Jumat, 21 Desember 2012

Chapter 2


Chapter 2

Setelah menutup telepon.
 “Bentar lagi Kak Leon datang. Kebetulan dia lagi ada disekitar sini,“ jelas Brian.
“So, bisa ceritain gimana kamu bisa ketemu Glad?“ Nicky membuka suara.
“Pas mau kesini aku liat Glad keluar dari pemakaman yang terletak nggak jauh dari sini,“ jawab Mark yang berusaha tenang, namun bisa diketahui bahwa dia sangat khawatir sekali.
“Hah ! Pemakaman?“ ucap Shane dan Kian berbarengan.

Belum sempat Mark menjawab tiba-tiba ada yang datang dan memencet bell. Ternyata Leon dan Clariss yang datang.

“Sayang, kamu kenapa?“ ucap Leon sambil membelai kepala adik tercintanya ini.
“Kak, mendingan Glad di bawa ke rumah sakit aja,“ Brian menyarankan.
Tanpa ba-bi-bu-be-bo Leon langsung menggendong Glad ke dalam mobil dan ikuti oleh Brian dan teman-temannya.

Rotundra Hospital…
Leon dan Clariss sedang cemas menunggu dokter selesai memeriksa Glad.
Lalu datanglah Brian dan teman-temannya itu.
“Keadaan Glad gimana, Kak?“ tanya Brian.
“Dokter masih didalem. Oh iya, Bri, makasih ya kamu udah nolongin Glad,“ ucao Leon.
“Bukan aku, Kak. Tapi Mark yang nolongin Glad,“ ujar Brian sambil menarik Mark yang sedari tadi diem terus dibelakangnya.
“Oh, oke. Thanks ya Mark,“ ucap Leon sambil menepuk pundak Mark.
“Sama-sama, Kak,“ jawab Mark.
“Ketemu Glad dimana?“ akhirnya Clariss membuka suaranya.
“Pemakaman,“ jawab Shane, Kian dan Nicky kompak.
Tentu saja Leon kaget mendengarnya “Pemakaman?“.
“Iya, Kak. Aku liat Glad keluar dari pemakaman,“ Mark menjelaskan.
“Pasti Vanno, Kak. Ahh, ini salah aku. Coba aku nggak ungkit tentang Vanno,“ sesal Clariss sambil menunduk.
 Akhirnya dokter pun keluar.
“Siapa keluarga dari pasien?“ tanya dokter.
“Saya kakaknya, dok. Gimana keadaan adik saya?“ cerocos Leon.
“Tidak ada yang begitu parah dengan adik anda. Dia hanya mengalami depressi ringan yang membuat tubuhnya drop. Jadi untuk beberapa hari adik anda harus di rawat disini,“ jelas dokter.
“Syukurlah, apa kita boleh melihatnya, dok?“ ucap Leon.
“Tentu saja silakan. Kalau begitu saya permisi dulu,“ setelah berkata itu dokterpun pergi.

Di ruangan Glad di rawat.
Mereka hanya terdiam melihat Glad terbaring lemah dengan selang infus terpasang dilengannya.
Leon pun memecah kesunyian itu.
“Bri, ini udah malem. Kamu dan teman-temanmu lebih baik pulang dan beristirahat. Kamu juga Clariss ini udah larut. Biar kakak yang jaga Glad, sebentar lagi mommy dan daddy datang kok.“
“Ya udah deh Kak, kita pamit besok kita kesini lagi,“ jawab Brian.
“Oh iya, Bri, bisa tolong antar Clariss pulang, kan?“ pinta Leon.
“Siap, Kak,“ jawab Brian.
“Mark ayo kita pulang,“ ajak Shane. Kian yang melihat keengganan Mark untuk pergi dari situ akhirnya berkata “Besok kita kesini lagi, Glad baik-baik aja kok.“
Dengan enggan Mark pun ikutan pulang. Padahal sebenarnya Mark masih ingin berada di rumah sakit.

Dalam perjalanan pulang Mark terus bertanya-tanya dalam hati. Siapa Vanno dan ada hubungan apa sama Glad???
“Besok aku harus tanya sama Brian dan Clariss, mereka berdua pasti tahu tentang Vanno“,ucap Mark dalam hati.

###


 Rotundra hospital...
Ketika Mommy dan Daddy‘nya datang Glad sudah bangun.
“Keadaan kamu gimana sayang?“ tanya Mandy sambil membelai kepala putri kecilnya itu.
“Lemes, Mom, kenapa Glad ada di rumah sakit,?“ tanya Glad dengan lemah.
“Kamu pingsan, de. Temennya Brian yang nolongin kamu,“ ucap Leon pada adiknya.
“Oh...“ jawab Glad singkat.
“Ya sudah, sebaiknya kamu tidur saja lagi ya sayang. Biar cepat sehat,“ ucap Louis pada putri kecilnya.
“Iya, Dad,“ ucap Glad sambil berusaha memejamkan matanya. Dan berusaha untuk melupakan kejadian tadi siang.
Keesokkan harinya, di kampus.
Mark sudah janjian ketemu sama Clariss di kantin. Dan waktu sampai Clariss sudah tiba dan sedang mengobrol dengan keempat sahabatnya itu.
“Maaf aku telat,“ ucap Mark sambil duduk di kursi kosong sebelah Shane.
So, apa yang mau kamu tanyain sama aku Mark?“ tanya Clariss.
“Aku pengen tahu siapa Vanno dan ada hubungan apa Vanno dengan Glad,“tanya Mark.
Mendengar pertanyaan Mark itu Clariss memandang Brian, dengan tatapan yang mengisyaratkan apa dia harus menceritakan tentang Vanno pada Mark?. Lalu Brian menganggukksn kepalanya, sebagai tanda ceritakan saja.
Clariss pun menarik nafas dalam da setelah itu mulai bercerita tentang Vanno “Tapi sebelumnya aku mau tanya, apa ada yang tahu sama Revanno Adams?“
“Revanno Adams itu kan kalau nggak salah pembalap super bike yang meninggal tahun lalu, kan,“ jawab Kian.
“Iya, kamu bener, Ki. Dan Vanno itu adalah first love‘nya Glad. Glad dulunya itu gadis yang periang. Tapi pasca Vanno meninggal dunia dia berubah jadi gadis yang dingin dan cuek sama cowok. Karena Glad masih belum bisa menerima kenyataan kalau Vanno udah meninggal. Apalagi Vanno meninggal di pelukan Glad,“ cerita Clariss.
“Berarti kemarin malem Glad mendatangi makamnya Vanno?“ tebak Nicky.
“Iya, tebakan kamu bener, Nick,“ balas Clariss.
“Makanya Mark, aku bilang sama kamu kalau Glad susah buat di taklukin,“ sambung Brian.
“Aku yakin kalau aku bisa. Aku harus bisa nyembuhin luka di hati Glad. Apapun cara itu,“ ujar Mark yakin.
“Semangat ya Mark,“ Shane menyenangati.
“By the way, gimana kalau kita tengok Glad di rumah sakit,“ seru Brian.
Dan mereka semua menyetujui usulan Brian tersebut.
Berangkatlah mereka menuju Rotundra hospital. Waktu sampai kebetulan ada Leon disana.
Di ruangan Glad....
“Glad, kamu harus bilang makasih sama Mark, soalnya dia yang nolongin kamu,“ ucap Leon pada adiknya.
 Thanks Mark,“ ucap Glad sambil memalingkan wajahnya dari Mark.
 Tiba-tiba Clariss berkata.
“Kak Leon, udah lunch belum? Kita ke kantin yuk,“ ucap Clariss sambil menarik lengan Leon.
“Eh, ikutan dong,“ sambung Nicky.
“Mark nggap apa-apa kan kita tinggal sebentar?“ tanya Shane.
Mark hanya mengangguk.
Dan sekarang, tinggal dia cuma berdua dengan Glad.
“Emmm, Glad. Kamu udah baikan, kan?“ tanya Mark ragu.
“Keliatannya...“ jawab Glad dingin.
Denger jawaban Glad sempet bikin Mark ciut.
“Aku mau tidur aja. Kalau kamu bete susul aja yang lain di kantin,“ ucap Glad sambil menarik selimut dan mulai menutup matanya.
Ternyata Glad tetap memperlakukan Mark dingin. Mark hampir putus asa menghadapi Glad. Bahkan ketika Glad sudah sembuh dan kembali masuk kuliah. Glad tetap kokoh dengan sikap ice princess‘nya.
“Glad... Mau sampai kapan kamu bersikap dingin sama Mark? Ayolah Glad, apa kamu nggak cape!“ ujar Clariss.
“Clariss denger, ya. Jangan mentang-mentang sekarang kamu pacarnya Kak Leon kamu bisa seenaknya sama aku. I‘m go.“ Glad pun pergi meninggalkan Clariss sambil menggerutu.
Bicara dalam hati “Ishhh, baru sehari jadi pacarnya Kak Leon Clariss udah kayak tante-tante aja.”

Di basecamp....
“Arrgghhhh, aku mesti gimana lagi buat ngeyakinin Glad,“ keluh Mark sambil berjalan mondar mandir.
Rupanya Mark lagi galau tuh.
Nicky, Shane, Kian dan Brian memutar otak mereka buat bantuin Mark cari cara ngeluluhin Glad yang makin hari makin kokoh menjadi Ice Princess.
Sampai tiba-tiba Mark mengagetkan keempat sahabatnya itu.
“Aku tahu, gimana caranya buat ngeluluhin Glad,“ ucap Mark yakin.
“Apaan Mark?“ tanya Kian.
“Bri, Glad suka bunga apa?“ tanya Mark pada Brian.
Sambil memutar bola matanya Brian pun menjawab, “Kalau nggak salah sih mawar putih.“
Thanks, kalau gitu aku pergi dulu,“ Mark langsung aja pergi. Meninggalkan mereka yang bingung.

Ada satu hal yang selama ini Glad sembunyikan, bahkan keluarganya juga nggak ada satupun yang tahu. Tiga bulan terakhir ini Glad menekuni dunia balapan motor. Karena setiap memacu si kuda besi ini Glad selalu merasa lebih baik dan merasakan sesuatu yang luar biasa. Mungkin inilah perasaan yang Vanno rasakan ketika memacu motornya dengan kecepatan tinggi.
Glad bergabung dengan team yang dulu dipakai Vanno.
Sekarang ini Glad sedang giat latihan untuk mengikuti kompetisi pertamanya. Dan kemampuan Glad makin hari makin baik. Ternyata Glad mempunyai skill dan teknik yang sama dengan Vanno.
Sementara itu Mark lagi sibuk buat mempersiapkan sebuah kejutatan untuk Glad nanti malam. Mark menyewa satu tempat di sebuah restoran yang memiliki kolam renang yang luas. Lalu rangkaian bunga mawar putih berbentuk tulisan YOU ARE MY ANGEL GLAD diletakan di kolam tersebut. Mark juga minta disedikan piano karena Mark akan menyanyikan sebuah lagu yang dia tulis khusus untuk Glad.
Sore itu Mark pun menelepon Glad yang kebetulan masih berada di sirkuit.
“Please, Glad. Kamu datang, ya!“ pinta Mark dengan suara memelas.
“Liat nanti aja. I‘m busy now. Bye.“ Glad langsung menutup teleponnya dan kembali melakukan test drive.
Sedangkan Mark diseberang sana hanya bisa mematung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar