Chapter 4
Rotundra
Hospital...
Glad mengalami patah di beberapa bagian tulang rusuknya dan
memar-memar di tangannya. Dan dokter menyuruh Glad untuk menjalani perawatan
selama beberapa hari di rumah sakit. Tapi, Glad tetap memaksa untuk pulang.
“Please, Mike. Aku nggak mau kalau harus dirawat. Nanti Mommy sama
Daddy tau dan bakalan marah besar kalau tau aku ikut balapan,“ pinta Glad pada
Mike.
“Ya sudah, kalau kamu maunya kayak gitu. Tapi kamu harus
istirahat, ya,“ Mike menperingatkan.
Glad pun hanya mengangguk menyetujui syarat yang di ajukan
oleh Mike.
Di basecamp...
“Mark, seriusan nih nggak mau move on dari Glad?“ Nicky bertanya lagi.
“Nggak akan. Aku kan udah bilang kalau aku nggak akan pernah
MOVE ON,“ jawab Mark sambil memberi
penekanan pada kalimat terakhir yang di ucapkannya.
“Wah, sayang. Padahal ada cewek yang nggak kalah cantik dari
Glad yang ngejar-ngejar kamu,“ tambah Nicky.
“Siapa, Nicky?“ Kian bertanya dengan ekspresi wajah
penasaran yang lucu.
“Itu, loh adik kelas kita waktu SMA dulu. Jean, yang
ngejar-ngejar Mark. Aku baru tau kalau dia satu kampus sama kita,“ jelas Nicky.
Glad yang udah ada dirumah mutusin buat langsung tidur aja.
Daripada luka-lukanya diketahui oleh mommy, daddy dan kakaknya. Keesokan
harinya, pas bangun tidur Glad merintih, menahan rasa sakitnya itu dan tetap
memaksakan diri pergi ke kampus.
Waktu di ruang makan lagi-lagi Glad tidak melihat sang kakak.
“Kak Leon udah berangkat, ya?“ tanya Glad.
“Iya, tadi pagi-pagi sekali Leon berangkat ke New York,“ jawab Louis.
“Kok tiba-tiba sih, dad?“ tanya Glad.
“Tadinya mau pamit sama kamu, sayang. Tapi Leon nggak tega
bangunin kamu,“ jelas Louis.
Mandy baru menyadari kalau wajahnya Glad terlihat pucat, “Are you oke, honey?“ Mandy bertanya sambil memegang kening putri kecilnya itu.
Mandy baru menyadari kalau wajahnya Glad terlihat pucat, “Are you oke, honey?“ Mandy bertanya sambil memegang kening putri kecilnya itu.
“I‘m oke, mom. Cuma kecapean aja, lagi banyak tugas soalnya,“ Glad
berbohong. Setelah menghabiskan susunya Glad pamit pergi ke kampus, sebelum
orang tuanya curiga.
Di kampus...
Anak-anak Westlife didatangi oleh seorang cewek yang bernama
Jean. Jean terus saja berusaha untuk mendapatkan perhatian dari Mark. Tapi Mark
tidak menghiraukannya. Apalagi waktu Mark liat bidadari hatinya lewat. Mata
Mark nggak berkedip sedikitpun memandangi Glad. Jean pun kesal bukan main.
Setelah Mark pergi, Jean pun bertanya tentang Glad.
“Cewek yang barusan lewat tadi siapa, sih?“ tanya Jean
jutek.
“Glad maksud kamu. Dia itu cewek yang sukses bikin Mark
tergila-gila dan patah hati sekaligus. Tapi meskipun begitu Mark sama sekali
nggak mau dan nggak punya niatan buat move
on,“Shane menjelaskan.
Mendengarkan penjelasan dari Shane, muncul niat yang tidak
baik di hati Jean.
###
Ketika sedang membaca buku di kantin tiba-tiba Leon menelepon Glad.
“Hallo, de. Lagi dikampus, ya?“ tanya Leon.
“Iya, kak. Eh, Kak maen pergi-pergi aja. Mau lari dari
masalah, ya. Wah parah nih, gara-gara kakak Clariss ngambek sama aku tuh,“
cerocos Glad memarahi kakaknya.
“Idih, siapa yang lari dari masalah. Kakak kan lagi ada
kerjaan di New York. De, kakak mau
minta tolong dong bisa, kan?“ lanjut Leon.
“Minta tolong apaan, kak?“
“Lusa, kakak pulang ke Dublin. Nah, terus kamu bisa nggak
ambilin cincin yang kakak pesen buat Clariss,“ jelas Leon.
“Wait, kakak udah siapin cincin buat Clariss?“ tanya Glad heran.
“Iya, de. Kakak tu pengen buktiin kalau kakak bener-bener
serius pacaran sama dia,“ jelas Leon.
“Eh, kak, tapi Clariss bilang katanya dia liat kakak pelukan sama cewek.“ jawab Glad.
“Iya, kakak, emang pelukan sama cewek, de. Kamu masih inget sama Viola sahabat kakak, kan,“ Leon balik tanya.
“Eh, kak, tapi Clariss bilang katanya dia liat kakak pelukan sama cewek.“ jawab Glad.
“Iya, kakak, emang pelukan sama cewek, de. Kamu masih inget sama Viola sahabat kakak, kan,“ Leon balik tanya.
“Kak Viola, inget kok, kak.“ Jawab Glad sambil mengangguk.
“Yang Clariss liat itu Viola, de. Wajar, kan kita pelukan.
Toh, Viola dating buat nganterin undangan pernikahannya. Tapi Clariss nggak mau
denger penjelasan kakak,“ jelas Leon.
“OMG, Clariss salah paham. Ya udah, kak, biar Glad urus,“ jawab Glad.
“OMG, Clariss salah paham. Ya udah, kak, biar Glad urus,“ jawab Glad.
“Thank you, adikku yang cantik. Udah dulu, ya. Nanti kakak telepon
lagi. Take care, ya,“ Leon
mengingatkan.
“You too, kakak ku yang cakep,“ balas Glad yang lalu menutup
teleponnya.
Tiba-tiba rasa sakitnya itu kembali menyerang. Dan Glad cuma
bisa merintih tertahan.
“Auww, sakit banget. Ternyata mengalami patah tulang itu menyiksa,“ batin Glad.
“Auww, sakit banget. Ternyata mengalami patah tulang itu menyiksa,“ batin Glad.
Lalu datanglah Jean bersama kedua temannya sambil menggebrak
meja Glad. Braakkk...
“Kamu yang namanya, Gladys?“ tanya Jean sambil berkacak pinggang.
“Kamu yang namanya, Gladys?“ tanya Jean sambil berkacak pinggang.
Glad pun berdiri sambil menahan rasa sakitnya itu,“Nanyanya
baik-baik dong. Nggak sopan banget main gebrak meja. Dan lagi pula aku nggak
kenal dan punya urusan sama kamu.“
“Heh, tunggu. Jangan sok, deh. Mentang-mentang kamu punya wajah yang cantik kamu bisa seenaknya,“ seru Jean.
“Heh, tunggu. Jangan sok, deh. Mentang-mentang kamu punya wajah yang cantik kamu bisa seenaknya,“ seru Jean.
“Nggak usah bertele-tele. Lu mau apa sama gue?“ bentak Glad.
Mendengar itu Jean sempat ciut. Tapi gengsi dong kalau
pasang muka takut.
“Jauhin Mark. Jangan sekali-kali deketin dia. Ngerti kamu,“
Jean berkata sambil menunjuk-nunjuk wajah Glad.
“Sorry, gue deketin Mark. Nggak salah tu. Ada juga dia yang
ngejar-ngejar gue. Mendingan lu pergi dari hadapan gue sebelum gue bener-bener
habis kesabaran, SEKARANG JUGA,“ bentak Glad nggak kalah galak.
Dibentak gitu Jean pun pegi meninggalkan Glad bersama dua
orang temannya dengan perasaan yang sangat dongkol.
Tiba-tiba Clariss menghampiri, tapi Glad langsung terduduk,
sambil merintih kesakitan.
“Glad, kamu kenapa? Kamu nggak apa-apa, kan?“ tanya Clariss panic.
“Glad, kamu kenapa? Kamu nggak apa-apa, kan?“ tanya Clariss panic.
“Sakit banget, Clariss. Aku nggak kuat,“ jawab Glad dengan
wajah yang sangat pucat.
“Ya ampun, Glad, kamu kenapa?“ melihat itu Clariss semakin
panic.
“Clariss, bisa tolong ambilin obat yang ada di tas aku,please.“ Glad memohon.
Dan tanpa banyak bertanya Clariss langsung mengambilnya dan
memberikannya pada Glad. Setelah Glad meminumnya pun Clariss belum bertanya
apa-apa. Barulah setelah Glad kelihatan membaik Clariss bertanya.
“Itu obat apa? Kamu baik-baik aja, kan. Jangan bohong sama
aku,“ Clariss langsung membanjiri Glad dengan banyak pertanyaan.
“Kemarin, aku kecelakaan. Dan tulang rusuk aku patah,“ jelas
Glad.
“Kecelakaan? Dimana?“ tanya Clariss kaget.
“Kecelakaan motor di Dublin
circuit,“ jawab Glad dengan santai.
Clariss cuma melotot karena dia tahu pasti kalau Glad trauma
dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan motor dan sirkuit.
“Ngapain kamu ada di sirkuit?“ tanya Clariss.
“Sudah tiga bulan terakhir ini aku menekuni dunia balap.
Karena aku merasakan dan menemukan hal yang luar biasa. Ada kepuasan tersendiri
ketika mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Meskipun aku tau, resikonya
sangat besar,“ Glad bercerita dengan mata yang berbinar-binar.
Clariss baru lihat wajah Glad berseri setelah selama setahun ini murung karena kepergian Vanno.
“Apa ada yang tau tentang ini, Glad?“ tanya Clariss.
Clariss baru lihat wajah Glad berseri setelah selama setahun ini murung karena kepergian Vanno.
“Apa ada yang tau tentang ini, Glad?“ tanya Clariss.
Sambil menggeleng kepala, “Mommy, daddy dan Kak Leon sama
sekali nggak tau tentang ini,“ timpal Glad.
“Glad, kenapa kamu nggak cerita, sih? Aku yakin kamu nggak
baik-baik saja, kan.“ ucap Clariss khawatir.
“I feel better now. Don‘t worry,“ ucap Glad menenangkan sahabatnya itu.
“I feel better now. Don‘t worry,“ ucap Glad menenangkan sahabatnya itu.
“I‘m not
sure,“ tambah Clariss.
“Well, sekarang aku mesti ke sirkuit.“ ucap Glad sambil berdiri.
“Aku ikut. I‘m worried
about you, Glad,“ pinta Clariss.
Glad pun mengangguk tanda setuju. Lalu berangkatlah mereka
berdua menuju ke Dublin Circuit. Dan Clariss lah yang menyetir mobilnya Glad.
Di tempat yang lain, Jean sedang mencari cara untuk membuat
Glad tunduk padanya. Ternyata Glad bukanlah tipe cewek yang lemah. Apalagi
cewek seperti Glad ini adalah tipe cewek impiannya Mark.
“Damn, ternyata
Glad nggak selemah yang aku kira. What am
i to do to destroy her?“ keluh Jean.
Dublin Circuit.
Dublin Circuit.
Orang-orang disana kaget melihat kedatangan Glad.
“Glad.. Ngapain kamu disini?“ tegur Mike.
“Buat latihan lagi,“ jawab Glad dengan santai.
“You‘re
the spoiledhead girl.“ timpal
Mike.
“Yes I
am,“ jawab Glad sambil nyengir.
Glad pun bergegas mengganti pakaiannya dengan pakaian balap.
Sebelum menuju ke track..
“Glad, apa kamu yakin? Kamu belum sembuh,“ Clariss
mengingatkan.
“Just
trust me, Clariss,“ Glad meyakinkan sahabatnya itu. Dan
Glad pun pergi menuju track. Clariss nggak tenang melihat Glad mengendarai
motor dengan kecepatan yang tinggi. Apalagi dengan keadaannya saat ini.
Terlebih motor Glad sering kali bergoyang dan hampir jatuh. Tapi untung lah
Glad menyelesaikan test drive‘nya itu
dengan lancar. Dan Glad langsung ambruk, karena nggak kuat menahan sakitnya
itu.
“Keadaannya sekarang gimana?“ tanya Mike pada Clariss.
“Udah mulai membaik, tadi udah aku kasih obat penghilang
rasa sakitnya,“ jelas Clariss.
Dan setelah Glad baikkan, Clariss membawa Glad pulang.
Keesokkan harinya, selesai kuliah Glad sengaja pulang
sendiri, karena hari itu Glad mau pergi ngambil cincin yang sudah di pesan
kakaknya karena besok Leon pulang. Dan setelah mengambil cincin pesanan sang
kakak, Glad langsung pulang untuk beristirahat, untung saja besok hari minggu
jadi Glad bisa bangun siang.
Hari minggu siang...
Leon sudah pulang, tapi Glad masih tidur.
“Glad mana? Kok nggak ada?“ tanya Leon.
“Adikmu itu masih tidur. Kasian, kayanya kecapean,“ jelas
Louis.
“Leon mau liat Glad dlu ahh,“ sambil beranjak dari sofa.
“Awas, jangan dibangunin loh,“ Mandy memperingatkan.
“Beres, mom,“ jawab Leon sambil berlalu.
Sesampainya disana Leon melihat adik tersayangnya itu masih
tidur dengan wajah yang agak pucat. Leon pun iseng mencari cincin yang akan
diberikan pada Clariss nanti malam.
Leon membuka laci dan menemukan sebuah map dengan tulisan ROTUNDRA HOSPITAL dengan ukuran huruf kapital, disitu juga tertulis nama Glad. Karena penasaran Leon membuka map itu dan menemukan foto hasil rontgent bagian rusuk dan terdapat beberapa tulangnya yang patah. Leon yakin kalau foto itu milik Glad, tapi kenapa bisa Glad mengalami patah tulang di bagian rusuknya.
Leon membuka laci dan menemukan sebuah map dengan tulisan ROTUNDRA HOSPITAL dengan ukuran huruf kapital, disitu juga tertulis nama Glad. Karena penasaran Leon membuka map itu dan menemukan foto hasil rontgent bagian rusuk dan terdapat beberapa tulangnya yang patah. Leon yakin kalau foto itu milik Glad, tapi kenapa bisa Glad mengalami patah tulang di bagian rusuknya.
Berbagai pertanyaan berputar-putar di dalam kepalanya. Apa
yang sebenarnya sudah terjadi dengan Glad??? Dan apa yang disembunyikannya???
Ketika sedang termenung, tiba-tiba Leon di kagetkan oleh
suara Glad yang ternyata sudah bangun.
“Kak Leon,“ panggil Glad yang masih berada di tempat tidurnya.
“Kak Leon,“ panggil Glad yang masih berada di tempat tidurnya.
Leon pun berbalik sambil menatap lekat-lekat adiknya itu.
“De, apa ini?“ tanya Leon sambil mengangkat map dan foto
tersebut.
“Apa yang terjadi sama kamu, de? Tolong cerita dan jujur
sama kakak,“ tambah Leon.
Glad pun menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan-lahan sebelum berbicara.
“Dua hari yang laluGlad mengalami accident yang mengakibatkan tulang rusuk Glad patah, kak. Seharusnya Glad menjalani perawatan di rumah sakit. Tapi, Glad nggak mau,“ jelas Glad dengan suara yang terbata-bata.
Glad pun menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan-lahan sebelum berbicara.
“Dua hari yang laluGlad mengalami accident yang mengakibatkan tulang rusuk Glad patah, kak. Seharusnya Glad menjalani perawatan di rumah sakit. Tapi, Glad nggak mau,“ jelas Glad dengan suara yang terbata-bata.
“Berarti mommy sama daddy nggak tau tentang keadaan kamu
saat ini?“
“Nggak, kak. Karena kalau sampai mommy dan daddy tau mereka pasti akan sangat khawatir sekali. Selain itu, pasti Glad juga bakalan disuruh berhenti balapan. Kakak, kan, tau kalau mommy dan daddy overprotective banget sama aku!“
“Nggak, kak. Karena kalau sampai mommy dan daddy tau mereka pasti akan sangat khawatir sekali. Selain itu, pasti Glad juga bakalan disuruh berhenti balapan. Kakak, kan, tau kalau mommy dan daddy overprotective banget sama aku!“
“Apa, de? Balapan?“ Leon yang kaget bertanya dengan ekspresi
yang tidak bisa dijelaskan.
“Glad baru tiga bulan menjalani profesi ini, kak. Dan Glad benar-benar sudah jatuh cinta dengan dunia balapan. Glad tau dengan pasti, bahwa resiko yang bakalan Glad hadapi dan alami sangat besar. Tapi, Glad menemukan perasaan yang luar biasa ketika sedang mengendarai motor dengan kecepatan yang tinggi. Kak, please, jangan kasih tau mommy sama daddy, ya, please. Soalnya sebentar lagi Glad akan mengikuti kejuaraan balap motor di Dublin Circuit,“ Glad memelas dengan manja pada Leon.
“Glad baru tiga bulan menjalani profesi ini, kak. Dan Glad benar-benar sudah jatuh cinta dengan dunia balapan. Glad tau dengan pasti, bahwa resiko yang bakalan Glad hadapi dan alami sangat besar. Tapi, Glad menemukan perasaan yang luar biasa ketika sedang mengendarai motor dengan kecepatan yang tinggi. Kak, please, jangan kasih tau mommy sama daddy, ya, please. Soalnya sebentar lagi Glad akan mengikuti kejuaraan balap motor di Dublin Circuit,“ Glad memelas dengan manja pada Leon.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar