehe…” jawab Brian sambil tertawa.
“Heh,
kalian berempat bolos? Ngapain aja kalian dari pagi sampai siang gini?” sambung
Nicky.
“Nolongin,
Glad. Soalnya tadi pagi pas di kelas dia di tarik-tarik keluar dari kelas
dengan kasar sama Vanno.” Jawab Clariss.
“Hah!
Vanno…” jawab Shane, Nicky dan Kian barengan.
“Iya,
untung aja kita bertiga buru-buru datang. Kalau terlambat, nggak tau gimana
jadinya.” Sambung Brian.
“Tunggu,
tunggu… bukannya Vanno itu udah lama meninggalkan?” tanya Nicky.
“Dia
ternyata masih hidup, Nick. Lee itu adalah Vanno.” Jelas Mark.
“Ah, masih
nggak ngerti aku. Cerita dari awal dong.” Pinta Kian.
Lalu Glad
pun menceritakan semuanya dari awal sampai kejadian yang baru saja di alaminya
tadi pagi.
“Ya ampun,
nekat banget ya dia.” Ucap Nicky setelah mendengarkan cerita dari Glad.
“Dulu dia
nggak kayak gini. Sekarang aku nggak kenal dengan sosoknya.” Jawabku.
“Ngomong-ngomong,
jadi ada yang baru jadian nih. Asyik makan-makan, nih.” Ucap Shane menggoda
Mark dan Glad.
“Iya,iya,
nanti aku traktir kalian semua, kok.” Jawab Mark.
“Moga
langgeng, ya.” Kian memberi selamat pada mereka berdua.
“Amien…”
jawab Mark dan Glad bersamaan.
“Eh, gimana
kalau malam minggu besok kita barbeque’an. Pasti seru tuh.” Brian member ide.
“Wah, boleh
juga tuh idenya aku mau ajakin Georgina ahh.” Ucap Nicky.
“Mau di
mana tempatnya?” tanya Shane.
“DI Villa
milik keluarga kamu aja, Glad. itu loh yang di Strandhill.” Jawab Brian.
“Boleh tuh,
nanti aku bilang ke Daddy dulu, ya.” Jawabku.
“Pasti
bolehlah. Kan Clariss juga ikutan, otomatis Kak Leon juga ikutan, dong.” Timpal
Kian.
“Iya-iya,
nanti aku kabarin lagi, ya. Eh, ajakin pacar-pacar kalian, ya. Biar tambah seru”
Tambahku.
“Pasti
itu.” Jawab Shane.
Selesai
kuliah aku dan Mark memutuskan untuk pergi jalan-jalan sebentar. Karena
kebetulan ada buku yang harus aku beli, jadi kami pergi ke toko buku di Everly
Mall. Dan setelah menemukan bukunya Mark
mengantarkan aku pulang. Waktu sampai Kak Leon dan Daddy sudah pulang. Kakak
kaget melihat Mark mengantarku pulang.
“Oh iya, Mom,
Dad, kanalin ini Mark Feehily pacar aku.” Ucapku memperkenalkan pacarku tersayang
pada kedua orang tuaku.
“Kamu
tampan, Mark.” Puji Mommy.
“Makasih,
Tante.” Jawabnya dengan pipi yang memerah.
“Eh,
akhirnya kalian jadian juga. Kenapa nggak dari dulu aja sih.” Ledek Kak Leon.
“Kakak masa
nggak tau sih, gimana susahnya meluluhkan hati Glad. Mesti ngalamin dulu banyak
kejadian, tapi nggak apa-apa kok. Karena pada akhirnya Glad mau juga membuka
pintu hatinya.” Jelas Mark.
“Harap
maklum, Mark, Glad ini memang cuek anaknya, tapi manjanya minta ampun.” Daddy
ikutan ngomong juga.
“Ah, udah
dong jangan buka kartu aku.” Ucapku sambil merengek manja pada Daddy.
“Tuh, kan,
belum apa-apa udah keluar sifat manjanya.” Ucap Daddy sambil tertawa.
Mark hanya
tertawa melihat Daddy menggodaku.
“Mark…
jangan ikutan ketawa, ihh.” Seruku dengan wajah yang sudah semerah buah tomat.
“Maaf,
hehehe…” ucapnya sambil terkekeh.
Dan Ya
Tuhan… senyumannya itu bikin aku hamper pingsan, apalagi di hiasi lesung pipit
di kedua pipinya. Mark… jangan pernah berhenti tersenyum buat aku.
Tiba-tiba
Kak Leon membuyarkan lamunanku.
“Hey,
kenapa malah bengong sambil senyum-senyum sendiri gitu, sih.” Tergur Kakakku.
Dengan
wajah yang sudah memerah aku pun menjawab, “Nggak apa-apa kok, Kak,”. “Eh iya,
Daddy, Glad bolehkan pakai Villa yang di Strandhill? Buat hari Sabtu sama
Minggu. Glad sama teman-teman mau barbequean disana,” ucapku.
“Boleh
saja, asalkan Kakakmu ikutan juga.” Jawab Daddy.
“Kakak
pasti ikut kok, Clariss juga ikutan, Dad.” Ucapku.
“Acara sama
teman kampus?” tanya Kakak.
“Nggak juga
sih, Kak, Cuma aku, Clariss, Mark sama teman-temannya Mark.” Balasku.
“Oke, deh,
Kakak pasti ikutan. Soalnya udah lama nih nggak ketemu sama Clariss, gara-gara
sibuk di kantor.” Jawab Kakak sambil tersenyum.
Kami pun
melanjutkan obrolan kami sampai larut malam. Sebelum akhirnya Mark pamit untuk
pulang ke apartementnya. Setelah Mark pulang aku pun masuk ke kamar dan tidur
dengan nyenyak sekali. Belum pernah aku tidur senyenyak ini.
Keesokkan
harinya seperti kemarin Mark menjemputku dan kami berangkat ke kampus
bersama-sama. Sejak rencana untuk mengadakan pesta barbeque itu tercetus dari
bibir Brian, kami semua sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Kami benar-benar excited dan sudah tidak sabar menunggu
hari Sabtu tiba. Aku dan Mark bolak balik ke Strandhill untuk menyiapkan
perlengkapan yang kami butuhkan nanti. Aku benar-benar suka sekali berada di
Strandhill, karena aku sangat suka dengan laut. Kebetulan sekali Villa milik
keluarga kami memiliki view yang
langsung mengarah ke laut. Ah, pokoknya sangat indah. Semoga nanti kalau sudah
menikah aku bisa membangun sebuah rumah di daerah ini.
Sore itu
kami berdua masih berada di Villa. Kami berdua duduk di gazebo yang ada di lantai dua dan menghadap langnsung ke laut.
Tempat ini jadi favoritku, karena bisa melihat sunset dengan sangat jelas dari sini.
“Aku
sangat, sangat suka menghabiskan waktu disini. Apalagi sore hari.” Ucapku
memecah keheningan.
“Villa ini
punya view yang sangat bagus dan
indah.” Jawab Mark.
“Iya, tapi
menurut aku tempat terbaik dari tempat ini tuh disini. Soalnya kita bisa liat sunset yang indah banget.” Seruku
bersemangat.
“Eh,
kayaknya sebentar lagi muncul tuh,” Mark memberitahu.
Aku
langsung mengarahkan pandanganku ke depan, karena semburat berwarna jingga
mulai terlihat di saat aku sedang terkagum-kagum dengan pemandangan di depanku.
Tiba-tiba Mark mencium bibirku dengan sangat mesra.
“Sayang, I love you so much. You’re my life, my
breath and my everything.” Ucapnya dengan lembut.
Belum
sempat menjawab perkataannya dia kemballi mendaratkan sebuah ciuman di bibirku.
Ah, suasananya sangat romantic. Kami benar-benar terbawa suasana sore itu,
berciuman di senja hari sambil menikmati matahari terbenam. Moment yang aku
inginkan sejak dulu, dan dengan Mark aku bisa mewujudkannya. My perfect day with my perfect prince. Malamnya
kami pun pulang ke Dublin. Mark mengantarkanku sampai rumah setelah itu dia
langsung pamit karena lelah. Apalagi besok sudah hari Jum’at. Kami benar-benar
tidak sabar, rencananya aku, Mark, Clariss dan Kak Leon akan menginap di Villa
sejak Jum’at sore. Sedangkan teman-teman yang lain baru akan menyusul kami pada
hari Sabtu pagi bersama Brian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar