Chapter 12
Jum’at
malam di Strandhill.
Kami
berempat sampai di Villa pada malam hari. Perjalanan yang memelahkan tapi,
tidak menyurutkan semangat kami berempat. Aku dan Clariss masuk ke kamar yang
berada di lantai dua. Kamar ini bisa dibilang kamr terbaik di sini Daddy
membuatkannya untukku, karena beliau tau aku sangat suka dengan laut. Begitu
juga dengan Kakak dan Mark, mereka akan menempati sebuah kamar yang ada di
lantai satu. Setelah membereskan barang-barang dan membersihkan diri. Kami
berempat langsung sibuk dan punya acara dengan pasangan masing-masing. Kakak
dan Clariss pergi berjalan-jalan keluar sedangkan aku dan Mark tetap berada di
Villa. Karena malam itu aku harus menyiapkan makan malam.
“Lagi
ngapain sayang? Dari tadi di perhatiin kayaknya asyik banget di dapur.” Mark
menghampiriku yang sedang sibuk meng-grilled
fillet ikan salmon.
“Lagi masak
buat makan malam.” Ucapku sambil tetap berusaha focus dengan masakanku.
Tiba-tiba
Mark memelukku dari pinggang dan mulai menciumiku, dan membuatku tidak
berkonsentrasi.
“Mark..
lepasin, aku lagi masik nih. Nanti kalau gosong gimana.” Keluhku sambil
melepaskan pelukannya.
“Hehehe…
abisnya aku kangen banget, sih.” Ucapnya.
“Perasaan
kita bareng-bareng terus, deh. Mendingan kamu bantuin aku masak aja, biar cepat
selesai.” Perintahku.
“Siap, sayang.”
Ucapnya sambil menirukan orang menghormat.
Kami
berduapun masak berdua dan hasil masakan kami terlihat menggoda selera.
“Wah,
kayaknya lezat, nih. Perut aku udah disco dari tadi.” Ucapnya sambil memegang
perutnya.
“Hahaha,
lucu mana bisa ada yang lagi disco di perut.” Aku menjawab sambil tertawa.
“Makan,
yuk, udah laper banget ini.” Rengeknya manja.
“Tapi Kakak
sama Clariss belum pulang.” Ucapku mengingatkan.
“Kalau
nunggu mereka lama. Kita kan nggak tau mereka kemana dan kapan mau pulangnya.
Ayo dong, kita makan,” rayunya dengan manja.
“Iya, iya
kita makan sekarang.” Ucapku.
“Asyik,”
jawabnya seperti anak kecil.
Mark
langsung makan dengan lahapnya. Aku Cuma tersenyum melihat cara makannya yang
seperti anak keci. Sangat lucu sekali, seorang Mark yang cool, tampan dan jadi rebutan banyak cewek cara makannya sangat
lucu kalau sudah sangat lapar.
“Hey,
pelan-pelan makannya, nanti tersendak. Jangan di abisin semuanya, Kakak sama
Clariss kan belum makan.” Aku memperingatkan
Dan Mark
Cuma membalas dengan acungan jempol. Kakak dan Clariss belum juga pulang
padahal sudah hamper tengah malam. Sedangkan aku dan Mark hanya diam di Villa,
karena entah kenapa tubuhku terasa lemas dan tidak terlalu baik, mungkin karena
kecapean. Kami berdua hanya mengobrol, bercanda, menonton tv dan bernyanyi.
Sampai akhirnya aku tertidur di pangkuan Mark. Dalam tidur aku hanya merasakan
belaian lembut di pipiku.
“Sayang,
kamu lagi nggak sehat, ya. Sejak pulang dari Italia wajah cantik kamu terlihat
lebih pucat, seperti saat ini. Ditambah badan kamu agak demam.” Ucapnya sambil
terus membelai lembut wajah kekasih tercintanya itu.
Tiba-tiba
Leon dan Clariss datang.
“Hai… lagi
ngapain kalian?” sapa Leon dengan suara yang agak keras.
“Stttt,
Glad lagi tidur, Kak.” Mark memberitahu.
“Oh, maaf
nggak tau. Tumben dia udah tidur?” tanya Leon sambil menghampiri Mark dan
mengecilkan suaranya.
“Kayaknya
kecapean, Kak, agak demam juga sih badannya.” Jawab Mark.
Leon pun
menyentuh kening adik tercintanya itu, “Iya, badannya agak demam bawa ke kamar
aja Mark, kasian.”
“Ya udah,
Kak, aku bawa Glad ke kamarnya aja.” Ucap Mark sambil memangku Glad menuju ke
kamarnya yang berada di lantai dua.
Mark
membawa Glad ke kamar dan menidurkannya di tempat tidur. Dia nggak mau
buru-buru beranjak dari situ. Di pandangi wajah kekasihnya itu yang sedang
terlelap tidur namun terlihat jelas sekali bahwa kondisi fisiknya sedang tidak
dalam keadaan yang sehat.
“Tidur yang
nyenyak ya, Princess. Moga besok pagi
pas bangun keadaan kamu lebih baik, aaku nggak mau kalau sampai kamu sakit. I love you, sweet dream.” Setelah itu
Mark mengecup kening dan bibir kekasihnya itu dengan lembut lalu keluar dari
kamar.
Kesokkan
harinya, Nicky, Shane, Brian dan Kian janjian di depan kampus. Mereka lagi
nungguin Brian yang belum datang. Beberapa menit kemudian ada sebuah mobil
porche berwarna hitam berhenti didepan mereka. Ternyata itu Brian bersama
pacarnya yang bernama Vogue Williams.
“Sorry
telat, abis macet sih. Berangkat sekarang aja, yuk.” Ucap Brian pada
teman-temannya.
“Mark,
Glad, Clariss sama Kak Leon aja belum pada datang.” Ucap Shane.
“Ngapain
nungguin mereka. Toh mereka udah ada di Villa dari kemarin sore, kok.” Jelas
Brian.
“Yah,
pantesan kalau kayak gitu. Enak banget ya, udah duluan di sana.” Timpal Kian.
“Yuk, ah,
kita berangkat sekarang,” ajak Brian lagi.
Lalu mereka
semua masuk ke dalam mobil mereka masing-masing dan langsung pergi menuju ke
Strandhill. Sementara itu di Villa, ketika Leon, Clariss dan Mark sudah bangun
Glad masih belum bangun juga buat sarapan.
“Lho, Glad,
mana?” tanya Mark pada Clariss.
“Belum
bangun, tuh.” Jawab Clariss singkat.
“Tumben,
nggak biasanya lho dia jam segini belum bangun. Dia biasa bangun siang kalau
hari Minggu aja. Kalau hari Sabtu tetep bangun pagi.” Ungkap Leon.
“Biar aku
liat keadaannya, Kak.” Ucap Mark pada Leon.
“Makasih
ya, Mark, udah mau jagain sama perhatian sama Glad.” ucap Leon.
“Karena
Glad itu bagian dari hidup aku, Kak. Permisi.” Ucap Mark lalu pergi menuju ke
kamar yang berada di lantai dua.
Ketika
sampai di kamar Mark mendapati kekasih tercintanya masih tertidur. Dengan
hati-hati dan penuh kelembutan Mark mencoba membangunkan kekasih tercintanya
itu.
“Sayang,
ayo bangun udah siang nih masa mau tidur aja sih. Kita sarapan.” Mark yang
duduk di atas ranjang membangunkan Glad lembut.
Beberapa
saat kemudian Glad pun membuka matanya dan bangun.
“Pagi…”
sapaku.
“Siang,
sayang, bukan pagi.” Jawabnya sambil tersenyum manis.
“Aduh, maaf
aku telat bangunnya.” Ucapku sambil merubah posisiku jadi duduk.
“Iya nggak
apa-apa. Eh, udah baikan, kan?” tanyanya padaku.
“Aku nggak
apa-apa, kok. Ya udah, aku mau mandi dulu, terus nyusul ke bawah.” Ucapku.
“Tapi kamu
kayak yang kurang sehat. Ya udah deh, sampai ketemu di bawah, ya.” Sambil lalu
mengecup keningku dan pergi ke ruang makan.
Setelah
Mark pergi, aku pun langsung mandi dan setelah itu berpakaian lalu langsung
menuju ke ruang makan. Ternyata mereka masih ada di sana menikmati sarapan
mereka yang kesiangan.
“Hai, semua
maaf yah kalau aku baru bangun. Hehehe…” ucapku sambil duduk di kursi yang ada di
sebelah Mark.
“Iya nggak
apa-apa, Kakak tau kalau kamu kecapean nyiapin buat acara hari ini, kan.”
Ungkap Kak Leon.
“Iya nih,
Kak, perasaan sekarang kalau cape sedikit aja bawaannya langsung lemas banget.
Padahalkan dulu nggak pernah kayak gini.” Keluhku.
“Makanya
sekarang jangan terlalu cape, banyak istirahat. Kalau bisa sih periksa ke
dokter.” Mark menyarankan.
“Nggak
mesti ke dokter juga kali.” Jawabku santai.
“Eh,
anak-anak udah pada nyampe mana, ya?” tanya Clariss.
“Tadi sih
Brian SMS katanya bentar lagi sampai.
Paling sekitar 10 metitan lagi.” Mark memberitahu.
“Tapi Kakak
sama Clariss mau keluar dulu, nih.” Leon berkata.
“Mau
kemana, sih, dari kemarin pergi-pergi terus. Giliran aku sama Mark keluarnya
kapan?” Protesku.
“Nanti aja
kalau anak-anak yang lain udah pada datang.” Jawab Leon samtai.
“Huh…”
jawabku agak sedikit kesal.
“Jangan
marah dong, de,” bujuk Leon.
“Tau ah,
udah sana gih pergi. Aku bête sama Kakak.” Ucapku pada Kak Leon.
“Iya, iya,
galak banget sih. Kita pergi dulu, Mark titip Glad, ya.” Pesan Leon pada Mark.
“Kakak
tenang aja, Glad will save with me.”
Jawab Mark meyakinkan.
Lalu
Kakaknya dan Clarissa pun pergi. Sedangkan Glad masih cemberut.
“Kamu
kenapa sayang? Udah dong jangan cemberut gitu.” Bujuk Mark.
“Abis,
Kakak nyebelin banget. Malah dia yang keasyikan pacaran terus sama Clariss.”
Jawabku.
“Jadi mau
jalan-jalan?” tanya Mark.
“Iya mau lah.
Dari kemarinkan belum keluar rumah sama sekali.” Jawabku.
“Ya udah,
yuk kita pergi jalan-jalan kepantai aja. Jangan yang jauh-jauh, kalau ke pantai
kan bisa ketauan kalau anak-anak datang.” Ajak Mark.
“Seriusan?”
tanya bersemangat.
“Iya
serius. Yuk kita berangkat sekarang.” Ucapnya sambil menyodorkan tangannya.
Aku pun
menyambutnya dan kami berdua langsung pergi menuju ke pantai. Tapi sebelum berangkat
Mark sempat mengganti pakaiannya, dia memakai kaos you can see dan celana pendek. Sedangkan aku memakan hot pants dan tank top serta topi plus kacamata hitam begitu juga dengan Mark.
Dan kau tau, Mark sangat sangat sangat keren aku makin jatuh cinta sama dia,
sungguh sungguh cinta. Kami berdua berjalan di sepanjang pesisir pantai sambil
berpegangan tangan. Benar-benar serasa seperti pasangan yang sedang honeymoon hahahahahahaha. Karena dulu
aku dan Kak Vanno tidak pernah pergi ke pantai, meskipun ia tau aku sangat
menyukai pantai. Tapi ia jarang mengajakku berjalan ke sana, kami hanya
menghabiskan waktu berdua di sirkuit, karena dia lebih memprioritaskan balapan
dari pada aku. Itu juga yang mejadi salah satu alasanku lebih memilih Mark dan
tidak mau kembali lagi padanya.
Ketika
sedang asyik berjalan-jalan kami melihat ada empat buah mobil yang memasuki halaman
Villa. Lalu kami berdua pun bergegas menghampiri mereka.
“Hai,
akhirnya kalian sampai juga.” Sapa Mark ketika sudah memasuki halaman villa.
“Macet
banget di jalan.” Keluh Nicky.
“Eitss,
darimana nih kalian berdua?” tanya Kian.
“Ah, biasa
abis jalan-jalan dari pantai.” Jawabku.
“Eh iya,
kenalin ini Vogue udah pada kenalkan.” Brian memperkenalkan pacarnya padaku dan
aku hanya mengangguk. “dan yang ini Gillian pacarnya Shane. Yang itu Georgina
pacarnya Nicky dan yang ini Jodi pacarnya Kian.”
“Salam
kenal semuanya, senangnya bisa nambah teman lagi.” Seruku bersemangat.
“Ternyata
kamu cantik banget ya, Glad. biasanya sih aku Cuma dengar tentang kamu dari
ceritanya Shane aja.” Ungkap Gillian.
“Ah, bisa
aja deh. Aku kan Cuma cewek biasa-biasa aja yang keras kepala. Hehehe…” jawabku
sambil tertawa.
“Iya, keras
kepala tapi udah bikin Mark bener-bener tergila-gila. Nggak biasanya dia sampai
kayak gitu, biasanya kalau udah di tolak atau kalau ceweknya cuek Mark langsung
move on. Makanya waktu dengar Mark
tergila-gila sama satu cewek dan sampai nggak bisa move on meskipun udah di cuekkin sama di tolak
berkali-kali, tapi Mark tetap maju terus. Wajarlah, karena cewek yang
dikejarnya itu cantik banget.” Jelas Jodi.
“Hahaha…
Udah ah, muji-mujinya kita masuk yuk.” Ajakku pada mereka semua.
Lalu kami
semua masuk ke dalam Villa.
“Buat
cewek-cewek kamarnya ada di lantai dua dan para cowok di lantai satu.” Seru
Mark.
“Yah,
kirain kita tidurnya sepasang satu kamar.” Canda Kian.
“Mau di
jitak Kak Leon ya, Ki. Hahaha…” ucapku sambil tertawa.
“Villanya
keren banget nih. Bakalan betah banget aku di sini.” Seru Nicky.
“Ya udah
mendingan kalian beresin dulu barang-barangnya di kamar gih. Buat cewek-cewek
kita ke atas yuk,” ajakku pada Vogue, Gillian, Georgina dan Jodi.
Semetara
kami para cewek pergi ke kamar atas, sedangkan para cowok di kamar bawah sedang
bersama Mark.
“Silakan
masuk.” Aku mempersilakan keempat cewek cantik itu masuk ke dalam kamarku.
“Kamarnya
indah banget, Glad.” seru Vogue.
“Khusus
kamar ini aku sendiri yang designe, soalnya
ini kamar pribadi aku sih, Vo.” Jawabku.
“Asyik,
kita bisa seru-seruan ini. Melakukan hal-hal yang cewek banget.” Ucap Gina.
“Iya nih.
Eh ngomong-ngomong Glad, kok kamu keliatan pucat, sih? Lagi sakit?” tanya
Vogue.
“Enggak,
kok, aku baik-baik aja.” Jawabku santai.
Mereka
berlima akhirnya malah asyik ngobrol, beginilah kalau cewek udah ngumpul.
Saking asyiknya jadi lupa sama semuanya. Termasuk lupa sama pacar mereka
masing-masing yang lagi pada nungguin di bawah buat jalan-jalan ke pantai.
“Eh, mana
nih para cewek. kok nggak turun-turun, sih?” keluh Brian.
“Iya, nih,
lagi pada ngapain sih mereka di atas?” timpal Kian.
“Kita
susulin aja ke atas, yuk.” Nicky mengusulkan.
Lalu kelima
cowok tampan itu pun bergegas menuju ke lantai dua. Dan ketika mendekati
kamarnya Glad, mereka mendengar suara pacar-pacar mereka yang sedang tertawa
dan bercanda. Karena pintu kamarnya tidak tertutup semuanya, ketika para cowok
tampan itu masuk kedalam tidak disadari oleh para cewek.
“Ehmmm…”
mereka berlima berdehem bersamaan dan mengagetkan para cewek cantik itu.
“Eh, dari
kapan kalian ada disitu?” tanya Gillian.
“Dari tadi,
kalian nggak sadar. Habis kayaknya asyik banget tuh ngobrolnya.” Jawab Shane.
“Maaf,
habisnya kita keasyikan ngobrol, sih. Maklum
cewek kalau lagi ngumpul suka jadi lupa. Hehehe…” jelas Jodi sambil
tersenyum.
“Ngomongin
apaan sih, kayaknya asyik banget, deh. Sampai lupa masa kita?” tanya Mark.
“Rahasia, girls talk.” Jawabku sambil tersenyum.
“Idih, main
rahasia, rahasiaan segala. Eh, ayo dong kita jalan-jalan ke pantai masa sih
udah jauh-jauh kesini Cuma diem-diem aja.” Protes Nicky.
“Iya udah,
yuk kita berangkat. Ngobrolnya nanti di terusin lagi nanti malam sebelum
tidur.” Jawabku.
Kami
bersepuluh orang pun langsung pergi menuju ke pantai yang berada tepat di depan
Villa, dan jaraknya juga tidak terlalu jauh. Kian yang sangat menyukai surfing tidak lupa membawa papan surfing kesayangannya dan memamerkan
keahliannya berselancar di atas ombak. Pokoknya Kian betul-betul keren deh.
Pantaslah Jodi yang cantik itu bisa bertekuk lutut pada Kian. Karena aku yakin
sekali kalau pantai ini sedang ramai bakalan banyak cewek yang mengejar-ngejar
Kian. Sebagian dari kami ada juga yang bermain volley pantai, bermain pasir atau hanya duduk-duduk saja menikmati
keindahan laut seperti aku. Karena entah kenapa aku merasa kalau ada yang tidak
beres dengan tubuhku.
Sore
harinya kami kembali ke pantai. Setelah membersihkan diri kami pun langsung
bersiap-siap untuk melaksanakan pesta barbeque
dan kali ini yang bertugas memanggangnya adalah Kak Leon dan Clariss,
karena seharian ini mereka berdua terus saja pergi jalan-jalan.
Acara kali
ini benar-benar meriah sekali. Karena Mark dan kawan-kawannya bernyanyi sambil
diiringi oleh Kian dengan gitar kesayangannya. Kenapa mereka berlima bukan jadi
penyanyi saja, ya. Sayang kalau bakat mereka terus di pendam. Dan lagi-lagi aku
kerkantuk-kantuk, rasanya benar-benar lemas dan tidak bertenaga. Aku hanya
berharap Kakak tidak menyadarinya, tapi anggapanku salah. Ketika aku sedang
mengambil minuman Kakak menghampiriku.
“De, kamu
nggak kenapa-napa, kan? Wajah kamu pucat terus sepulang dari Itali,” tegur
Kakak.
“Glad Cuma
kecapean aja, Kak. Karena sebenarnya dokter udah wanti-wanti kalau Glad ini
nggak boleh cape, mesti makan sama istirahat yang teratur,” jelasku.
“Lho,
emangnya kamu kenapa, de?” tanya Leon heran.
“Buat
menjaga ginjal aku yang tinggal satu bisa tetap bekerja denngan normal, Kak.”
Akupun akhirnya mengaku.
“Apa?
Ginjal kamu tinggal satu, de? Tapi bagaimana bisa?” tanya Leon dengan wajah
yang sangat terkejut.
“Buat
menyelamatkan Prince aku, Kak.” jawabku
singkat.
“Mark
maksudnya?” Leon menebak-nebak.
“Iya, Kak.
Karena saat itu Mark butuh donor ginjal secepatnya, lalu Glad ikut test dan
ternyata ginjal Glad cocok, Kak. Dan akhirnya Glad menjalani transplantasi
ginjal. Maafin Glad, Kak, karena selalu bertindak tanpa bilang dulu sama
Kakak.” Jelasku sambil menunduk.
Tanpa di sadari
ternyata Mark tidak sengaja mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Mark sangat
kaget sekali mendengar pengakuan dari kekasih tercintanya itu. Jadi yang ada di
tubuhnya saat ini adalah ginjal milik kekasih tercintanya. Pantas saja Mark
merasa sangat dekat sekali dan memiliki kontak batin yang sangat kuat dengan
Glad.
“APA!!!
Jadi pendonor ginjal itu kamu, Princess?”
ucap Mark kaget.
“Mark…
jangan-jangan kamu udah dengar semuanya.” Ucapku terkejut.
“Iya, aku
udah mendengar semuannya. Kenapa kamu menyembunyikannya dari aku. Kenapa nggak
cerita, Glad.” cecar Mark.
“Maafin
aku, Mark. Aku sama sekali nggak bermaksud buat menyembunyikannya dari kamu.”
Jawabku sambil tertunduk.
Mark
langsung memelukku erat dan menciumi kepalaku dengan lembut dan penuh kasih sayang.
“Tapi kenapa harus kamu, sayang? Kenapa?”.
“Karena
ginjalnya cocok sama kamu Mark.” Leon menambahkan.
“Iya, Kak.
Sayang, pokoknya mulai saat ini kamu harus janji jangan terlalu cape. Pokoknya
apa kata dokter mesti di turutin, ya. Dan aku yang bakalan pastiin kamu
mengikuti anjuran dokter.” Cerosos Mark.
“Iya,
jangan nakal-nakal lagi, ya.” Timpal Leon.
“Iya.”
Jawabku dengan manja.
Lalu Kak
Leon pun langsung memelukku juga, padahal aku masih dipeluk sama Mark. Dan
tentu saja teman-teman yang lain terheran-heran dan bertanya-tanya melihat kami
bertiga berpelukan. Makanya ketika kembali tempat duduk kami bertiga langsung
di sambut dengan berbagai pertanyaan.
“Kalian
tadi ngapain pada peluk-pelukkan?” tanya Kian.
“Ada deh,
rahasia. Hehehe…” jawabku sambil tertawa.
Kami pun
melanjutkan acara sampai larut malam. Ketika para cewek sudah masuk ke kamar
mereka, para cowok masih betah ngumpul-ngumpul.
“Kak, Glad
sering banget melakukan sesuatu tanpa di pikir panjang, ya.” Celetuk Mark.
“Itulah
dia, apa yang ada dipikirannya saat itu pasti bakalan dia lakuin. Tanpa
berpikir dua kali dan tanpa berundung dulu. Contohnya kayak waktu dia
mendonorkan ginjalnya buat kamu.” Jawab Leon.
“Eh,
pendonor ginjal kamu itu Glad, Mark?” tanya Nicky.
“Iya,
Nick.” Jawab Mark singkat.
“Kok bisa
sih?” Shane ikutan penasaran.
“Jangankan
kalian, aku sama Kak Leon aja kaget dengar pengakuan dari Goad tadi.” Jelas
Mark.
“Memangnya
Glad nggak cerita apa-apa sama Kakak? Bukannya kalau sama Kakak Glad kan suka
cerita banyak hal.” Ucap Brian.
“Nggak,
Bri, Glad nggak cerita apa-apa sama Kakak, pasca dia ketemu lagi sama Vanno.”
Jelas Leon.
"Vanno
sekarang beda banget sama dulu Kak.” Celetuk Brian.
“Beda
gimana maksudnya?” Leon penasaran.
“Glad nggak
cerita kalau Vanno sudah mengancam gara-gara Glad lebih memilih Mark daripada
Vanno.” Jelas Brian.
Lalu Brian
pun menceritakan kejadian beberapa hari yang lalu pada Leon. Dan Leon sangat
kaget sekali mendengar penuturan dari Mark dan Brian. Bahwa Vanno tega berbuat
kasar pada adik tercintanya. Dan Leon nggak akan tinggal diam kalau sampai
Vanno berbuat macam-macam sama Glad.
Tidak terasa liburan pun sudah selesai. Dan besok mereka
kembali di sibukkan oleh rutinitas mereka sehari-hari. Glad juga mulai sibuk
lagi sdi sirkuit buat test drive. Tentu
saja di temani oleh Mark karena Mark nggak mau kalau Vanno sampai mengganggu
Glad lagi.
Namun
beberapa hari setelah liburan di Villa ada yang aneh sama Clariss. Dia jadi
pendiam dan selalu menghindari Glad. Clariss selama ini memang selalu terlihat
ceria dan baik-baik saja, tidak mau membuat orang-orang di sekelilingnya sedih
dan susah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar