Chapter 1
Namaku Gladys Caroline Swan. Keluarga dan teman-temanku
selalu memanggil Glad, karena menurut mereka aku selalu dalam keadaan
berbahagia. BIG WRONG.
Aku tinggal di kota Dublin dan aku berkuliah di salah satu
universitas terbaik di kota kelahiranku. Aku mengambil jurusan political science. Karena Daddy dan
kakak laki-laki ku tersayang berkecimpung di dunia.politik. Pagi itu aku
terburu-buru turun dari mobil Kak Leon karena aku punya waktu 5 menit sebelum
mata kuliah pertama di mulai.
“Hati-hati Glad, nanti kamu jatuh“ Kak Leon memperingatkan,
tapi aku terus berlari memasuki kampusku.
Dan…Brughh!!!!.Aku menabrak seseorang hingga terjatuh.
“Sorry,I‘m in hurry!“ ucapku tergesa-gesa.
“Are you OK?“ ucap orang yang aku tabrak dan ternyata seorang cowok.
“Ya, I‘m Ok. God, I‘m late. Bye“ aku langsung saja lari meninggalkan cowok itu. Pasti dia bengong melihat tingkah konyolku. But I don‘t care dari pada aku telat dan kena marah Mrs. Suzzy yang killer itu.
“Ya, I‘m Ok. God, I‘m late. Bye“ aku langsung saja lari meninggalkan cowok itu. Pasti dia bengong melihat tingkah konyolku. But I don‘t care dari pada aku telat dan kena marah Mrs. Suzzy yang killer itu.
Finally, kuliah pertama pun selesai. Rencananya aku mau pergi ke
perpustakaan buat cari bahan tugas yang baru di kasih Mrs. Suzzy. Tapi ditengah
jalan aku bertemu Clariss sahabat baikku dari kecil. Namanya sih Clarissa
Ramona dePunniet tapi aku biasa manggil dia Clariss. Kalau bertemu dan melihat
kami berdua kita bagaikan bumi dan langit. Kenapa? Karena Clariss itu senang
bersolek dan modis, padahal tanpa makeup
pun Clariss sudah cantik. Sedangkan aku, hmmm.. Aku anti dengan yang namanya makeup. Bisa dibilang aku ini cewek
tomboy. Clariss punya banyak teman cowok sedangkan aku tidak. Karena aku lebih
memilih bersikap cuek sama makhluk yang namanya cowok.
Bukan berarti aku nggak pernah pacaran loh. Dulu waktu masih
kelas 1 SMU aku pernah punya pacar. Namanya Revanno Adams, dia kakak kelasku.
Kita pacaran udah 3 tahun. Sampai pada akhirnya malapetaka itu datang. Kak
Vanno yang seorang pembalap motor harus meregang nyawa di tempat favoritnya.
Iya, Kak Vanno meninggal di Dublin sirkuit tahun lalu. Duniaku langsung gelap
dan hancur berkeping-keping. Aku sangat mencintai Kak Vanno dan nggak akan ada
yang bisa gantiin tempat dia di hati aku. Melihat orang yang paling kita cintai
meregang nyawa didepan mata kita bukan hal yang mudah. Rasa sakit itu masih
terasa sampai saat ini.
Terlebih lagi sehari sebelum balapan mulai aku dan Kak Vanno
terlibat pertengkaran. “If I could turn
back the time i would put you first in my life“, aku menyesali pertengkaran
kami. Aku yakin Kak Vanno tidak bisa berkonsentrasi dan fokus karena terbebani
oleh masalah kami berdua.
Tapi semuanya sudah terlambat, Kak Vanno sudah tenang di sisi Tuhan. Aku nggak bisa terus-terusan menangisi kepergiannya. Sejak saat itulah aku menjaga jarak dengan makhluk yang namanya cowok.
Tapi semuanya sudah terlambat, Kak Vanno sudah tenang di sisi Tuhan. Aku nggak bisa terus-terusan menangisi kepergiannya. Sejak saat itulah aku menjaga jarak dengan makhluk yang namanya cowok.
Kembali ke hari itu. Clariss mengjakku ke kantin karena dia
ingin menceritakan sesuatu.
Di kantin....
Di kantin....
“Mau cerita apaan sih?“ tanyaku, tapi Clariss malah
senyum-senyum nggak jelas.
“Clariss...“ tanyaku lagi.
“Clariss...“ tanyaku lagi.
Dan Clariss tetap senyum-senyum nggak jelas. Aku pun kesal
dan akhirnya mulai beranjak untuk pergi meninggalkan Clariss.
“Glad, wait. Please
don‘t go,“ ucap Clariss sambil menahan tanganku agar tidak pergi.
“Ya sudah, cepat cerita. Jangan senyum-senyum nggak jelas gitu. Bete tahu nggak,“ gerutuku pada Clariss sambil manyun.
“Ya sudah, cepat cerita. Jangan senyum-senyum nggak jelas gitu. Bete tahu nggak,“ gerutuku pada Clariss sambil manyun.
“I‘m sorry, Glad,“
ucapnya meminta maaf.
“It‘s ok,
well what happen?“ tanyaku lagi.
“Glad, kamu tahu nggak kalau di kampus kita ada anak
barunya,“ ucapnys terburu-buru dan bersemangat.
“So....?“ tanyaku
sambil mengerutkan dahi.
“Glad, ya ampun. Mereka berlima bener-bener handsome. Kamu pasti bakalan langsung fallin in love at first sight sama
mereka,“ Clariss bercerita dengan mata yang berbinar-binar.
“OMG, Clariss. Jadi kamu narik-narik aku kesini cuma buat denger hal ini,“ seruku dengan suara agak meninggi.
“OMG, Clariss. Jadi kamu narik-narik aku kesini cuma buat denger hal ini,“ seruku dengan suara agak meninggi.
“Why ? Aku pikir
kamu harus ketemu mereka Glad.” Ucap Clariss padaku.
“No way,
I‘m go...“ ketika aku hendak berdiri Clariss
mengucapkan hal yang membuat luka lama dihatiku kembali perih.
“Glad, jangan keras kepala. Mau sampai kapan kamu bersikap
dingin dan cuek sama cowok ? Sampai kapan Glad? Kamu tuh cantik, banyak banget
cowok yang suka sama kamu Glad, tapi mereka enggan mendekat karena sikap kamu
yang seperti ice princess. Inget Glad Vanno udah nggak ada. Dia udah meninggal
dan nggak mungkin kembali,“ ucap Clariss.
Mendengar kata-kata Clariss tubuhku serasa beku dan mati rasa. Kenapa Clariss menyebut nama Vanno lagi. Kenapa?.
Mendengar kata-kata Clariss tubuhku serasa beku dan mati rasa. Kenapa Clariss menyebut nama Vanno lagi. Kenapa?.
“Cukup, Clariss, ENOUGH.“
aku langsung pergi meninggalkan Clariss di kantin sambil menangis.
Karena jalan tergesa-gesa dan sambil menangis. Lagi-lagi aku menabrak seseorang seperti tadi pagi. Benar-benar hari yang menyebalkan.
Karena jalan tergesa-gesa dan sambil menangis. Lagi-lagi aku menabrak seseorang seperti tadi pagi. Benar-benar hari yang menyebalkan.
“Sorry,“ aku meminta maaf tanpa melihat wajah orang yang aku tabrak
itu.
“Nggak apa-apa kok. Hey kamu yang tadi pagi nabrak aku kan?“ ucap cowok itu.
Dan terpaksa aku menegakkan wajahku dengan mata yang sembab aku menatap cowok yang ku tabrak itu.
“Nggak apa-apa kok. Hey kamu yang tadi pagi nabrak aku kan?“ ucap cowok itu.
Dan terpaksa aku menegakkan wajahku dengan mata yang sembab aku menatap cowok yang ku tabrak itu.
“Ada apalagi? Aku kan udah minta maaf,“seruku kesal.
“Hey, kamu menangis? Kamu kenapa?“ tanya cowok itu lembut.
“Bukan urusan kamu,“ bentakku sambil berlalu pergi. Tapi
cowok itu malah mengikutiku.
“Hey tunggu,“ panggilnya sambil mengejarku. Dan dia menghadang jalanku.
“Nama kamu siapa? Aku Mark Feehily,“ cowok itu berkata sambil mengulurkan tangannya padaku.
“Kamu nggak perlu tahu siapa nama aku,“ ujarku sambil menepis tangannya.
“Hey tunggu,“ panggilnya sambil mengejarku. Dan dia menghadang jalanku.
“Nama kamu siapa? Aku Mark Feehily,“ cowok itu berkata sambil mengulurkan tangannya padaku.
“Kamu nggak perlu tahu siapa nama aku,“ ujarku sambil menepis tangannya.
Tiba-tiba Clariss muncul sambil berlari dan berteriak
memanggil namaku.
“Gladys.. Tunggu Glad…“ panggil Clariss. Namun aku langsung berlari dan pergi meninggalkan cowok yang mengaku bernama Mark itu.
“Gladys.. Tunggu Glad…“ panggil Clariss. Namun aku langsung berlari dan pergi meninggalkan cowok yang mengaku bernama Mark itu.
Mark pergi dari tempat itu berbarengan ketika Clariss sampai di tempatku dan Mark berdiri tadi.
Dia pergi menghampiri teman-temannya yang berada tak jauh dari situ sambil senyum-senyum.
“Kamu kenapa Mark? Datang sambil senyum-senyum nggak jelas gitu“ tanya Nicky.
“Guys, aku lagi happy banget nih,“ jawab Mark dengan wajah senang.
“Emang ada apaan sih Mark,“ Shane ikutan nanya.
“Aku ketemu cewek yang cantik banget. Dan akhirnya aku tahu
nama cewek itu,“ cerita Mark.
“Emang siapa namanya ?“ Kian yang sedari tadi asyik memutar-mutar kunci senar gitar ikutan bertanya.
“Namanya Gladys tapi aku nggak tahu dia anak fakultas mana,“ Mark menjawab pertanyaan Kian lesu.
“Emang siapa namanya ?“ Kian yang sedari tadi asyik memutar-mutar kunci senar gitar ikutan bertanya.
“Namanya Gladys tapi aku nggak tahu dia anak fakultas mana,“ Mark menjawab pertanyaan Kian lesu.
“Gladys.. Gladys.. Kayanya nama itu familiar buat aku. Mark
apa cewek yang kamu maksud itu rambutnya panjang berwarna hitam legam, dan dia
punya bola mata yang besar berwarna hazel, kan.“ ujar Brian.
“Iya bener,Bri, dia punya ciri-ciri yang kamu sebutin
barusan. Dan matanya itu yang selalu bikin aku deg-degan. Karena selain indah,
tatapannya itu dalem banget,“ ujar Mark bersemangat.
“Kok kamu bisa tahu sih, Bri ?“ Shane bertanya.
“Kok kamu bisa tahu sih, Bri ?“ Shane bertanya.
“Tahu dong, nama lengkap,
fakultas, rumah sama nomor handphonenya saja aku tahu kok“ ucap Brian.
“Wah, yang bener? Curiga nih?“ tuduh Kian dengan tatapan curiga.
“Wah, yang bener? Curiga nih?“ tuduh Kian dengan tatapan curiga.
“Denger ya Gladys Caroline Swan itu kuliah di fakultas political science, dia itu putri
bungsunya Om Louis. Jadi aku sama Glad itu sepupuan,“ Brian menjelaskan.
“Seriuasan, Bri! Kamu maukan bantuin aku biar deket sma Glad,“
pinta Mark pada Brian.
“Bisa-bisa aja sih Mark,tapi...“ Brian tidak melanjutkan ucapannya.
“Bisa-bisa aja sih Mark,tapi...“ Brian tidak melanjutkan ucapannya.
“Tapi apa, Bri ?“ tanya Mark.
“Glad ini tipe cewek yang susah banget buat jatuh cinta.
Selama ini dia selalu bersikap dingin dan cuek sama cowok,“ jelas Brian.
“Secuek-cueknya pasti
bisa luluh dong Bri,“ timpal Nicky.
“Aku harap sih Mark bisa ngeluluhin hati Glad,“ tambah
Brian.
“Semangat Marky, soalnya Glad ini sepertinya beda sama cewek
kebanyakan,“ timpal Kian.
“I‘ll try, dan aku yakin bisa,“ Mark menyemangati dirinya sendiri.
“Semangat Marky,“ Shane pun ikut menyemangati Mark.
“Thanks ya temen-temen,“ jawab Mark.
Sementara itu, Clariss berusaha buat menghubungi Glad. Tapi,
teleponnya nggak diangkat-angkat juga. Clariss nyesel sudah mengungkit-ungkit
tentang Vanno.
“C‘mon
Glad, answer my phone,“ ucap
Clariss menyesal.
“Maaf, Glad, sebagai sahabat baik kamu harusnya aku nggak
mengungkit tentang Vanno lagi. Karena itu cuma membuka luka lama dihati
kamu,“ucap Clariss pada dirinya sendiri.
Clariss nggak tahu keberadaan sahabatnya itu sekarang ada dimana.
Clariss nggak tahu keberadaan sahabatnya itu sekarang ada dimana.
Di telepon ke rumahnya juga Glad belum pulang.
Glad pergi ke pemakaman, dan menuju ke makam tempat Vanno di
makamkan.
“Kak Vanno, apa aku
salah nggak bisa lupain Kakak dari hati dan hidup aku? Mommy, Daddy, kak Leon
bahkan Clariss selalu memaksa aku buat cari pacar lagi. Aku nggak mau, Kak. Aku
nggak bisa buka hati aku buat cowok lain, nggak bisa,Van,“ Glad menangis
didepan puasara Vanno. Dan entah sudah berapa lama Glad berada disana sambil
menangis terisak. Karena hari sudah berganti malam.
Malam itu Clariss mutusin buat menemui Glad di rumahnya.
Tapi ternyata Glad nggak ada di rumahnya dan keluarganya
juga nggak tahu tentang keberadaan Glad sekarang.
***
“Glad nggak ada, Clariss,“ ucap Leon dengan wajah yang khawatir.
“Kemana ya, Kak?“ tanya Clariss.
Sambil mengangkat bahu “Entahlah, dari tadi Glad nggak bisa
dhubungin. Mommy dan daddy sudah sangat khawatir.
Clariss bisa melihat
jelas kecemasan yang tersirat di wajah tampan Leon. Ya, karena Leon sangat
menyayangi Glad.
“Aku juga dari tadi sore nggak bisa ngehubungin dia. Kak,
gimana kalau kita cari Glad sama-sama, Kak?“ saran Clariss.
“Ide bagus, Clariss. Ayo kita pergi sekarang,“ tambah Leon.
Lalu pergilah Leon dan Clariss untuk mecari Glad.
Sementara itu. Ketika dalam perjalanan menuju ke basecamp Mark melihat Glad jalan sempoyongan ke luar dari area pemakaman. Wajahnya sangat pucat.Mark pun menghentikan mobilnya dan menghampiri Glad.
“Glad, kamu nggak
apa-apa, kan?“ tanya Mark dengan suara yang lembut namun jelas sekali terdengar
khawatir.
“A.. Aku.. Aku..“ Glad pingsan ke pelukan Mark sebelum
menyelesaikan perkataannya.
Jangan ditanya seberapa panik Mark saat melihat cewek yang disukainya itu jatuh pingsan.
Mark pun langsung membawa Glad ke basecamp, karena jaraknya yang nggak begitu jauh dari pemakaman itu. Padahal sih yang sebenernya Mark nggak tahu dimana Glad tinggal. Grubraaakkkkk !!!!
Jangan ditanya seberapa panik Mark saat melihat cewek yang disukainya itu jatuh pingsan.
Mark pun langsung membawa Glad ke basecamp, karena jaraknya yang nggak begitu jauh dari pemakaman itu. Padahal sih yang sebenernya Mark nggak tahu dimana Glad tinggal. Grubraaakkkkk !!!!
Nggak sampe 10 menit Mark pun sampai di basecamp. Untung
saja keempat sahabatnya sudah datang semua.
Mark yang menggendong Glad langsung berteriak memanggil
keempat sahabatnya itu “ Guys, tolongin dong.“
Mendengar suara teriakkan Mark mereka berempat pun langsung
menghampiri Mark. Yup,mereka kaget liat Mark membawa Glad yang nggak sadarkan
diri.
“Mark, Glad kenapa?“ tanya Brian.
Sambil menidurkan Glad di sofa Mark berkata “Tanyany nanti
aja. Cepet hubungin keluarganya, Bri. Aku takut Glad kenapa-napa.“
Tanpa banyak tanya lagi Brian pun langsung menelepon Leon
yang kebetulan lagi ada di sekitar basecamp mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar