Jumat, 21 Desember 2012

Chapter 12


 Chapter 12

Jum’at malam di Strandhill.
Kami berempat sampai di Villa pada malam hari. Perjalanan yang memelahkan tapi, tidak menyurutkan semangat kami berempat. Aku dan Clariss masuk ke kamar yang berada di lantai dua. Kamar ini bisa dibilang kamr terbaik di sini Daddy membuatkannya untukku, karena beliau tau aku sangat suka dengan laut. Begitu juga dengan Kakak dan Mark, mereka akan menempati sebuah kamar yang ada di lantai satu. Setelah membereskan barang-barang dan membersihkan diri. Kami berempat langsung sibuk dan punya acara dengan pasangan masing-masing. Kakak dan Clariss pergi berjalan-jalan keluar sedangkan aku dan Mark tetap berada di Villa. Karena malam itu aku harus menyiapkan makan malam.
“Lagi ngapain sayang? Dari tadi di perhatiin kayaknya asyik banget di dapur.” Mark menghampiriku yang sedang sibuk meng-grilled fillet ikan salmon.
“Lagi masak buat makan malam.” Ucapku sambil tetap berusaha focus dengan masakanku.
Tiba-tiba Mark memelukku dari pinggang dan mulai menciumiku, dan membuatku tidak berkonsentrasi.
“Mark.. lepasin, aku lagi masik nih. Nanti kalau gosong gimana.” Keluhku sambil melepaskan pelukannya.
“Hehehe… abisnya aku kangen banget, sih.” Ucapnya.
“Perasaan kita bareng-bareng terus, deh. Mendingan kamu bantuin aku masak aja, biar cepat selesai.” Perintahku.
“Siap, sayang.” Ucapnya sambil menirukan orang menghormat.
Kami berduapun masak berdua dan hasil masakan kami terlihat menggoda selera.
“Wah, kayaknya lezat, nih. Perut aku udah disco dari tadi.” Ucapnya sambil memegang perutnya.
“Hahaha, lucu mana bisa ada yang lagi disco di perut.” Aku menjawab sambil tertawa.
“Makan, yuk, udah laper banget ini.” Rengeknya manja.
“Tapi Kakak sama Clariss belum pulang.” Ucapku mengingatkan.
“Kalau nunggu mereka lama. Kita kan nggak tau mereka kemana dan kapan mau pulangnya. Ayo dong, kita makan,” rayunya dengan manja.
“Iya, iya kita makan sekarang.” Ucapku.
“Asyik,” jawabnya seperti anak kecil.
Mark langsung makan dengan lahapnya. Aku Cuma tersenyum melihat cara makannya yang seperti anak keci. Sangat lucu sekali, seorang Mark yang cool, tampan dan jadi rebutan banyak cewek cara makannya sangat lucu kalau sudah sangat lapar.
“Hey, pelan-pelan makannya, nanti tersendak. Jangan di abisin semuanya, Kakak sama Clariss kan belum makan.” Aku memperingatkan
Dan Mark Cuma membalas dengan acungan jempol. Kakak dan Clariss belum juga pulang padahal sudah hamper tengah malam. Sedangkan aku dan Mark hanya diam di Villa, karena entah kenapa tubuhku terasa lemas dan tidak terlalu baik, mungkin karena kecapean. Kami berdua hanya mengobrol, bercanda, menonton tv dan bernyanyi. Sampai akhirnya aku tertidur di pangkuan Mark. Dalam tidur aku hanya merasakan belaian lembut di pipiku.
“Sayang, kamu lagi nggak sehat, ya. Sejak pulang dari Italia wajah cantik kamu terlihat lebih pucat, seperti saat ini. Ditambah badan kamu agak demam.” Ucapnya sambil terus membelai lembut wajah kekasih tercintanya itu.
Tiba-tiba Leon dan Clariss datang.
“Hai… lagi ngapain kalian?” sapa Leon dengan suara yang agak keras.
“Stttt, Glad lagi tidur, Kak.” Mark memberitahu.
“Oh, maaf nggak tau. Tumben dia udah tidur?” tanya Leon sambil menghampiri Mark dan mengecilkan suaranya.
“Kayaknya kecapean, Kak, agak demam juga sih badannya.” Jawab Mark.
Leon pun menyentuh kening adik tercintanya itu, “Iya, badannya agak demam bawa ke kamar aja Mark, kasian.”
“Ya udah, Kak, aku bawa Glad ke kamarnya aja.” Ucap Mark sambil memangku Glad menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Mark membawa Glad ke kamar dan menidurkannya di tempat tidur. Dia nggak mau buru-buru beranjak dari situ. Di pandangi wajah kekasihnya itu yang sedang terlelap tidur namun terlihat jelas sekali bahwa kondisi fisiknya sedang tidak dalam keadaan yang sehat.
“Tidur yang nyenyak ya, Princess. Moga besok pagi pas bangun keadaan kamu lebih baik, aaku nggak mau kalau sampai kamu sakit. I love you, sweet dream.” Setelah itu Mark mengecup kening dan bibir kekasihnya itu dengan lembut lalu keluar dari kamar.

Kesokkan harinya, Nicky, Shane, Brian dan Kian janjian di depan kampus. Mereka lagi nungguin Brian yang belum datang. Beberapa menit kemudian ada sebuah mobil porche berwarna hitam berhenti didepan mereka. Ternyata itu Brian bersama pacarnya yang bernama Vogue Williams.
“Sorry telat, abis macet sih. Berangkat sekarang aja, yuk.” Ucap Brian pada teman-temannya.
“Mark, Glad, Clariss sama Kak Leon aja belum pada datang.” Ucap Shane.
“Ngapain nungguin mereka. Toh mereka udah ada di Villa dari kemarin sore, kok.” Jelas Brian.
“Yah, pantesan kalau kayak gitu. Enak banget ya, udah duluan di sana.” Timpal Kian.
“Yuk, ah, kita berangkat sekarang,” ajak Brian lagi.
Lalu mereka semua masuk ke dalam mobil mereka masing-masing dan langsung pergi menuju ke Strandhill. Sementara itu di Villa, ketika Leon, Clariss dan Mark sudah bangun Glad masih belum bangun juga buat sarapan.
“Lho, Glad, mana?” tanya Mark pada Clariss.
“Belum bangun, tuh.” Jawab Clariss singkat.
“Tumben, nggak biasanya lho dia jam segini belum bangun. Dia biasa bangun siang kalau hari Minggu aja. Kalau hari Sabtu tetep bangun pagi.” Ungkap Leon.
“Biar aku liat keadaannya, Kak.” Ucap Mark pada Leon.
“Makasih ya, Mark, udah mau jagain sama perhatian sama Glad.” ucap Leon.
“Karena Glad itu bagian dari hidup aku, Kak. Permisi.” Ucap Mark lalu pergi menuju ke kamar yang berada di lantai dua.
Ketika sampai di kamar Mark mendapati kekasih tercintanya masih tertidur. Dengan hati-hati dan penuh kelembutan Mark mencoba membangunkan kekasih tercintanya itu.
“Sayang, ayo bangun udah siang nih masa mau tidur aja sih. Kita sarapan.” Mark yang duduk di atas ranjang membangunkan Glad lembut.
Beberapa saat kemudian Glad pun membuka matanya dan bangun.
“Pagi…” sapaku.
“Siang, sayang, bukan pagi.” Jawabnya sambil tersenyum manis.
“Aduh, maaf aku telat bangunnya.” Ucapku sambil merubah posisiku jadi duduk.
“Iya nggak apa-apa. Eh, udah baikan, kan?” tanyanya padaku.
“Aku nggak apa-apa, kok. Ya udah, aku mau mandi dulu, terus nyusul ke bawah.” Ucapku.
“Tapi kamu kayak yang kurang sehat. Ya udah deh, sampai ketemu di bawah, ya.” Sambil lalu mengecup keningku dan pergi ke ruang makan.
Setelah Mark pergi, aku pun langsung mandi dan setelah itu berpakaian lalu langsung menuju ke ruang makan. Ternyata mereka masih ada di sana menikmati sarapan mereka yang kesiangan.
“Hai, semua maaf yah kalau aku baru bangun. Hehehe…” ucapku sambil duduk di kursi yang ada di sebelah Mark.
“Iya nggak apa-apa, Kakak tau kalau kamu kecapean nyiapin buat acara hari ini, kan.” Ungkap Kak Leon.
“Iya nih, Kak, perasaan sekarang kalau cape sedikit aja bawaannya langsung lemas banget. Padahalkan dulu nggak pernah kayak gini.” Keluhku.
“Makanya sekarang jangan terlalu cape, banyak istirahat. Kalau bisa sih periksa ke dokter.” Mark menyarankan.
“Nggak mesti ke dokter juga kali.” Jawabku santai.
“Eh, anak-anak udah pada nyampe mana, ya?” tanya Clariss.
“Tadi sih Brian SMS katanya bentar lagi sampai. Paling sekitar 10 metitan lagi.” Mark memberitahu.
“Tapi Kakak sama Clariss mau keluar dulu, nih.” Leon berkata.
“Mau kemana, sih, dari kemarin pergi-pergi terus. Giliran aku sama Mark keluarnya kapan?” Protesku.
“Nanti aja kalau anak-anak yang lain udah pada datang.” Jawab Leon samtai.
“Huh…” jawabku agak sedikit kesal.
“Jangan marah dong, de,” bujuk Leon.
“Tau ah, udah sana gih pergi. Aku bĂȘte sama Kakak.” Ucapku pada Kak Leon.
“Iya, iya, galak banget sih. Kita pergi dulu, Mark titip Glad, ya.” Pesan Leon pada Mark.
“Kakak tenang aja, Glad will save with me.” Jawab Mark meyakinkan.
Lalu Kakaknya dan Clarissa pun pergi. Sedangkan Glad masih cemberut.
“Kamu kenapa sayang? Udah dong jangan cemberut gitu.” Bujuk Mark.
“Abis, Kakak nyebelin banget. Malah dia yang keasyikan pacaran terus sama Clariss.” Jawabku.
“Jadi mau jalan-jalan?” tanya Mark.
“Iya mau lah. Dari kemarinkan belum keluar rumah sama sekali.” Jawabku.
“Ya udah, yuk kita pergi jalan-jalan kepantai aja. Jangan yang jauh-jauh, kalau ke pantai kan bisa ketauan kalau anak-anak datang.” Ajak Mark.
“Seriusan?” tanya bersemangat.
“Iya serius. Yuk kita berangkat sekarang.” Ucapnya sambil menyodorkan tangannya.
Aku pun menyambutnya dan kami berdua langsung pergi menuju ke pantai. Tapi sebelum berangkat Mark sempat mengganti pakaiannya, dia memakai kaos you can see dan celana pendek. Sedangkan aku memakan hot pants dan tank top serta topi plus kacamata hitam begitu juga dengan Mark. Dan kau tau, Mark sangat sangat sangat keren aku makin jatuh cinta sama dia, sungguh sungguh cinta. Kami berdua berjalan di sepanjang pesisir pantai sambil berpegangan tangan. Benar-benar serasa seperti pasangan yang sedang honeymoon hahahahahahaha. Karena dulu aku dan Kak Vanno tidak pernah pergi ke pantai, meskipun ia tau aku sangat menyukai pantai. Tapi ia jarang mengajakku berjalan ke sana, kami hanya menghabiskan waktu berdua di sirkuit, karena dia lebih memprioritaskan balapan dari pada aku. Itu juga yang mejadi salah satu alasanku lebih memilih Mark dan tidak mau kembali lagi padanya.
Ketika sedang asyik berjalan-jalan kami melihat ada empat buah mobil yang memasuki halaman Villa. Lalu kami berdua pun bergegas menghampiri mereka.
“Hai, akhirnya kalian sampai juga.” Sapa Mark ketika sudah memasuki halaman villa.
“Macet banget di jalan.” Keluh Nicky.
“Eitss, darimana nih kalian berdua?” tanya Kian.
“Ah, biasa abis jalan-jalan dari pantai.” Jawabku.
“Eh iya, kenalin ini Vogue udah pada kenalkan.” Brian memperkenalkan pacarnya padaku dan aku hanya mengangguk. “dan yang ini Gillian pacarnya Shane. Yang itu Georgina pacarnya Nicky dan yang ini Jodi pacarnya Kian.”
“Salam kenal semuanya, senangnya bisa nambah teman lagi.” Seruku bersemangat.
“Ternyata kamu cantik banget ya, Glad. biasanya sih aku Cuma dengar tentang kamu dari ceritanya Shane aja.” Ungkap Gillian.
“Ah, bisa aja deh. Aku kan Cuma cewek biasa-biasa aja yang keras kepala. Hehehe…” jawabku sambil tertawa.
“Iya, keras kepala tapi udah bikin Mark bener-bener tergila-gila. Nggak biasanya dia sampai kayak gitu, biasanya kalau udah di tolak atau kalau ceweknya cuek Mark langsung move on. Makanya waktu dengar Mark tergila-gila sama satu cewek dan sampai nggak bisa  move on  meskipun udah di cuekkin sama di tolak berkali-kali, tapi Mark tetap maju terus. Wajarlah, karena cewek yang dikejarnya itu cantik banget.” Jelas Jodi.
“Hahaha… Udah ah, muji-mujinya kita masuk yuk.” Ajakku pada mereka semua.
Lalu kami semua masuk ke dalam Villa.
“Buat cewek-cewek kamarnya ada di lantai dua dan para cowok di lantai satu.” Seru Mark.
“Yah, kirain kita tidurnya sepasang satu kamar.” Canda Kian.
“Mau di jitak Kak Leon ya, Ki. Hahaha…” ucapku sambil tertawa.
“Villanya keren banget nih. Bakalan betah banget aku di sini.” Seru Nicky.
“Ya udah mendingan kalian beresin dulu barang-barangnya di kamar gih. Buat cewek-cewek kita ke atas yuk,” ajakku pada Vogue, Gillian, Georgina dan Jodi.
Semetara kami para cewek pergi ke kamar atas, sedangkan para cowok di kamar bawah sedang bersama Mark.
“Silakan masuk.” Aku mempersilakan keempat cewek cantik itu masuk ke dalam kamarku.
“Kamarnya indah banget, Glad.” seru Vogue.
“Khusus kamar ini aku sendiri yang designe, soalnya ini kamar pribadi aku sih, Vo.” Jawabku.
“Asyik, kita bisa seru-seruan ini. Melakukan hal-hal yang cewek banget.” Ucap Gina.
“Iya nih. Eh ngomong-ngomong Glad, kok kamu keliatan pucat, sih? Lagi sakit?” tanya Vogue.
“Enggak, kok, aku baik-baik aja.” Jawabku santai.
Mereka berlima akhirnya malah asyik ngobrol, beginilah kalau cewek udah ngumpul. Saking asyiknya jadi lupa sama semuanya. Termasuk lupa sama pacar mereka masing-masing yang lagi pada nungguin di bawah buat jalan-jalan ke pantai.
“Eh, mana nih para cewek. kok nggak turun-turun, sih?” keluh Brian.
“Iya, nih, lagi pada ngapain sih mereka di atas?” timpal Kian.
“Kita susulin aja ke atas, yuk.” Nicky mengusulkan.
Lalu kelima cowok tampan itu pun bergegas menuju ke lantai dua. Dan ketika mendekati kamarnya Glad, mereka mendengar suara pacar-pacar mereka yang sedang tertawa dan bercanda. Karena pintu kamarnya tidak tertutup semuanya, ketika para cowok tampan itu masuk kedalam tidak disadari oleh para cewek.
“Ehmmm…” mereka berlima berdehem bersamaan dan mengagetkan para cewek cantik itu.
“Eh, dari kapan kalian ada disitu?” tanya Gillian.
“Dari tadi, kalian nggak sadar. Habis kayaknya asyik banget tuh ngobrolnya.” Jawab Shane.
“Maaf, habisnya kita keasyikan ngobrol, sih. Maklum  cewek kalau lagi ngumpul suka jadi lupa. Hehehe…” jelas Jodi sambil tersenyum.
“Ngomongin apaan sih, kayaknya asyik banget, deh. Sampai lupa masa kita?” tanya Mark.
“Rahasia, girls talk.” Jawabku sambil tersenyum.
“Idih, main rahasia, rahasiaan segala. Eh, ayo dong kita jalan-jalan ke pantai masa sih udah jauh-jauh kesini Cuma diem-diem aja.” Protes Nicky.
“Iya udah, yuk kita berangkat. Ngobrolnya nanti di terusin lagi nanti malam sebelum tidur.” Jawabku.

Kami bersepuluh orang pun langsung pergi menuju ke pantai yang berada tepat di depan Villa, dan jaraknya juga tidak terlalu jauh. Kian yang sangat menyukai surfing tidak lupa membawa papan surfing kesayangannya dan memamerkan keahliannya berselancar di atas ombak. Pokoknya Kian betul-betul keren deh. Pantaslah Jodi yang cantik itu bisa bertekuk lutut pada Kian. Karena aku yakin sekali kalau pantai ini sedang ramai bakalan banyak cewek yang mengejar-ngejar Kian. Sebagian dari kami ada juga yang bermain volley pantai, bermain pasir atau hanya duduk-duduk saja menikmati keindahan laut seperti aku. Karena entah kenapa aku merasa kalau ada yang tidak beres dengan tubuhku.
Sore harinya kami kembali ke pantai. Setelah membersihkan diri kami pun langsung bersiap-siap untuk melaksanakan pesta barbeque dan kali ini yang bertugas memanggangnya adalah Kak Leon dan Clariss, karena seharian ini mereka berdua terus saja pergi jalan-jalan.
Acara kali ini benar-benar meriah sekali. Karena Mark dan kawan-kawannya bernyanyi sambil diiringi oleh Kian dengan gitar kesayangannya. Kenapa mereka berlima bukan jadi penyanyi saja, ya. Sayang kalau bakat mereka terus di pendam. Dan lagi-lagi aku kerkantuk-kantuk, rasanya benar-benar lemas dan tidak bertenaga. Aku hanya berharap Kakak tidak menyadarinya, tapi anggapanku salah. Ketika aku sedang mengambil minuman Kakak menghampiriku.
“De, kamu nggak kenapa-napa, kan? Wajah kamu pucat terus sepulang dari Itali,” tegur Kakak.
“Glad Cuma kecapean aja, Kak. Karena sebenarnya dokter udah wanti-wanti kalau Glad ini nggak boleh cape, mesti makan sama istirahat yang teratur,” jelasku.
“Lho, emangnya kamu kenapa, de?” tanya Leon heran.
“Buat menjaga ginjal aku yang tinggal satu bisa tetap bekerja denngan normal, Kak.” Akupun akhirnya mengaku.
“Apa? Ginjal kamu tinggal satu, de? Tapi bagaimana bisa?” tanya Leon dengan wajah yang sangat terkejut.
“Buat menyelamatkan Prince aku, Kak.” jawabku singkat.
“Mark maksudnya?” Leon menebak-nebak.
“Iya, Kak. Karena saat itu Mark butuh donor ginjal secepatnya, lalu Glad ikut test dan ternyata ginjal Glad cocok, Kak. Dan akhirnya Glad menjalani transplantasi ginjal. Maafin Glad, Kak, karena selalu bertindak tanpa bilang dulu sama Kakak.” Jelasku sambil menunduk.
Tanpa di sadari ternyata Mark tidak sengaja mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Mark sangat kaget sekali mendengar pengakuan dari kekasih tercintanya itu. Jadi yang ada di tubuhnya saat ini adalah ginjal milik kekasih tercintanya. Pantas saja Mark merasa sangat dekat sekali dan memiliki kontak batin yang sangat kuat dengan Glad.
“APA!!! Jadi pendonor ginjal itu kamu, Princess?” ucap Mark kaget.
“Mark… jangan-jangan kamu udah dengar semuanya.” Ucapku terkejut.
“Iya, aku udah mendengar semuannya. Kenapa kamu menyembunyikannya dari aku. Kenapa nggak cerita, Glad.” cecar Mark.
“Maafin aku, Mark. Aku sama sekali nggak bermaksud buat menyembunyikannya dari kamu.” Jawabku sambil tertunduk.
Mark langsung memelukku erat dan menciumi kepalaku dengan lembut dan penuh kasih sayang. “Tapi kenapa harus kamu, sayang? Kenapa?”.
“Karena ginjalnya cocok sama kamu Mark.” Leon menambahkan.
“Iya, Kak. Sayang, pokoknya mulai saat ini kamu harus janji jangan terlalu cape. Pokoknya apa kata dokter mesti di turutin, ya. Dan aku yang bakalan pastiin kamu mengikuti anjuran dokter.” Cerosos Mark.
“Iya, jangan nakal-nakal lagi, ya.” Timpal Leon.
“Iya.” Jawabku dengan manja.
Lalu Kak Leon pun langsung memelukku juga, padahal aku masih dipeluk sama Mark. Dan tentu saja teman-teman yang lain terheran-heran dan bertanya-tanya melihat kami bertiga berpelukan. Makanya ketika kembali tempat duduk kami bertiga langsung di sambut dengan berbagai pertanyaan.
“Kalian tadi ngapain pada peluk-pelukkan?” tanya Kian.
“Ada deh, rahasia. Hehehe…” jawabku sambil tertawa.

Kami pun melanjutkan acara sampai larut malam. Ketika para cewek sudah masuk ke kamar mereka, para cowok masih betah ngumpul-ngumpul.
“Kak, Glad sering banget melakukan sesuatu tanpa di pikir panjang, ya.” Celetuk Mark.
“Itulah dia, apa yang ada dipikirannya saat itu pasti bakalan dia lakuin. Tanpa berpikir dua kali dan tanpa berundung dulu. Contohnya kayak waktu dia mendonorkan ginjalnya buat kamu.” Jawab Leon.
“Eh, pendonor ginjal kamu itu Glad, Mark?” tanya Nicky.
“Iya, Nick.” Jawab Mark singkat.
“Kok bisa sih?” Shane ikutan penasaran.
“Jangankan kalian, aku sama Kak Leon aja kaget dengar pengakuan dari Goad tadi.” Jelas Mark.
“Memangnya Glad nggak cerita apa-apa sama Kakak? Bukannya kalau sama Kakak Glad kan suka cerita banyak hal.” Ucap Brian.
“Nggak, Bri, Glad nggak cerita apa-apa sama Kakak, pasca dia ketemu lagi sama Vanno.” Jelas Leon.
"Vanno sekarang beda banget sama dulu Kak.” Celetuk Brian.
“Beda gimana maksudnya?” Leon penasaran.
“Glad nggak cerita kalau Vanno sudah mengancam gara-gara Glad lebih memilih Mark daripada Vanno.” Jelas Brian.

Lalu Brian pun menceritakan kejadian beberapa hari yang lalu pada Leon. Dan Leon sangat kaget sekali mendengar penuturan dari Mark dan Brian. Bahwa Vanno tega berbuat kasar pada adik tercintanya. Dan Leon nggak akan tinggal diam kalau sampai Vanno berbuat macam-macam sama Glad.
Tidak terasa liburan pun sudah selesai. Dan besok mereka kembali di sibukkan oleh rutinitas mereka sehari-hari. Glad juga mulai sibuk lagi sdi sirkuit buat test drive. Tentu saja di temani oleh Mark karena Mark nggak mau kalau Vanno sampai mengganggu Glad lagi.
Namun beberapa hari setelah liburan di Villa ada yang aneh sama Clariss. Dia jadi pendiam dan selalu menghindari Glad. Clariss selama ini memang selalu terlihat ceria dan baik-baik saja, tidak mau membuat orang-orang di sekelilingnya sedih dan susah.

Chapter 11


Chapter 11

Tiba-tiba…
“Lepasin Glad…” Mark menarik Vanno dan memukulnya. “Heh, kurang ajar, mau kamu apain pacar aku. Kamu nggak apa-apakan, princess
“Aku nggak apa-apa, Mark.” Jawabku dengan suara yang masih ketakutan
Vanno yang tersungkur ke rumput memegang ujung bibirnya yang berdarah karena pukulan dari Mark. Lalu ia pun berdiri.
“Oh, jadi kamu yang udah merebut Glad dari tangan aku.” Tegurnya.
“Siapa yang merebut Glad? Kamu anak baru jangan sembarangan.” Hardik Mark.
“Mungkin aku memang anak baru disini. Tapi aku bukan orang yang baru di kehidupan Glad.” sanggahnya.
Lalu tak lama kemudian Brian dan Clariss pun datang dengan napas terengah-engah.
“Hey, ada apa ini?” tanya Brian ketika sampai di situ.
“Baguslah, kalian berdua juga datang.” Ucap Vanno.
“Memangnya ada apa sama kita berdua?” tanya Clariss.
“Tentu saja ada. Kenapa kalian biarin Glad pacaran sama dia.” Ucapnya sambil menunjuk kearah Mark.
“Memangnya kenapa kalau mereka berdua pacaran? Toh mereka berdua sama-sama suka, justru kita senang sekali, karena pada akhirnya bisa bersatu.” Ucap Brian.
“Eh, emangnya kalian berdua udah jadian, ya? Waktu kapan, kok aku nggak tau sih?” tanya Clariss dengan tampang yang lucu.
“Memangnya kamu siapa? Berani melarang Glad buat pacaran sama aku?” tanya Mark.
“Aku… Vanno.” Ucapnya dengan mantap.
Tentu sama Mark, Brian dan Clariss langsung kanget.
“Nggak mungkin, Vanno udah meninggal setahun yang lalu.” Sanggah Brian.
“Dia memang Vanno…” Ucapku sambil tertunduk.
“Mustahil…” ucap Clariss tak percaya.
“Aku memang Vanno. Setelah sekian lama koma akhirnya aku bisa melihat dunia ini kembali. Tadinya aku bener-bener bahagia karena akhirnya aku bisa kembali bersama Glad, karena dia satu-satunya alasan aku buat tetap hidup. Tapi ternyata dia malah berpaling.” Jelasnya dengan nada penuh kekecewaan.
“Karena sekarang aku merasa jauh lebih aman dan nyaman berada disamping Mark, Kak. Dan aku benar-benar mencintainya, bahkan melebihi rasa cinta dan sayang aku sama Kak Vanno.” Jelasku dengan penuh keyakinan.
“Nggak bisa, kamu nggak boleh sama cowok lain. Yang boleh memdampingi kamu Cuma aku, nggak boleh yang lain.” Dia berkata dengan penuh emosi.
“Maaf, Kak, tapi aku nggak bisa karena aku udah pilih Mark.” Jelasku.
“Glad, kamu pasti bakalan menyesali semua ini. Dan aku bakalan ambil kamu dari dia.” Ancamnya sambil pergi meninggalkan kami semua.

Mark memelukku dengan erat, “Sayang, kamu nggak apa-apa, kan?”
Aku hanya mengangguk dalam pelukannya dan mulai menangis terisak. Ya, berada di pelukan Mark seperti saat ini benar-benar membuatku merasa lebih tenang dan aman.
“Udah, sayang, jangan nangis. Ada aku disini, akku bakalan lindungin kamu dari Vanno.” Ucap Mark berusaha menenangkan aku.
“Aku nggak abis pikir kalau Vanno bisa sampai seperti itu.” Ucap Clariss.
“Dia bukan Vanno yang dulu, Clariss. Aku nggak kenal dengan sosoknya yang sekarang.” Ucapku masih dalam pelukan Mark.
“Udahlah, yang penting sekarang kalian berdua hati-hati aja. Btw, kalian berdua serius udah jadian, nih?” tanya Brian.
“Iya, kita berdua udah resmi pacaran. Akhirnya pengorbanan aku selama ini nggak sia-sia. Hehehe…” jawab Mark sambil tersenyum.
“Ngomong-ngomong kita ke kantin aja yuk. Udah nggak mungkin masuk ke kelas, kan. Udah telat banget soalnya.” Clariss menyarankan.

Kami berempat pun pergi menuju ke kantin dan mengobrol disana sambil menunggu Nicky, Shane dan Kian selesai. Tentu saja mereka bertiga heran melihat kami sudah ada di sana.
“Lho, kok pada ada disini sih?” tanya Kian.
“Dari mana kalian berdua? Kok tadi nggak masuk, sih?” tegur Shane pada Brian dan Mark.
“Kita berempat bolos. Hehehehe…” jawab Brian sambil tertawa.
“Heh, kalian berempat bolos? Ngapain aja kalian dari pagi sampai siang gini?” sambung Nicky.
“Nolongin, Glad. Soalnya tadi pagi pas di kelas dia di tarik-tarik keluar dari kelas dengan kasar sama Vanno.” Jawab Clariss.
“Hah! Vanno…” jawab Shane, Nicky dan Kian barengan.
“Iya, untung aja kita bertiga buru-buru datang. Kalau terlambat, nggak tau gimana jadinya.” Sambung Brian.
“Tunggu, tunggu… bukannya Vanno itu udah lama meninggalkan?” tanya Nicky.
“Dia ternyata masih hidup, Nick. Lee itu adalah Vanno.” Jelas Mark.
“Ah, masih nggak ngerti aku. Cerita dari awal dong.” Pinta Kian.   
Lalu Glad pun menceritakan semuanya dari awal sampai kejadian yang baru saja di alaminya tadi pagi.
“Ya ampun, nekat banget ya dia.” Ucap Nicky setelah mendengarkan cerita dari Glad.
“Dulu dia nggak kayak gini. Sekarang aku nggak kenal dengan sosoknya.” Jawabku.
“Ngomong-ngomong, jadi ada yang baru jadian nih. Asyik makan-makan, nih.” Ucap Shane menggoda Mark dan Glad.
“Iya,iya, nanti aku traktir kalian semua, kok.” Jawab Mark.
“Moga langgeng, ya.” Kian memberi selamat pada mereka berdua.
“Amien…” jawab Mark dan Glad bersamaan.
“Eh, gimana kalau malam minggu besok kita barbeque’an. Pasti seru tuh.” Brian member ide.
“Wah, boleh juga tuh idenya aku mau ajakin Georgina ahh.” Ucap Nicky.
“Mau di mana tempatnya?” tanya Shane.
“DI Villa milik keluarga kamu aja, Glad. itu loh yang di Strandhill.” Jawab Brian.
“Boleh tuh, nanti aku bilang ke Daddy dulu, ya.” Jawabku.
“Pasti bolehlah. Kan Clariss juga ikutan, otomatis Kak Leon juga ikutan, dong.” Timpal Kian.
“Iya-iya, nanti aku kabarin lagi, ya. Eh, ajakin pacar-pacar kalian, ya. Biar tambah seru” Tambahku.
“Pasti itu.” Jawab Shane.
Selesai kuliah aku dan Mark memutuskan untuk pergi jalan-jalan sebentar. Karena kebetulan ada buku yang harus aku beli, jadi kami pergi ke toko buku di Everly Mall. Dan setelah  menemukan bukunya Mark mengantarkan aku pulang. Waktu sampai Kak Leon dan Daddy sudah pulang. Kakak kaget melihat Mark mengantarku pulang.
“Oh iya, Mom, Dad, kanalin ini Mark Feehily pacar aku.” Ucapku memperkenalkan pacarku tersayang pada kedua orang tuaku.
“Kamu tampan, Mark.” Puji Mommy.
“Makasih, Tante.” Jawabnya dengan pipi yang memerah.
“Eh, akhirnya kalian jadian juga. Kenapa nggak dari dulu aja sih.” Ledek Kak Leon.
“Kakak masa nggak tau sih, gimana susahnya meluluhkan hati Glad. Mesti ngalamin dulu banyak kejadian, tapi nggak apa-apa kok. Karena pada akhirnya Glad mau juga membuka pintu hatinya.” Jelas Mark.
“Harap maklum, Mark, Glad ini memang cuek anaknya, tapi manjanya minta ampun.” Daddy ikutan ngomong juga.
“Ah, udah dong jangan buka kartu aku.” Ucapku sambil merengek manja pada Daddy.
“Tuh, kan, belum apa-apa udah keluar sifat manjanya.” Ucap Daddy sambil tertawa.
Mark hanya tertawa melihat Daddy menggodaku.
“Mark… jangan ikutan ketawa, ihh.” Seruku dengan wajah yang sudah semerah buah tomat.
“Maaf, hehehe…” ucapnya sambil terkekeh.
Dan Ya Tuhan… senyumannya itu bikin aku hamper pingsan, apalagi di hiasi lesung pipit di kedua pipinya. Mark… jangan pernah berhenti tersenyum buat aku.
Tiba-tiba Kak Leon membuyarkan lamunanku.
“Hey, kenapa malah bengong sambil senyum-senyum sendiri gitu, sih.” Tergur Kakakku.
Dengan wajah yang sudah memerah aku pun menjawab, “Nggak apa-apa kok, Kak,”. “Eh iya, Daddy, Glad bolehkan pakai Villa yang di Strandhill? Buat hari Sabtu sama Minggu. Glad sama teman-teman mau barbequean disana,” ucapku.
“Boleh saja, asalkan Kakakmu ikutan juga.” Jawab Daddy.
“Kakak pasti ikut kok, Clariss juga ikutan, Dad.” Ucapku.
“Acara sama teman kampus?” tanya Kakak.
“Nggak juga sih, Kak, Cuma aku, Clariss, Mark sama teman-temannya Mark.” Balasku.
“Oke, deh, Kakak pasti ikutan. Soalnya udah lama nih nggak ketemu sama Clariss, gara-gara sibuk di kantor.” Jawab Kakak sambil tersenyum.
Kami pun melanjutkan obrolan kami sampai larut malam. Sebelum akhirnya Mark pamit untuk pulang ke apartementnya. Setelah Mark pulang aku pun masuk ke kamar dan tidur dengan nyenyak sekali. Belum pernah aku tidur senyenyak ini.
Keesokkan harinya seperti kemarin Mark menjemputku dan kami berangkat ke kampus bersama-sama. Sejak rencana untuk mengadakan pesta barbeque itu tercetus dari bibir Brian, kami semua sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Kami benar-benar excited dan sudah tidak sabar menunggu hari Sabtu tiba. Aku dan Mark bolak balik ke Strandhill untuk menyiapkan perlengkapan yang kami butuhkan nanti. Aku benar-benar suka sekali berada di Strandhill, karena aku sangat suka dengan laut. Kebetulan sekali Villa milik keluarga kami memiliki view yang langsung mengarah ke laut. Ah, pokoknya sangat indah. Semoga nanti kalau sudah menikah aku bisa membangun sebuah rumah di daerah ini.
Sore itu kami berdua masih berada di Villa. Kami berdua duduk di gazebo yang ada di lantai dua dan menghadap langnsung ke laut. Tempat ini jadi favoritku, karena bisa melihat sunset dengan sangat jelas dari sini.
“Aku sangat, sangat suka menghabiskan waktu disini. Apalagi sore hari.” Ucapku memecah keheningan.
“Villa ini punya view yang sangat bagus dan indah.” Jawab Mark.
“Iya, tapi menurut aku tempat terbaik dari tempat ini tuh disini. Soalnya kita bisa liat sunset yang indah banget.” Seruku bersemangat.
“Eh, kayaknya sebentar lagi muncul tuh,” Mark memberitahu.
Aku langsung mengarahkan pandanganku ke depan, karena semburat berwarna jingga mulai terlihat di saat aku sedang terkagum-kagum dengan pemandangan di depanku. Tiba-tiba Mark mencium bibirku dengan sangat mesra.
“Sayang, I love you so much. You’re my life, my breath and my everything.” Ucapnya dengan lembut.
Belum sempat menjawab perkataannya dia kemballi mendaratkan sebuah ciuman di bibirku. Ah, suasananya sangat romantic. Kami benar-benar terbawa suasana sore itu, berciuman di senja hari sambil menikmati matahari terbenam. Moment yang aku inginkan sejak dulu, dan dengan Mark aku bisa mewujudkannya. My perfect day with my perfect prince. Malamnya kami pun pulang ke Dublin. Mark mengantarkanku sampai rumah setelah itu dia langsung pamit karena lelah. Apalagi besok sudah hari Jum’at. Kami benar-benar tidak sabar, rencananya aku, Mark, Clariss dan Kak Leon akan menginap di Villa sejak Jum’at sore. Sedangkan teman-teman yang lain baru akan menyusul kami pada hari Sabtu pagi bersama Brian.