Jumat, 21 Desember 2012

Chapter 5


Chapter 5

“Tapi, de...“ Leon menolak.
“Kak, kalau di kompetisi nanti Glad kalah, Glad janji bakalan berhenti. Tapi, sebaliknya kalau menang ijinin Glad buat menekuni dunia balapan,“ Glad memberikan tawaran pada kakaknya itu.
Akhirnya Leon cuma bisa mengangguk lemah mendengar penawaran adik kecilnya iti sambil tersenyum simpul.
“Makasih banyak, ya, kak. Glad bener-bener sayang sama kak Leon,“ ucap Glad sambil memeluk erat kakaknya. Beberapa hari tidak bertemu Glad bener-bener merindukan kakaknya ini. Apalagi berada dipelukan Leon rasanya sangat hangat dan nyaman.
“Ya udah, kalau gitu kamu istirahat lagi aja gih.“
“Oh iya, kak. Ini cincin yang kakak pesen udah Glad ambilin. Clariss pasti suka banget. Sukses ya kk. Fighting \(^,^)/ ,“ Glad memberi semangat pada kakaknya itu dengan gerakan tubuh yang lucu.
Leon tersenyum sambil mengacak-acak rambut adiknya itu,“ Kamu tuh ada-ada aja. Ya udah kakak kebawah dulu, ya.“ Setelah mengecup kening adiknya itu Leon langsung keluar dari kamar adiknya. Meskipun sebenarnya Leon benar-benar khawatir dengan keadaan adik tersayangnya itu.

Malamnya Leon pergi menemui Clariss. Awalnya Clariss nggak mau menemui Leon. Tapi,akhirnya Clariss menyerah dan mau menemui Leon. Malam itu Leon mengajak Clariss buat candle light dinner romatis di sebuah restoran mewah. Tempatnya sangat romantis sekali apalagi diiringi oleh aluna suara piano dan biola. Bener-bener romantis banget.
“Kak, tempatnya bener-bener indah“ ucap Clariss dengan mata yang berbinar-binar.
“Kamu suka tempatnya?“
“Banget, kak.“ jawab Clariss sambil tersenyum manis.
“Clariss,“ panggil Leon sambil menggenggam mesra tangan Clariss, “Aku minta maaf, ya. Karena membiarkan kamu larut karena kesalahpahaman ini.“
“Udahlah, kak. Kita lupain aja semuanya, ya.“ ucap Clariss sambil tersenyum.
“Makasih, honey. Oh iya aku punya sesuatu, tapi tutup matanya, ya.“ pinta Leon.
“Sesuatu apaan? Mesti tutup mata segala?“ Tanya Clariss penasaran.
“Pokoknya sekarang tutup aja matanya.“ perintah Leon
Leon pun mengeluarkan kotak cincinnya. Lalu segera menyematkan cincin tersebut di jari manis kekasih tercintanya.
“Sayang, kamu boleh buka mata sekarang,“ pinta Leon.
Clariss pun membuka perlahan kedua matanya. Betapa terkejutnya Clariss ketika melihat ada sebuah cincin yang indah melingkar di jari manisnya.
“Kak, cincinnya indah banget,“ ucap Clariss dengan mata yang berbinar-binar.
“Syukurlah, kalau kamu suka. Cincin ini sebagai bukti, kalau aku bener-bener cinta dan sayang banget sama kamu. Cuma kamu satu-satunya wanita dalam hidup aku, Clariss.“ Leon berkata sambil menatap mesra dan penuh kerinduan pada kekasihnya ini. Lalu, Leon mendaratkan sebuah ciuman di bibir Clariss.
“I love you so much, Clariss. No reason and no except.“
”I love you too.”
Mereka pun kembali berciuman mesra. Setelah itu mereka berdua melanjutkan acara mereka berdua dengan jalan-jalan keliling kota pada malam hari. Sampai pada akhirnya Leon mengantarkan Clariss pulang.

Keesokan harinya, Glad pergi kuliah di antar Leon. Padahal Glad nggak mau di antar, tapi kakaknya itu tetap memaksa. Apalagi setelah tahu kondisi adik kecilnya seperti apa.
“De, nanti kakak jemput, ya.“ ucap Leon dari jendela mobil.
“Nggak usah, kak. Aku mau pulang sendiri aja. Soalnya ke sirkuit dulu,“ tolak Glad.
“Pokoknya kakak jemput, sekalian jemput Clariss juga, sih. Hehehe.“
“Iya udah. Glad masuk dlu.“
“Eh, tunggu. Nggak lupa sesuatu, de?“ panggilnya lagi.

“Apaan, kak?“ membalikkan badan dengan malas.
 “Cium buat kakakmu yg ganteng ini mana?“ ucap Leon sambil menunjuk pipinya.
“Huh, maunya. Nihh...“ ucap Glad sambil mengepalkan tangannya.
“Minta aja sama Clariss, udah ahh masuk dlu. Bye kakak.“ seru Glad sambil beranjak pergi.
Leon hanya tertawa melihat tingkah adiknya itu. Ketika sampai, Glad di datangi lagi oleh Jean dan kedua temannya. Tapi kali ini kedua teman Jean yang bertubuh besar-besar langsung menyeret Glad dengan tiba-tiba.
“Heh, mau apa kalian? Nggak sopan banget, sih. Lepasin tangan gue.“ ronta Glad. Tapi mereka malah semakin kuat mencengkram tangan Glad. Ternyata Jean membawa Glad ke taman yang berada di belakang kampus yang masih sepi. Mereka langsung mendorong tubuh Glad ke pohon. Tentu saja Glad meringis kesakitan.
“Awww...“ teriak Glad kesakitan, lalu membalikan tubuhnya menghadap Jean dan teman-temannya.
“Mau apa kalian?“ tanya Glad sambil memandangi wajah mereka satu per satu.
“Jauhin Mark,“ ucap Jean sambil memegang wajah Glad.
“Lepasin tangan lu dari wajah gue,“ Glad berkata sambil menepis tangan Jean.
Jean pun nyeret tubuh Glad,hingga Glad tersungkur di tanah.
“Lu salah udah berurusan sama gue,“ sambil menunjuk-nunjuk wajah Glad.
“Gue ngg pernah berurusan atau cari perkara sama lu. Yang ada lu yg cari masalah sama gue,“ hardik Glad.
Lalu Jean dan kedua temannya itu mengeluarkan semua benda yang ada di dalam tas Glad. Dan obat milik Glad pun terjatuh.
Glad akan mengambil obat itu, tapi Jean buru-buru mengambilnya.
“Lu butuh obat ini?“ tanya Jean sambil meledek.
Jean dan kedua temannya lalu menginjak-injak obat milik Glad hingga semua obat-obat itu hancur. Glad cuma memandang kejadian itu dengan mata nanar dan marah sekali.

Setelah puas Jean dan kedua temannya itu merasa puas. Mereka bertiga pergi meninggalkan Glad sambil tertawa.
###


Sementara itu, Clariss mencari-cari Glad. Karena pada saat jam kuliah pertama sahabatnya itu nggak ada. Clariss menghampiri anak-anak Westlife yang kebetulan ada di taman depan kelasnya.
“Hai, guys. Kalian ada yang liat Glad, nggak?“ tanya Clariss sambil duduk disamping Kian.
“Hahaha, kamu tuh gimana sih. Glad kan satu kelas dan satu jurusan sama kamu. Kenapa kamu nanya sama kita.“ Jawab Nicky.
“Glad nggak masuk.“ Jawab Clariss.
“Masa sih? Tadi aku liat mobil kak Leon. Pasti abis nganterin Glad, kan“ timpal Brian.
“Tapi, dia nggak ada di kelas.“
“Terus, Glad, kemana?“ Mark berusaha tenang, meskipun terlihat sangat jelas kecemasan diwajah tampannya itu.
Tiba-tiba sosok Glad muncul dari kejauhan. Wajahnya terlihat sangat pucat sekali. Clariss pun langsung menghampiri sahabatnya itu.
“Glad, kamu kemana aja? Kenapa tadi nggak masuk? Kamu baik-baik aja, kan? Wajah kamu pucat banget.“ cerocos Clariss.
“Ihh, bawel, deh. Satu-satu kek nanyanya. Jangan nyerocos gitu. Kayak kereta api,“ protes Glad.
“Maaf, abis aku tuh khawatir banget sama kamu, Glad.“ ucap Clariss dengan menyesal.
“Iya udah, nggak apa-apa kok. Aku juga yang salah. Eh, kita ke kantin yuk,“ ajak Glad pada sahabatnya itu.
Lalu kedua sahabat itu pergi menuju ke kantin. Ternyata anak-anak Westlife udah ada di sana. Clariss pun mengajak Glad untuk bergabung dengan anak-anak Westlife. Dan anehnya kali ini Glad tidak protes seperti biasanya. Bahkan ketika Glad harus duduk di samping Mark pun nggak.
“Glad, kamu keliatan nggak sehat. Kamu baik-baik aja kan?“ tanya Mark lembut dan penuh perhatian. Meskipun dia yakin Glad pasti akan mengacuhkannya seperti biasa.
I‘m ok, Mark. Thanks,“ ucap Glad sambil tersenyum pada Mark. Padahal Glad berbohong.
Tentu saja mereka semua kaget. Karena Glad tidak bersikap jutek pada Mark seperti biasanya. Dan Mark, dia amat sangat bahagia karena akhirnya Glad mau tersenyum sambil memandang wajahnya.

Selesai kuliah Glad dan Clariss berjalan bersama-sama. Karena Leon sudah menunggu mereka di coffee bean shop depan kampus.
“Clariss kamu duluan gih. Aku mau balikin buku dulu ke perpus.“ ucap Glad tiba-tiba ketika mereka hendak menyebrang jalan.
“Ya udah, deh. Cepetan, ya,“ pinta Clariss.
Glad pun langsung masuk kembali ke dalam kampus. Dalam perjalanan menuju kampus Glad bertemu dengan Mark.
“Glad, punya waktu sebentar, nggak?“
“Ada apa Mark?“
Lalu Mark mengeluarkan sebuah kotak. Yang ternyta berisi sepasang liontin berbentuk hati. Yang bisa menempel satu sama lain membentuk hati yang utuh kalau disatukan.
“Ini. Aku pengen kamu memiliki.“ memberikan kotaknya pada Glad.
“Maksudnya apa ini Mark?“
“Kalau kamu udah membuka hati kamu buat aku. Kamu kasih pasangan liotin ini sama aku. Aku nggak perlu jelasin apa-apa lagi. Karena kamu tau perasaan aku sama kamu seperti apa. Oh, iya. Aku duluan, ya. Anak-anak udah nungguin. Kamu hati-hati, ya. Bye“ pamit Mark yang lalu pergi. Glad yang bingung melanjutkan kembali perjalanannya menuju kampus.
Setelah itu Glad buru-buru pergi karena kakak dan sahabatnya udah nunggu. Ketika menyebrang dan posisi Glad sudah ada di tengah jalan. Tiba-tiba ada mobil yang melaju kencang.
Mark yang kebetulan masih ada disitu langsung berlari.
“Glad... Awas,“ teriak Mark sambil mendorong Glad.
Glad terpental ke sisi lain jalan tersebut dan tersungkur. Akhirnya Mark lah yang menjadi korban tabrak lari itu. Glad langsung histeris. Dia pun langsung memeluk Mark yang tergeletak di jalan dengan tubuh berlumuran darah.
“Mark.... Kenapa kamu lakuin ini Mark. Ayo bangun Mark,“ Glad menangis sambil memeluk tubuh Mark.
“G... Glad,“ dengan suara terbata-bata dan tangannya memegang wajah Glad, “A... Aku...“ Mark pun langsung tidak sadarkan diri.
Leon dan Clariss langsung berlari menghampiri Glad. Lalu, mereka membawa Mark ke rumah sakit.
“Mark, kamu harus kuat Mark... Kak, cepetan, kak,“ Glad meminta kakaknya untuk mngebut.
“Iya, de. Sabar, kakak udah berusaha biar cepat sampai rumah sakit, de,“ Leon ikutan panic.

Selama perjalanan menuju ke rumah sakit Glad terus menerus menangis sambil memeluk Mark.
Leon dan Clariss sempat kaget melihat sikap Glad. Jelas sekali kalau sebenarnya Glad menyimpan perasaan pada Mark.
 Rotundra Hospital....
Mark langsung di tangani oleh dokter. Begitu juga dengan Glad yang mengalami memar di tangan dan kakinya saja. Justru yang parah dari keadaan Glad adalah patah tulang dirusuknya.
Dengan tangan yang terpasang selang infus Glad nekat buat mendatangi kamar Mark.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar