Jumat, 21 Desember 2012

Chapter 8


Chapter 8

Tiba-tiba Jean datang dan langsung mendekati Mark lagi. Tapi kali ini Mark terlihat senang sekali bertemu dengan Jean. Bahkan Mark meminta Jean buat bergabung bersama mereka.
Dan tentu saja Jean sangat senang sekali meskipun dia sempat bingung dengan sikap Mark yang tiba-tiba saja jadi ramah padanya. Sedangkan Clariss hanya diam sambil memanyunkan bibirnya. Karena merasa terganggu dengan  kehadiran Jean.
“Tumben banget kamu nyapa aku. Mark. Biasanya juga kamu cuek banget sama aku.” Keluh Jean pada Mark.
“Masa sih, akunya lagi bad mood aja kali. Makanya aku cuekin kamu.” Balas Mark.
“Kenapa kamu, Clariss?” Tanya Brian yang menyadari gelagat Clariss yang risih.
“Ah, nggak apa-apa kok, Bri. Aku Cuma lagi nyariin Glad aja. Soalnya dari tadi aku belom liat dia.” Kilah Clariss.
Dan Brian hanya membalas dengan, “Oooohhhh…”.
Tiba-tiba Glad dan Lee datang ke kantin untuk makan. Karena dari tadi mereka berdua menghabiskan waktu di perpustakaan mencari bahan materi untuk tugas. Kali ini mereka bisa dengan jelas melihat wajah Lee. Brian bener-bener kaget, karena  wajah Lee sangat mirip dengan Vanno. Mereka bagaikan pinang di belah dua, hanya saja rambut mereka yang berbeda.
“Ya ampun…! Dia bener-bener mirip banget sama Vanno. Iya kan, Clariss!” seru Brian, ekspresi kaget terlihat jelas di wajahnya yang tampan.
“Iya, dia mirip banget. Kok bisa, ya? Setau aku Vanno itu kan nggak punya saudara kembar.” Jawab Clariss.
“Ganteng ya, pantesan aja Glad susah buat move on dari Vanno. Meskipun Vanno udah meninggal dunia.” Timpal Nicky.
“Udah mulai bisa buat move on. Eh, Mark nya malah kayak gitu di tambah tiba-tiba aja cowok yang mirip first love’nya muncul. Pasti Glad bimbang sama galau banget tuh.” Ucap Kian dengan sangat yakin. Padahal sih sebenernya Kian ngomong gitu tuh buat manas-manasin Mark.
“Kalian ini kenapa sih suka nyangkut-nyangkutin aku sama Glad. Aku kan sama dia nggak punya hubungan apa-apa.” Tukas Mark.
Dan tentu saja ucapan Mark itu bikin Jean bingung dan senang dalam waktu yang bersamaan. Tapi meskipun begitu, tetap saja tidak menyurutkan niat buruk dihatinya untuk terus mengganggu Glad.
Hari demi hari Glad dan Lee pun makin dekat dan akrab. Begitu juga Mark dengan Jean, meskipun sedikit demi sedikit Mark mulai mengingat tentang Glad. Tapi karena keakraban Glad dan Lee, Mark hanya diam saja. Tidak memberitahu siapapun bahwa dirinya mulai bisa mengingat kembali termasuk tentang Glad. Yang masih tempat istimewa di hatinya sampai kapanpun. Mark beranggapan bahwa Glad sudah benar-benar menutup pintu hatinya, apalagi sejak kehadiran Lee yang wajahnya mirip Vanno. Mark makin kuat dan yakin untuk menyembunyikan tentang kesembuhan dan tentang ingatannya yang sudah mulai kembali.
Sore itu selesai kuliah Lee mengajak Glad pergi berjalan-jalan keliling kota dengan motor sport kesayangannya. Lelah berjalan-jalan mereka berdua mutusin buat beristirahat di sebuah kafe. Dan ketika masuk, Glad melihat pemandangan yang membuat hatinya kembali terasa sakit. Entah rasa sakit yang sudah keberapa kali ini. Iya, Glad melihat Mark sedang bersama Jean. Mereka berdua terlihat sangat mesra sekali. Sesekali Mark berbisik di kuping Jean, dan Jean pun tertawa malu-malu.
“Tuhan, kenapa hati aku terasa teramat sangat sakit melihat semua ini?” ucapnya dalam hati,
“Glad, ayo kita masuk?”. Tiba-tiba suara Lee membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya.” Ucapku sambil mengikuti Lee menuju meja yang dipilihnya.
Untunglah Lee memilih meja yang jauh dari meja Mark dan Jean. Dan kami berduapun tidak perlu untuk melewati meja mereka berdua. Apa Lee tahu apa yang aku pikirkan? Entahlah yang jelas hari ini dia sudah menyelamatkan aku.
“Kamu mau pesen apa?” Tanya Lee padaku.
“Hmm, apaan, ya? Aku mau mashed potato sama chicken mayonnaise minumnya mineral water aja. Kamu makan apa?” tanyaku pada Lee.
“Makanan yang kamu pesen itu kesukaan aku. Kamu juga suka, ya? Kok bisa samaan sih. Hehehe… ya udah aku pesenin dulu, ya.” Ucapnya sambil beranjak dari kursi.
Beberapa saat kemudian Lee pun kembali. Sambil menunggu pesanan datang , kami berdua mengobrol banyak hal sambil bercanda. Aku berusaha untuk menganggap bahwa tidak ada Mark dan Jean di tempat ini. Dan akhirnya pesanan kami berduapun datang.
“Hmm, baunya enak banget nih.” Ucap Lee sambil mendekatkan hidungnya pada makanannya.
“Kamu kayak kucing, ihh.” Ucapku sambil menahan tawa melihat tingkah Lee.
“Nggak apa-apa. Kucingkan lucu, kamu suka, kan?” ucapnya dengan nada menggoda .
“Nggak, aku sukanya hamster.” Jawabku.
“Tapi kan lebih lucu kucing.” Balasnya.
“Tapi, aku nggak suka. Aku sukanya hamster, Lee. Udah ahh, kita makan aja, nanti keburu dingin lagi makanannya.” Ucapku sambil mulai makan.
“Iya, iya, aku juga makan.” Ucapnya seperti anak kecil.
Tanpa di sadari ternyata Mark dari tadi memperhatikan mereka. Dengan tatapan yang marah, sedih dan kecewa yang campur aduk.
“Harusnya aku yang ada di samping Glad sekarang ini, bukan dia. Lalu senyuman dan tatapan yang indah itu buat aku. Tuhan, apa yang harus aku biar Glad bisa kembali lagi sama aku? Karena aku yakin banget kalau sebenarnya Glad punya perasaan yang sama dengan aku. Kenapa ingatanku baru kembali sekarang? ” keluh Mark dalam hati.
“Mark, kok bengong, sih? Abisin dong makanannya.” Tiba-tiba Jean berbicara.
“Aku udah kenyang, Jean. Kita pulang aja.” Ucap Mark sambil beranjak pergi.
“Mark… tungguin dong. Kamu kenapa, sih?” ucan Jean dengan kesal sambil menngikuti Mark.

Huh… untung saja mereka berdua pergi juga, ucap Glad dalam hati.
Setelah makan Lee mengantarkan Glad pulang. Selama ini Lee hanya mengantar Glad sampai depan rumah saja. Meskipun Glad sudah berulang kali memintanya untuk mampir, Lee selalu menolak dengan alasan karena ada hal yang harus di kerjakannya.
“Aku pulang.” Ucapku dengan lemas.
“Dari mana sayang? Jam segini baru pulang?” Tanya Mandy pada putrinya.
“Abis jalan-jalan sama Lee, Mom.”
“Kok nggak mampir dulu sih?” Mandy bertanya.
 “Ya, nggak tau, Mom. Bilangnya sih ada yang mau di kerjain atau apalah itu aku nggak tau. Eh, Daddy sama Kak Leon kemana, Mom?” ucapku sambil mencomot sepotong cheesse cake buatan Mommy yang baru di angkat dari oven.
“Mereka berdua bakalan pulang terlambat. Tapi, Glad, apa nggak aneh kok Lee nggak pernah mau mampir, sih? Nggak mungkin kalau takut sama Daddy dan kakakmu,” ucap Mandy.
“Nggak tau ah, Mom. Dia tuh aneh, kadang Glad suka mikir kalau dia tuh nyembunyiin sesuatu gitu. Masa iya harus Glad selidikin, sih.” Jawabku.
“Oh, gitu ya. Heh, mandi dulu gih sana jangan makan aja.” Tegur Mandy.
“Hehehe… abis cheesse cake buatan mommy enak banget, sih. Ya udah, kalau gitu Glad ke kamar dulu, ya.” Ucapkku sambil beranjak pergi menuju ke kamar.
Sesampainya di kamar aku nggak langsung mandi melainkan langsung duduk melamun di meja belajarku. Dan aku melihat kotak pemberian dari Mark sebelum dia mengalami kecelakaan itu. Aku mengeluarkan liontin itu dari kotaknya dan memandanginya. Tanpa terasa mataku mulai panas dan air mataku pun jatuh.
“Mark… apa harus aku mengembalikan liontin ini sama kamu? Jean yang pantas memakainya, bukan aku. Karena aku bukan siapa-siapanya kamu. Karena akan percuma saja, toh aku bilang kalau aku sadar selama ini aku cinta dan sayang sama kamu. Kamu nggak mengingat aku sedikit pun. Jadi untuk apa aku terus menyimpan liontin ini. Hanya akan membuat hatiku sakit.” Ucap Glad sambil terisak.

Keesokkan harinya. Karena hari Minggu Glad memutuskan buat pergi ke Dublin Circuit saja. Karena Mike memintanya untuk datang. Ada hal yang ingin ia sampaikan selain meminta Glad untuk melakukan test drive motornya.
“Oh iya, Glad, bakalan ada balapan di Spanyol dan Italia bulan depan. Apa kamu mau ikutan? Kompetisinya berlangsung selama 2 bulan, dan race’nya bakalan berlangsung di Muggelo Circuit Italia, Catalunya Circuit dan Valencia Circuit di Spanyol.” Jelasnya.
“Seriusan… Aku mau banget ikutan Mike. Aku pengen buktiin dan nunjukkin kalau cewek juga bisa berkompetisi di ajang superbike.” Jawabnya senang.
“Tapi Glad, kita bakalan pergi selama dua bulan, lho. Nanti mau bilang apa sama keluarga kamu?” Mike memberitahu.
“Bulan depan, kan? Aku bisa minta tolong sama Kak Leon, Mike. Kakak pasti bantuin kok.” Glad menyakinkan.
“Ya sudah kalau gitu. Masih ada waktu kok. Gimana kalau sekarang kamu cobain motor baru ini. Kalau ada yang kurang sreg settingannya kan ketahuan.” Lanjut Mike.
“Oke, kalau gitu aku ganti baju dulu, ya.” Aku pun pamit dan pergi menuju ruang ganti.

Setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus balapan, aku pun langsung ke lintasan dan memacu motor kesayanganku dengan kecepatan tinggi. Dan aku benar-benar puas dengan hasil kerja Mike dan teamku. Test drive hari itu berjalan lancar, tanpa insiden sedikitpun. Sejak hari itu Glad lebih banyak menghabiskan waktunya di sirkuit daripada berkumpul bersama teman-temannya. Bahkan sudah beberapa kali Glad tidak masuk kuliah, karena harus bolak balik Irlandia-Spanyol-Italia.

Hari itu Glad tidak masuk kuliah lagi. Mark pun mulai menanyakan keberadaan Glad yang jadi jarang masuk. Saat itu mereka berkumpul di taman yang berada di kampus.
“Clariss, kok aku perhatikan kamu sekarang sendiri aja. Biasanya kan suka sama Glad.” Tanya Mark.
“Ah, iya, dia lagi sibuk, Mark. Katanya sih, hari ini dia mau datang ke kampus, dia mau cuti dulu.” Jawab Clariss.
“Glad mau cuti kuliah? Kenapa emangnya?” Nicky ikutan tanya.
“Bulan depan dia mau pergi ke Spanyol sama Itali untuk waktu yang cukup lama.” Jawab Clariss.
“Jangan bilang dia mau pergi kesana buat ikutan balapan!” ucap Brian yakin.
“Apa, Bri? Balapan?” Mark terheran-heran mendengar ucapan Brian.
“Kamu nggak tau ya, Mark. Sebenernya Glad itu pembalap. Bahkan beberapa waktu yang lalu Glad sempet mengalami kecelakaan. Yang pertama sebelum kamu kecelakaan dan yang terakhir ketika kamu masih menjalani perawatan di rumah sakit,” Nicky menjelaskan.
“Dan keadaan Glad sekarang tidak sebaik waktu itu.” Shane menambahkan.
Mendengar semua itu Mark merasakan sakit di hatinya. “Eh, iya, aku mau minta tolong sama kalian bisa nggak?”
“Minta tolong apaan, Mark?” Tanya Kian.
“Bantu aku buat cari orang yang sudah mendonorkan ginjalnya buat aku. Mom bilang kalau kecelakaan itu merusak total salah satu ginjal aku. Waktu aku tanya siapa yang udah mendonorkan ginjalnya buat aku Mom nggak mau bilang. Padahal aku pengen banget ngucapin terima kasih karena berkat dia aku masih bisa hidup sampai detik ini.” Jelas Mark.
Tiba-tiba mereka melihat Glad keluar dari ruang tata usaha. Dia datang ke kampus untuk mengurus surat-surat pengajuan cutinya. Wajahnya terlihat agak pucat dan sangat kelelahan sekali.
“Eh, Glad tuh. Kok lesu gitu, ya?” Shane memberitahu.
“Glad……..” Clariss memanggil sahabatnya itu sambil melambaikan tangannya.

Lalu Glad pun menghampirinya.
“Kalian ini, ya, di perhatiin kerjaannya nongkrong mulu. Kapan belajarnya.” Ucapku ketika sampai ditempat mereka berkumpul.
“Yeee… Sok tau nih. Kamu aja yang nggak tau. Kita kan ngumpul kayak gini kalau pas jam kosong aja.” Brian berkilah.
“Hahaha… iya, iya, percaya, kok.” Jawabku sambil tertawa.
“Glad, kamu katanya cuti dulu ya kuliahnya?” Kian bertanya.
“Iya, abis kalau sambil kuliah aku jadi kurang focus sama yang aku kerjain sekarang.” Jawabku.
“Biar bisa lebih focus sama balapan maksudnya?” timpal Nicky.
“Eh… kok kalian tau, sih. Pasti Clariss yang kasih tau, ya.” Ujarku.
“Nggak juga, kok. Pas kamu yang kecelakaan beberapa waktu yang lalu kita tau, kok. Soalnya kita juga ada di rumah sakit lagi nengokin Mark, kamu inget, kan?” Tanya Shane.
“Oh, iya. Aku inget.” Jawabku sambil mengangguk.
“Eh, iya, tumben kamu sendirian. Biasanya kan kemana-mana suka berdua sama Lee. Kok sekarang sendirian, sih? Eh, kamu sama dia udah jadian, ya?” Tanya Clariss sambil sedikit menggodanya.
“Idihh, kata siapa aku udah jadian sama Lee. Kita Cuma temen deket aja kok. Dan kalau sekarang aku sendiri itu karena udah beberapa hari ini Lee menghilang nggak tau kemana. Tapi itu bukan urusan aku. Oh iya, Mark, aku pengen mengembalikan ini sama kamu.” Ucapku sambil mengeluarkan kotak berisi liontin yang diberikannya beberapa waktu yang lalu.
Mark mengambil kotak tersebut dari tangan Glad sambil mengernyitkan dahinya, “Kotak apa ini?”
“Kamu pasti bakalan tau isi dari kotak itu apaan. Aku Cuma mau bilang, orang yang pantas buat memilikinya bukan aku tapi Jean. Oke, kalau gitu aku pergi dulu, ya. Ada yang harus aku selesaikan. Bye.” Aku pun pamit dan buru-buru pergi dari tempat itu.
Sepeninggalan Glad, Mark pun hanya memandang kotak itu. Sampai akhirnya membukanya dan terpaku melihat isi kotak tersebut. Mark langsung ingat, dengan amat sangat jelas sekali. Liontin yang ada di dalam kotak itu dia berikan pada Glad sebelum kecelakaan itu terjadi. Liontin yang di belakangnya terukir nama Glad dan namanya.
“Liontin ini…” ucap Mark tertahan, dan kepalanya mulai terasa sakit yang teramat sangat
“Emang kenapa sama liontinnya, Mark?” Tanya Shane.
“Mark… kamu nggak apa-apa, kan?” Clariss mulai panic karena melihat Mark memegangi kepalanya dan meritih kesakitan.
“Waduhh… kenapa dia? Mendingan kita bawa ke rumah sakit aja, yuk.” Nicky menyarankan.

Akhirnya mereka pun membawa Mark ke rumah sakit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar