Chapter 6
Ruangan Mark...
Glad menangis melihat keadaan Mark. Dia dihinggapi perasaan
yang sangat bersalah...
“Mark, maafin aku Mark. Maaf, karena selama ini sikap aku selalu nyakitin kamu. Selama ini aku membohongi perasaan aku sama kamu, Mark. Sebenarnya, aku bener-bener cinta dan sayang banget sama kamu. Alasan kenapa aku selalu bersikap dingin sama kamu, itu karena aku nggak pantas dapetin cinta dan kasih sayang dari kamu, Mark. Aku juga takut kehilangan lagi, don’t leave me, Mark“ Glad menangis terisak sambil terus menggengam tangan Mark.
Di luar ternyata teman-temannya sudah datang.
“Mark, maafin aku Mark. Maaf, karena selama ini sikap aku selalu nyakitin kamu. Selama ini aku membohongi perasaan aku sama kamu, Mark. Sebenarnya, aku bener-bener cinta dan sayang banget sama kamu. Alasan kenapa aku selalu bersikap dingin sama kamu, itu karena aku nggak pantas dapetin cinta dan kasih sayang dari kamu, Mark. Aku juga takut kehilangan lagi, don’t leave me, Mark“ Glad menangis terisak sambil terus menggengam tangan Mark.
Di luar ternyata teman-temannya sudah datang.
“Keadaan Mark gimana?“ tanya Shane.
“Mark masih kritis, Shane,“ jelas Clariss.
Lalu mereka memperhatikan keadaan di dalam lewat kaca. Mereka melihat cinta pada Glad. Cinta yang selama ini sukses di sembuyikan dari semua orang.
“Glad, ternyata punya perasaan yang sama kayak Mark, ya,“
Nicky memecah keheningan.
“Dia sukses menutupinya dari kita semua. Termasuk aku
kakaknya,“ ujar Leon.
Sudah dua hari tapi Mark belum juga sadarkan diri. Dan Glad
selama dua hari itu nggak mau ninggalin Mark sedetik pun. Barulah Glad mau
pergi karena balapannya akan dilaksanakan sore itu. Meskipun kondisi tubuh Glad
belum benar-benar pulih, dia berhasil memenangkan kejuaraan itu. Meskipun
begitu Glad merasa tidak senang, karena keadaan Mark belum membaik. Glad pun
kembali menghabiskan hari-harinya di rumah sakit menunggui Mark. Kedua orang
tua Mark sudah meminta Glad untuk pulang dan beristirahat, tapi dia nggak mau
dan tetep maksa buat jagain Mark.
“Glad, sayang. Sebaiknya kamu pulang. Biar Tante yang
jagain, Mark,“ bujuk Mary.
“Nggak apap-apa, kok. Glad masih
kuat, Tan.“
“Ya sudah, kalau begitu Tante pulang dulu, ya. Nanti sore, Tante
kesini lagi.“
“Iya, Tante. Hati-hati di jalan, ya.“
Setelah ibunya Mark pulang. Tinggalah Glad sendiri. Glad
juga mendapatkan penjelasan tentang keadaan Mark. Menurut dokter, Mark
membutuhkan donor ginjal, karena kecelakaan itu membuat salah satu ginjalnya
tidak berfungsi dan ginjal yang satunya lagi sudah melemah kinerjanya.
Diam-diam Glad pun mengajukan diri untuk jadi pendonor ginjal bagi Mark. Dan
setelah menjalani test ternyata ginjalnya cocok. Operasi transplantasi ginjal
akan segera dilakukan setelah ada ijin dari orang tua Mark.
Beberapa jam sebelum operasi di mulai.
“Tante, Glad boleh minta tolong, nggak?“
“Apa itu, Glad?“
“Glad mohon jangan cerita sama siapun tentang ini. termasuk
sama Mark. Glad mohon, Tante.“
“Iya, Glad. Tante usahakan.“
“Iya, Glad. Tante usahakan.“
“Makasih, Tante.“ ucap Glad.
“Tapi, Glad. Masih ada waktu buat membatalkannya. Biar kami
cari orang lain aja,“
“Nggak Tante, tekad aku sudah bulat, kok. Glad ikhlas
ngelakuin ini.“
Mark dan Glad pun dibawa ke ruang operasi. Proses
transplantasinya berhasil, setelah menghabiskan waktu selama 3,5 jam. Karena
harus menjalani pemulihan selama seminggu Glad pamit sama mommy dan daddy‘nya
bilang ada tugas kuliah dan harus pergi ke London.
Seminggu kemudian Glad pun diperbolehkan pulang. Karena keadaannya sudah membaik. Hari itu teman-temannya Mark datang menjenguk, karena mark sudh sadar. Ketika sedang asyik bercanda datanglah Glad. Tapi, Mark tidak ingat sama sekali tentang Glad.
“Hai, semuanya kayaknya aku ganggu, nih.“ ucap Glad sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.
“Nih, Mark. Princessnya udah dateng,“ goda Kian.
Seminggu kemudian Glad pun diperbolehkan pulang. Karena keadaannya sudah membaik. Hari itu teman-temannya Mark datang menjenguk, karena mark sudh sadar. Ketika sedang asyik bercanda datanglah Glad. Tapi, Mark tidak ingat sama sekali tentang Glad.
“Hai, semuanya kayaknya aku ganggu, nih.“ ucap Glad sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.
“Nih, Mark. Princessnya udah dateng,“ goda Kian.
“Apaan sih, Ki.“ ucap Glad dengan pipinya yang memerah.
“Kamu, siapa?“ tanya Mark tiba-tiba.
“Idih, pake pura-pura nggak kenal lagi.“ Nicky berkata
sambil menepuk bahu Mark.
“AKU SERIUS. AKU NGGAK KENAL SAMA CEWEK INI,“ ucap Mark
lantang.
Mendengar itu mereka semua langsung terdiam. Glad merasakan
sakit yang teramat sangat dihatinya mendengar perkataan Mark.
“Oh, maaf udah ganggu. Permisi.“ ucap Glad dengan suara
tertahan dan langsung pergi dari ruangan Mark.
“Glad... Tunggu dulu.“ ucap Brian sambil menarik tangan
Glad.
“Biarin aku pergi, Bri,“ berusaha melepaskan pegangan tangan
Brian.
“Mark lagi becanda kali.Glad.“ Brian meyakinkan.
“Mana mungkin, Bri. Mark lagi nggak becanda. Aku bisa liat
dari sorot matanya, Bri. Sorot matanya beda, nggak kayak dulu. Nggak ada cinta
buat seorang Glad disana. Aku ini udah jadi orang asing, Bri. Aku...“ Glad tak
sanggup meneruskan kata-katanya. Hanya menangis menangis dan menangis.
“Udah, Glad. Jangan
nangis. Aku pasti bakalan tanya ke dokter kenapa Mark bisa sampai gini. Udah,
ya, jangan nangis lagi.“ ucap Brian menenangkan sepupunya itu.
“Nggak usah, Bri. Lebih baik aku pergi dari sini.“
“Mau aku antar pulang?“
“Nggak usah, Bri. Aku mau ke sirkuit dulu.“
“Sirkuit?“ ucap Brian bingung.
“Nggak, lupain aja. Aku pergi, ya. Bye.“
Glad buru-buru pergi dari situ karena pasti Brian bakalan tanya macem-macem. Sepeninggalan Glad, Brian kembali ke kamar Mark sambil komat kamit nggak jelas.
“Kamu kenapa? Datang-datang sambil komat kamit nggak jelas
gitu. Ada apaan? Glad udah pulang?“ tanya Shane.
“Udah, tapi dia bilangnya mau ke sirkuit. Ngapain coba?“
jawab Brian.
“Cewek tadi temen kalian, ya? Kok aku nggak kenal sama dia
sih,“ sambung Mark.
“Wah, parah kamu, Mark. Kamu masa nggak inget sedikitpun
tentang Glad.“ tegur Kian.
“Udah-udah, Mark belum sehat, Ki. Ya udah kalau gitu aku pergi dulu, ya,“ sambung Brian.
“Kamu mau kemana, Bri?“ tanya Nicky.
“Udah-udah, Mark belum sehat, Ki. Ya udah kalau gitu aku pergi dulu, ya,“ sambung Brian.
“Kamu mau kemana, Bri?“ tanya Nicky.
“Ke sirkuit. Mau cari Glad, siapa tau dia beneran ada
disana. Aku pergi, ya. Bye.“ pamitnya.
Dublin
Circuit.
“Glad, yakin mau test
drive? Soalnya kamu keliatan kacau banget.“ tegur Mike.
“Aku nggak apa-apa, kok. Kita mulai test drive‘nya aja sekarang, yuk.“ ajak Glad.
Glad pun menuju ke start line untuk bersiap-siap. Jujur pikirannya saat ini benar-benar kacau. Perform‘nya kali ini benar-benar tidak sepertin biasanya, Mike pun khawatir. Brian sampai juga di sirkuit. Dan melihat ada yang sedang test drive. Brian berkeliling mencari-cari sosok Glad tapi dia tidak menemukannya.
“Aku nggak apa-apa, kok. Kita mulai test drive‘nya aja sekarang, yuk.“ ajak Glad.
Glad pun menuju ke start line untuk bersiap-siap. Jujur pikirannya saat ini benar-benar kacau. Perform‘nya kali ini benar-benar tidak sepertin biasanya, Mike pun khawatir. Brian sampai juga di sirkuit. Dan melihat ada yang sedang test drive. Brian berkeliling mencari-cari sosok Glad tapi dia tidak menemukannya.
Sampai tiba-tiba Glad tergelincir di tikungan. Brian pun
ikutan melihat kejadian itu dari dekat. Pas helmnya di buka Brian kaget bukan
main waktu mengetahui pembalap yang terjatuh itu adalah sepupunya.
“Glad...“ pekik Brian.
“Glad harus dibawa ke rumah sakit.“ ucap Mike.
Mendengar itu Brian langsung memangku Glad dan membawanya ke
rumah sakit di temani Mike. Ketika Glad dalam perjalanan menuju UGD mereka
bertemu Shane, Nicky dan Kian. Melihat itu mereka bertiga mengurungkan niatnya
untuk pulang.
“Bri, Glad, kenapa?“ tanya Kian.
“Jatuh dari motor,“ jawab Brian datar.
“Kamu ketemu dimana?“ Shane yang penasaran ikutan bertanya.
“Di sirkuit. Glad pembalap.“ jelas
Brian tanpa ekspresi.
Lalu Mike menghampiri, “Udah hubungi Leon?“
Brian mengangguk. Beberapa saat kemudian Leon datang bersama
Clariss.
“Mike, Glad gimana?“ Leon langsung bertanya pada Mike.
“Dokter masih di dalem, motornya tadi tergelincir pas di
tikungan. Glad pasti tidak fokus.“ jelas Mike.
Tiba-tiba dokter pun keluar.
Tiba-tiba dokter pun keluar.
“Dok, keadaan adik saya gimana?“
“Bersyukurlah, tidak ada yang parah. Hanya memar saja. Sore
ini juga sudah boleh pulang.“
“Oh iya, dok. Dokter juga menangani pasien yang bernama Mark Feehily, kan?“ tanyaBrian.
“Benar, dia pasien saya.“
“Oh iya, dok. Dokter juga menangani pasien yang bernama Mark Feehily, kan?“ tanyaBrian.
“Benar, dia pasien saya.“
“Saya cuma mau tanya. Tadi kan sepupu saya datang
menengoknya. Tapi, anehnya Mark sama sekali lupa dan bilang nggak kenal sama
sekali. padahal mereka berdua itu akrab sekali.“ jelas Brian pada sang dokter.
“Benturan dikepalanya sangat keras. Saya sudah menjelaskan
ini pada keluarganya, bahwa Mark akan mengalami amnesia. Tapi hanya sebagian
saja memory‘nya yang akan hilang,“ jelas sang dokter.
“Tapi, apakah ingatannya bisa kembali seperti semula?“ tanya shane.
“Tapi, apakah ingatannya bisa kembali seperti semula?“ tanya shane.
“Tentu saja bisa, tapi tidak bisa secara langsung,“
jelasnya.
“Syukurlah.“ sambung Kian.
Lalu dokter itu pun pamit. Sore harinya Glad pun di perbolehkan pulang. Leon pun memperingatkan adiknya kalau hal ini terulang lai, dia akan memberi tahu mommy dan daddy tentang profesi Glad yang menjadi seorang pembalap.
Akhirnya Mark pun
sembuh dan kembali masuk kuliah. Dan Glad kembali seperti dulu. Menghindari
Mark. Seperti saat itu di kantin, Glad sekarang memilih untuk tidak duduk
bersama anak-anak Westlife.
Glad terus saja memandangi Mark dari jauh.
“Mungkin ini balasan atas semua perlakuan aku sama Mark dulu.“
“Kamu ngomong apasih, Glad?“
“Disaat aku benar-benar sadar bahwa aku cinta dan sayang
sama Mark. Kamu liat sendiri, kan!“
“Mungkin ini ujian buat kalian berdua.“
“Kalau begini aku lebih baik terus bersikap dibgin sama
dia.“
“Kamu ngomong apa, sih. Aku yakin Mark pasti masih mencintai
kamu.“
“Nggak, Clariss. Mark nggak cinta sama aku.“ Glad langsung
pergi dari situ ambil menangis.
Anak-anak Westlife
ternyata memperhatikan. Nicky menghampiri Clariss.
“Glad, kenapa?“ Tanya Nicky sambil duduk di samping Clariss.
“Biasa, Nick. Glad masih terus menyalahkan dirinya sendiri.
Glad benar-benar menyesal.“
“Kita juga lagi berusaha buat balikin lagi ingatan Mark.“
“Kita juga lagi berusaha buat balikin lagi ingatan Mark.“
Glad mutusin buat pergi ke perpustakaan aja. Dalam
perjalanan menuju perpustakaan tiba-tiba Glad bertabrakan dengan seorang cowok.
“Sorry, kamu nggak
apa-apa, kan?” cowok tersebut meminta maaf.
“Nggak apa-apa, kok” ucap Glad sambil mengusap-usan
lengannya. Dan ketika Glad menegakan wajahnya menghadap cowok itu Glad langsung
mematung.
“Vanno…!!” ucap Glad dalam hati.
“Hey, kamu nggak apa-apa, kan?” Tanya lagi si cowok.
“Nggak mungkin. Vanno udah nggak ada. Vanno udah meninggal,”
Glad menyakinkan hatinya dan berusaha untuk mengendalikan diri dan emosinya.
Sang cowok pun
kebingungan melihat Glad yang terpaku dihadapannya.
“Seriusan kamu nggak apa-apa? Soalnya wajah kamu terlihat
pucat.”
“Nggak apa-apa, kok. Aku baik-baik aja. Permisi.” Pamit Glad
pada sang cowok.
Tapi ketika akan pergi si cowok menahannya.
“Eh, tunggu dulu. Kamu tau nggak di mana ruang tata usaha?
Soalnya aku baru di kampus ini.”
“Oh, kamu anak baru. Dari sini lurus aja terus belok kanan.
Ada tulisannya, kok. Ya udah aku permisi dulu, ya.”
“Eh, tunggu-tunggu. Kamu bisa antar aku kesana nggak?”
“Oh, ok. Yuk.” Ajak Glad pada sang cowok.
Dalam perjalanan menuju ke ruang tata usaha.
“Kenapa cowok ini punya wajah yang mirip sama Vanno?? Wajah
itu dan mata itu… Sama seperti yang di miliki Vanno!! Tuhan… Cobaan apalagi
ini?? Kenapa di saat aku mulai mencitai Mark, meskipun saat ini Mark tidak
ingat apa-apa. Aku tetep cinta sama dia, tapi kenapa sekarang tiba-tiba mucul
cowok yang mirip dengan Vanno?”
“Hey, kamu kenapa, sih? Dari tadi melamun terus?”
“Ah, nggak apa-apa, kok.”
“Oh iya, kita belum kenalan. Nama aku Lee, kamu siapa?”
ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
“Aku Glad.” Ucapnya sambil membalas uluran tangan Lee.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar