Chapter 8
Tiba-tiba Jean datang dan
langsung mendekati Mark lagi. Tapi kali ini Mark terlihat senang sekali bertemu
dengan Jean. Bahkan Mark meminta Jean buat bergabung bersama mereka.
Dan tentu saja Jean sangat
senang sekali meskipun dia sempat bingung dengan sikap Mark yang tiba-tiba saja
jadi ramah padanya. Sedangkan Clariss hanya diam sambil memanyunkan bibirnya.
Karena merasa terganggu dengan kehadiran
Jean.
“Tumben banget kamu nyapa aku.
Mark. Biasanya juga kamu cuek banget sama aku.” Keluh Jean pada Mark.
“Masa sih, akunya lagi bad mood aja kali. Makanya aku cuekin
kamu.” Balas Mark.
“Kenapa kamu, Clariss?”
Tanya Brian yang menyadari gelagat Clariss yang risih.
“Ah, nggak apa-apa kok, Bri.
Aku Cuma lagi nyariin Glad aja. Soalnya dari tadi aku belom liat dia.” Kilah
Clariss.
Dan Brian hanya membalas
dengan, “Oooohhhh…”.
Tiba-tiba Glad dan Lee
datang ke kantin untuk makan. Karena dari tadi mereka berdua menghabiskan waktu
di perpustakaan mencari bahan materi untuk tugas. Kali ini mereka bisa dengan
jelas melihat wajah Lee. Brian bener-bener kaget, karena wajah Lee sangat mirip dengan Vanno. Mereka
bagaikan pinang di belah dua, hanya saja rambut mereka yang berbeda.
“Ya ampun…! Dia bener-bener
mirip banget sama Vanno. Iya kan, Clariss!” seru Brian, ekspresi kaget terlihat
jelas di wajahnya yang tampan.
“Iya, dia mirip banget. Kok
bisa, ya? Setau aku Vanno itu kan nggak punya saudara kembar.” Jawab Clariss.
“Ganteng ya, pantesan aja
Glad susah buat move on dari Vanno. Meskipun Vanno udah meninggal dunia.”
Timpal Nicky.
“Udah mulai bisa buat move on. Eh, Mark nya malah kayak gitu
di tambah tiba-tiba aja cowok yang mirip
first love’nya muncul. Pasti Glad bimbang sama galau banget tuh.” Ucap Kian
dengan sangat yakin. Padahal sih sebenernya Kian ngomong gitu tuh buat
manas-manasin Mark.
“Kalian ini kenapa sih suka
nyangkut-nyangkutin aku sama Glad. Aku kan sama dia nggak punya hubungan
apa-apa.” Tukas Mark.
Dan tentu saja ucapan Mark
itu bikin Jean bingung dan senang dalam waktu yang bersamaan. Tapi meskipun
begitu, tetap saja tidak menyurutkan niat buruk dihatinya untuk terus
mengganggu Glad.
Hari demi hari Glad dan Lee
pun makin dekat dan akrab. Begitu juga Mark dengan Jean, meskipun sedikit demi
sedikit Mark mulai mengingat tentang Glad. Tapi karena keakraban Glad dan Lee,
Mark hanya diam saja. Tidak memberitahu siapapun bahwa dirinya mulai bisa
mengingat kembali termasuk tentang Glad. Yang masih tempat istimewa di hatinya
sampai kapanpun. Mark beranggapan bahwa Glad sudah benar-benar menutup pintu
hatinya, apalagi sejak kehadiran Lee yang wajahnya mirip Vanno. Mark makin kuat
dan yakin untuk menyembunyikan tentang kesembuhan dan tentang ingatannya yang
sudah mulai kembali.
Sore itu selesai kuliah Lee
mengajak Glad pergi berjalan-jalan keliling kota dengan motor sport
kesayangannya. Lelah berjalan-jalan mereka berdua mutusin buat beristirahat di
sebuah kafe. Dan ketika masuk, Glad melihat pemandangan yang membuat hatinya
kembali terasa sakit. Entah rasa sakit yang sudah keberapa kali ini. Iya, Glad
melihat Mark sedang bersama Jean. Mereka berdua terlihat sangat mesra sekali.
Sesekali Mark berbisik di kuping Jean, dan Jean pun tertawa malu-malu.
“Tuhan, kenapa hati aku
terasa teramat sangat sakit melihat semua ini?” ucapnya dalam hati,
“Glad, ayo kita masuk?”.
Tiba-tiba suara Lee membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya.” Ucapku sambil
mengikuti Lee menuju meja yang dipilihnya.
Untunglah Lee memilih meja
yang jauh dari meja Mark dan Jean. Dan kami berduapun tidak perlu untuk
melewati meja mereka berdua. Apa Lee tahu apa yang aku pikirkan? Entahlah yang
jelas hari ini dia sudah menyelamatkan aku.
“Kamu mau pesen apa?” Tanya
Lee padaku.
“Hmm, apaan, ya? Aku mau mashed potato sama chicken mayonnaise minumnya mineral
water aja. Kamu makan apa?” tanyaku pada Lee.
“Makanan yang kamu pesen itu
kesukaan aku. Kamu juga suka, ya? Kok bisa samaan sih. Hehehe… ya udah aku
pesenin dulu, ya.” Ucapnya sambil beranjak dari kursi.
Beberapa saat kemudian Lee
pun kembali. Sambil menunggu pesanan datang , kami berdua mengobrol banyak hal
sambil bercanda. Aku berusaha untuk menganggap bahwa tidak ada Mark dan Jean di
tempat ini. Dan akhirnya pesanan kami berduapun datang.
“Hmm, baunya enak banget
nih.” Ucap Lee sambil mendekatkan hidungnya pada makanannya.
“Kamu kayak kucing, ihh.”
Ucapku sambil menahan tawa melihat tingkah Lee.
“Nggak apa-apa. Kucingkan
lucu, kamu suka, kan?” ucapnya dengan nada menggoda .
“Nggak, aku sukanya
hamster.” Jawabku.
“Tapi kan lebih lucu
kucing.” Balasnya.
“Tapi, aku nggak suka. Aku
sukanya hamster, Lee. Udah ahh, kita makan aja, nanti keburu dingin lagi
makanannya.” Ucapku sambil mulai makan.
“Iya, iya, aku juga makan.”
Ucapnya seperti anak kecil.
Tanpa di sadari ternyata
Mark dari tadi memperhatikan mereka. Dengan tatapan yang marah, sedih dan
kecewa yang campur aduk.
“Harusnya aku yang ada di
samping Glad sekarang ini, bukan dia. Lalu senyuman dan tatapan yang indah itu
buat aku. Tuhan, apa yang harus aku biar Glad bisa kembali lagi sama aku? Karena
aku yakin banget kalau sebenarnya Glad punya perasaan yang sama dengan aku.
Kenapa ingatanku baru kembali sekarang? ” keluh Mark dalam hati.
“Mark, kok bengong, sih?
Abisin dong makanannya.” Tiba-tiba Jean berbicara.
“Aku udah kenyang, Jean.
Kita pulang aja.” Ucap Mark sambil beranjak pergi.
“Mark… tungguin dong. Kamu
kenapa, sih?” ucan Jean dengan kesal sambil menngikuti Mark.
Huh… untung saja mereka
berdua pergi juga, ucap Glad dalam hati.
Setelah makan Lee
mengantarkan Glad pulang. Selama ini Lee hanya mengantar Glad sampai depan
rumah saja. Meskipun Glad sudah berulang kali memintanya untuk mampir, Lee
selalu menolak dengan alasan karena ada hal yang harus di kerjakannya.
“Aku pulang.” Ucapku dengan
lemas.
“Dari mana sayang? Jam
segini baru pulang?” Tanya Mandy pada putrinya.
“Abis jalan-jalan sama Lee,
Mom.”
“Kok nggak mampir dulu sih?”
Mandy bertanya.
“Ya, nggak tau, Mom. Bilangnya sih ada yang
mau di kerjain atau apalah itu aku nggak tau. Eh, Daddy sama Kak Leon kemana,
Mom?” ucapku sambil mencomot sepotong cheesse
cake buatan Mommy yang baru di angkat dari oven.
“Mereka berdua bakalan
pulang terlambat. Tapi, Glad, apa nggak aneh kok Lee nggak pernah mau mampir,
sih? Nggak mungkin kalau takut sama Daddy dan kakakmu,” ucap Mandy.
“Nggak tau ah, Mom. Dia tuh
aneh, kadang Glad suka mikir kalau dia tuh nyembunyiin sesuatu gitu. Masa iya
harus Glad selidikin, sih.” Jawabku.
“Oh, gitu ya. Heh, mandi
dulu gih sana jangan makan aja.” Tegur Mandy.
“Hehehe… abis cheesse cake buatan mommy enak banget,
sih. Ya udah, kalau gitu Glad ke kamar dulu, ya.” Ucapkku sambil beranjak pergi
menuju ke kamar.
Sesampainya di kamar aku
nggak langsung mandi melainkan langsung duduk melamun di meja belajarku. Dan
aku melihat kotak pemberian dari Mark sebelum dia mengalami kecelakaan itu. Aku
mengeluarkan liontin itu dari kotaknya dan memandanginya. Tanpa terasa mataku
mulai panas dan air mataku pun jatuh.
“Mark… apa harus aku
mengembalikan liontin ini sama kamu? Jean yang pantas memakainya, bukan aku.
Karena aku bukan siapa-siapanya kamu. Karena akan percuma saja, toh aku bilang
kalau aku sadar selama ini aku cinta dan sayang sama kamu. Kamu nggak mengingat
aku sedikit pun. Jadi untuk apa aku terus menyimpan liontin ini. Hanya akan
membuat hatiku sakit.” Ucap Glad sambil terisak.
Keesokkan harinya. Karena
hari Minggu Glad memutuskan buat pergi ke Dublin Circuit saja. Karena Mike
memintanya untuk datang. Ada hal yang ingin ia sampaikan selain meminta Glad
untuk melakukan test drive motornya.
“Oh iya, Glad, bakalan ada
balapan di Spanyol dan Italia bulan depan. Apa kamu mau ikutan? Kompetisinya
berlangsung selama 2 bulan, dan race’nya bakalan berlangsung di Muggelo Circuit
Italia, Catalunya Circuit dan Valencia Circuit di Spanyol.” Jelasnya.
“Seriusan… Aku mau banget
ikutan Mike. Aku pengen buktiin dan nunjukkin kalau cewek juga bisa
berkompetisi di ajang superbike.” Jawabnya senang.
“Tapi Glad, kita bakalan
pergi selama dua bulan, lho. Nanti mau bilang apa sama keluarga kamu?” Mike
memberitahu.
“Bulan depan, kan? Aku bisa
minta tolong sama Kak Leon, Mike. Kakak pasti bantuin kok.” Glad menyakinkan.
“Ya sudah kalau gitu. Masih
ada waktu kok. Gimana kalau sekarang kamu cobain motor baru ini. Kalau ada yang
kurang sreg settingannya kan ketahuan.” Lanjut Mike.
“Oke, kalau gitu aku ganti
baju dulu, ya.” Aku pun pamit dan pergi menuju ruang ganti.
Setelah mengganti pakaiannya
dengan pakaian khusus balapan, aku pun langsung ke lintasan dan memacu motor
kesayanganku dengan kecepatan tinggi. Dan aku benar-benar puas dengan hasil
kerja Mike dan teamku. Test drive hari itu berjalan lancar, tanpa insiden
sedikitpun. Sejak hari itu Glad lebih banyak menghabiskan waktunya di sirkuit
daripada berkumpul bersama teman-temannya. Bahkan sudah beberapa kali Glad
tidak masuk kuliah, karena harus bolak balik Irlandia-Spanyol-Italia.
Hari itu Glad tidak masuk
kuliah lagi. Mark pun mulai menanyakan keberadaan Glad yang jadi jarang masuk.
Saat itu mereka berkumpul di taman yang berada di kampus.
“Clariss, kok aku perhatikan
kamu sekarang sendiri aja. Biasanya kan suka sama Glad.” Tanya Mark.
“Ah, iya, dia lagi sibuk,
Mark. Katanya sih, hari ini dia mau datang ke kampus, dia mau cuti dulu.” Jawab
Clariss.
“Glad mau cuti kuliah?
Kenapa emangnya?” Nicky ikutan tanya.
“Bulan depan dia mau pergi
ke Spanyol sama Itali untuk waktu yang cukup lama.” Jawab Clariss.
“Jangan bilang dia mau pergi
kesana buat ikutan balapan!” ucap Brian yakin.
“Apa, Bri? Balapan?” Mark
terheran-heran mendengar ucapan Brian.
“Kamu nggak tau ya, Mark.
Sebenernya Glad itu pembalap. Bahkan beberapa waktu yang lalu Glad sempet
mengalami kecelakaan. Yang pertama sebelum kamu kecelakaan dan yang terakhir
ketika kamu masih menjalani perawatan di rumah sakit,” Nicky menjelaskan.
“Dan keadaan Glad sekarang
tidak sebaik waktu itu.” Shane menambahkan.
Mendengar semua itu Mark
merasakan sakit di hatinya. “Eh, iya, aku mau minta tolong sama kalian bisa
nggak?”
“Minta tolong apaan, Mark?”
Tanya Kian.
“Bantu aku buat cari orang
yang sudah mendonorkan ginjalnya buat aku. Mom bilang kalau kecelakaan itu
merusak total salah satu ginjal aku. Waktu aku tanya siapa yang udah
mendonorkan ginjalnya buat aku Mom nggak mau bilang. Padahal aku pengen banget
ngucapin terima kasih karena berkat dia aku masih bisa hidup sampai detik ini.”
Jelas Mark.
Tiba-tiba mereka melihat
Glad keluar dari ruang tata usaha. Dia datang ke kampus untuk mengurus
surat-surat pengajuan cutinya. Wajahnya terlihat agak pucat dan sangat
kelelahan sekali.
“Eh, Glad tuh. Kok lesu
gitu, ya?” Shane memberitahu.
“Glad……..” Clariss memanggil
sahabatnya itu sambil melambaikan tangannya.
Lalu Glad pun
menghampirinya.
“Kalian ini, ya, di perhatiin
kerjaannya nongkrong mulu. Kapan belajarnya.” Ucapku ketika sampai ditempat
mereka berkumpul.
“Yeee… Sok tau nih. Kamu aja
yang nggak tau. Kita kan ngumpul kayak gini kalau pas jam kosong aja.” Brian
berkilah.
“Hahaha… iya, iya, percaya,
kok.” Jawabku sambil tertawa.
“Glad, kamu katanya cuti
dulu ya kuliahnya?” Kian bertanya.
“Iya, abis kalau sambil
kuliah aku jadi kurang focus sama yang aku kerjain sekarang.” Jawabku.
“Biar bisa lebih focus sama
balapan maksudnya?” timpal Nicky.
“Eh… kok kalian tau, sih.
Pasti Clariss yang kasih tau, ya.” Ujarku.
“Nggak juga, kok. Pas kamu
yang kecelakaan beberapa waktu yang lalu kita tau, kok. Soalnya kita juga ada
di rumah sakit lagi nengokin Mark, kamu inget, kan?” Tanya Shane.
“Oh, iya. Aku inget.”
Jawabku sambil mengangguk.
“Eh, iya, tumben kamu
sendirian. Biasanya kan kemana-mana suka berdua sama Lee. Kok sekarang
sendirian, sih? Eh, kamu sama dia udah jadian, ya?” Tanya Clariss sambil
sedikit menggodanya.
“Idihh, kata siapa aku udah
jadian sama Lee. Kita Cuma temen deket aja kok. Dan kalau sekarang aku sendiri
itu karena udah beberapa hari ini Lee menghilang nggak tau kemana. Tapi itu
bukan urusan aku. Oh iya, Mark, aku pengen mengembalikan ini sama kamu.” Ucapku
sambil mengeluarkan kotak berisi liontin yang diberikannya beberapa waktu yang
lalu.
Mark mengambil kotak
tersebut dari tangan Glad sambil mengernyitkan dahinya, “Kotak apa ini?”
“Kamu pasti bakalan tau isi
dari kotak itu apaan. Aku Cuma mau bilang, orang yang pantas buat memilikinya
bukan aku tapi Jean. Oke, kalau gitu aku pergi dulu, ya. Ada yang harus aku
selesaikan. Bye.” Aku pun pamit dan buru-buru pergi dari tempat itu.
Sepeninggalan Glad, Mark pun
hanya memandang kotak itu. Sampai akhirnya membukanya dan terpaku melihat isi
kotak tersebut. Mark langsung ingat, dengan amat sangat jelas sekali. Liontin
yang ada di dalam kotak itu dia berikan pada Glad sebelum kecelakaan itu
terjadi. Liontin yang di belakangnya terukir nama Glad dan namanya.
“Liontin ini…” ucap Mark
tertahan, dan kepalanya mulai terasa sakit yang teramat sangat
“Emang kenapa sama
liontinnya, Mark?” Tanya Shane.
“Mark… kamu nggak apa-apa,
kan?” Clariss mulai panic karena melihat Mark memegangi kepalanya dan meritih
kesakitan.
“Waduhh… kenapa dia?
Mendingan kita bawa ke rumah sakit aja, yuk.” Nicky menyarankan.
Akhirnya mereka pun membawa
Mark ke rumah sakit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar